Aura hommy tampak bila pengunjung memasuki toko buku impor Quality Buyers (QB) World Books. Toko dengan lebih dari 50 ribu judul buku ini memiliki kafe dengan kapucino yang nikmat. Sofa empuk mengantarkan pengunjung untuk membaca dan mencermati buku-buku berbahasa asing sebelum membungkusnya pulang. Sadar atau tidak, QB mirip Lees Cafe di Leiden, Belanda, yang mengawinkan toko buku, perpustakaan dan kafe. Saat kafe di negeri kincir angin ini mulai membuka gerai di hari Minggu, gereja-gereja langsung melompong karena peserta ibadat lebih suka membaca sambil menikmati hari di Lees Cafe.
Tetapi, jangan harap Anda bisa menyruput kapucino sembari mendengarkan alunan jazz atau blues lagi di QB. Toko buku ini mengumumkan penutupannya: QB World Books closing sale up to 70% off only at QB World Books Sunda Thamrin. Rupanya, masa keemasan QB sudah usai. Mencoba bertahan dua-tiga tahun di tengah iklim pasar yang kurang kondusif untuk bisnis buku impor, QB World akhirnya kehabisan napas. Setelah penutupan QB di Jalan Arteri Pondok Indah, dan cabang yang baru dibuka di Plaza Semanggi, kini giliran QB di Jalan Sunda.
Sebagian orang menyesalkan penutupan toko buku yang merintis percampuran desain toko buku dan kafe. Sedangkan sebagian orang lagi bersorak gembira melihat toko buku milik Richard Oh ini bangkrut. Hal ini terlihat jelas dalam rangkaian diskusi di situs qbworld.com milik QB. Beberapa orang dengan terang menuding bahwa gulung tikarnya bisnis QB ini adalah ulah Richard yang melego gerainya demi menambal ongkos pembuatan film perdananya, Koper. “Adalah bodoh sekali mengatakan QB tutup karena film Koper. Nggak masuk akal bagi saya sampai menyeret QB untuk membuat film itu,” tukas Richard, kesal.
Hitungan bisnis meleset
Hitungan diatas kertas, pasar untuk bisnis buku impor ini lumayan gede. Misalnya saja, segmen yang membutuhkan buku-buku tentang desain grafis, arsitektur, media, interior eksterior maupun manajemen. Maklum, beberapa buku-buku tersebut tidak diproduksi oleh penerbit buku di Indonesia. Karena itu, buku-buku impor masih menjadi referensi penting. “Pasar untuk buku impor ini lumayan besar, kelemahannya hanya kemampuan orang untuk membelinya,” ujar Hendiarto, suplier buku-buku impor.
Dan usai krismon tujuh tahun lalu, Richard membangun QB dengan keyakinan akan kondisi ekonomi yang bertumbuh dari tahun ke tahun. Maka, sejak dibuka tahun 1999, Richard membenamkan semua modalnya untuk membiakkan gerainya. Selain QB, bisnis lain yang dikangkangi Richard antara lain biro iklan NuvoCom Advertising, penerbit buku Metafora dan perusahaan film Metafor Mega Citra. Richard sendiri turun tangan untuk menyeleksi buku yang bakal dipajang dan dijual di toko bukunya. Setiap bulan, tak kurang dari ratusan judul buku keluar di katalog buku terbaru QB. Ia pun melengkapi toko bukunya dengan sofa yang empuk, internet berkecepatan tinggi, diskon untuk buku tertentu dan kapucino nan nikmat.
Demi menciptakan kenyamanan bagi pengunjung, Richard rela menabrak hitungan ekonomi sebuah bisnis, misalnya soal besaran investasi, ongkos operasional setiap bulan, hingga jangka waktu balik modal. “Itu mungkin karena kesalahan saya,” tukas Richard. Segala kenyamanan yang bisa dirasakan pengunjung tak lain karena kecintaan dan impian Richard untuk menciptakan komunitas yang menggemari buku berbahasa asing di Indonesia. “Padahal semua itu memotong pemasukan yang sebenarnya sangat tipis dari penjualan,” ujar penulis buku The Rainmaker’s Daughter ini.
Dan benar, hitungan bisnis ini ternyata meleset. Angka penjualan buku perlahan menuai titik klimaks, cash flow pun mandek sehingga kerugian pun bertumpuk-tumpuk. Keadaan ekonomi saat ini yang melemahkan daya beli masyarakat, ditambah dengan komunitas ekspatriat yang semakin berkurang, membuat pangsa QB pun perlahan tergerus. “Setelah mati-matian mempertahankannya selama lebih dari 2 tahun, kami akhirnya memutuskan untuk berhenti. Kalau tidak, kerugian akan tidak terbendung,” tegas Richard.
Menurut sumber KONTAN, sesungguhnya Richard sudah diingatkan untuk menghentikan ekspansi sejak tahun 2004. Melihat iklim usaha yang di tahun-tahun itu, QB disarankan untuk fokus pada gerai yang sudah ada. Sayangnya, semangat Richard terlalu menggebu-gebu. Juga, dominiasi Richard di QB terlalu besar sehingga tak memunculkan orang-orang baru dari kalangan internal. “Sementara itu, tunggakan pembayaran buku yang menumpuk membuat QB tak disuplai buku baru,” ujar si sumber.
Memang, tak mudah bagi QB bertahan mengongkosi semua gerainya senilai ratusan juta rupiah setiap bulan, sedangkan pemasukan dari penjualan buku tak mampu mencapai angka itu. Taruh kata, dari 100 ragam buku, hanya 20 ragam yang laku terjual. Dus, 20 ragam buku ini harus bisa menutupi ongkos 80 ragam buku lainnya. “Suatu saat nanti saya akan membuka QB lagi dengan model usaha yang lebih kuat,” ucap lelaki kelahiran Tebingtinggi, Sumatera Utara, optimis. Setelah QB dilego habis, Richard akan memfokuskan diri pada penulisan dan membuat film.
Berkubang dalam persaingan
Persaingan dengan gerai-gerai yang menjual buku impor juga menjadi salah satu faktor yang tak terelakkan dalam bisnis yang dilakoni QB. Sejak model toko buku ini digemari oleh pecinta buku di Jakarta, toko-toko sejenis pun mulai bermunculan bak cendawan di musim hujan. Tengok saja, Maruzen, Kinokuniya, Karisma, Aksara dan Periplus. Tentu saja, QB harus membagi kuenya dengan pesaing-pesaing barunya. Bahkan, kue yang semakin mengecil itu masih harus dibagi lagi dengan toko buku lokal seperti Gramedia dan Gunung Agung yang juga menyediakan tempat bagi ceruk basah ini.
Toko buku Aksara, contohnya. Toko buku impor ini memulai bisnisnya dua tahun setelah QB berdiri. Konsep dan target pasar yang dituju Aksara juga sama dengan QB. Koleksi bukunya pun sudah lebih dari 40 ribu judul buku di cabang Cilandak Town Square, Plasa Indonesia, dan Kemang. Sebanyak 90% buku yang ada digerainya adalah buku impor, dan sisanya buku Indonesia. “Banyak sekali pemain yang berminat masuk ke pasar buku impor ini, karena itu, persaingan tetap ada,” ujar Vivian Idris, Head of Marketing Aksara Bookstore.
Vivian pun tak mengelak soal rebutan kue antara gerai yang serupa dengan Aksara, ditambah toko buku lokal yang juga mengimpor buku-buku dari luar. Dengan toko buku lokal, Aksara memang tidak secara langsung head to head. “Tetapi kalau mereka menggerogoti porsi kami, itu benar!” tukas Vivian. Kekahwatiran Vivian bisa dipahami. Soalnya, baru seminggu buku baru mejeng di etalase toko buku impor, seminggu kemudian terjemahannya sudah ada di toko buku lokal, berikut dengan buku aslinya.
Namun, tutupnya tiga gerai QB ini bukan berarti recehan yang masuk ke Aksara semakin besar. Soalnya, “Situasi seperti yang dialami QB ini juga dialami oleh yang lain,” terang Hendiarto. Artinya, imbuh Hendiarto, daya serap konsumen terhadap buku semakin sedikit, sewa gerai semakin mahal, gaji karyawan naik, dan kondisi pasar juga lesu. Hitungan Hendiarto, siklus seperti ini terjadi setiap tiga hingga lima tahun sekali.
“Buku impor yang masuk ke Indonesia itu dihitung sebagai barang mewah, dan pajaknya pun pajak barang mewah!” tandas Vivian. Tak heran, meski kebiasaan membaca di Jakarta dan pasar buku ini sangat besar, tetapi dengan harga yang tinggi maka buku menjadi sebuah barang yang mewah. Apalagi, buku adalah elemen yang bisa ditunda pembeliannya. “Makanya, kami harus pintar mencari celah di bisnis ini,” kata Vivian.
Kalau begitu, selamat bertahan di pasar yang makin sempit!







