Sebuah pesan pendek mampir di telepon seluler milik jurnalis KONTAN. Isinya begini: Saya mau kirim produk sulap yang belum ada di dunia. Murni kreasi saya. Prospek bisnis sangat cerah. Cuma, belum dibisniskan secara besar-besaran. Pesan yang terselip nada promosi itu datang dari Heri Budijanto, produsen perkakas sulap sekaligus pencipta dua trik sulap. Salah satu trik ciptaannya yang sudah dipatenkan adalah Magic T-shirt. Sedangkan yang lainnya adalah trik yang seperti dimaksudkan dalam pesan pendeknya itu, yaitu Magic Bottle.
Magic T-shirt yang dipatenkan Heri bulan Maret lalu adalah soal tebak-tebakan angka. Contohnya, bila Anda memikirkan salah satu angka antara 1-100, maka dengan mudah si pemilik kaos ini akan mengetahui angka berapa yang Anda simpan. Kaos yang dijual antara Rp 90-120 ribu ini ternyata mengundang respon yang mengejutkan. Salah satunya datang dari seorang istri pejabat yang barusaja memamerkan kebolehannya di depan beberapa pejabat dari Jepang dengan kaos buatan Heri. Nah, sebagai buah tangan, si istri pejabat itu pun memesan ulang kaos ajaib pada Heri.
Lain lagi trik Magic Bottle. Disini, Heri mampu menjebloskan batu, bingkai foto, korek api, sebungkus rokok, bahkan semangka, ke dalam sebuah botol. Jika ada yang berminat, Heri membanderolnya Rp 500 ribu-1,5 juta. Temuan Heri ini datang saat situasi ekonomi membelitnya, tahun 1986 silam. Sebagai mahasiswa dan anak kos-kosan, Heri muda harus berpikir keras untuk melipatkan uangnya yang tinggal Rp 2000. Ia pun membeli botol bekas dan mencoba memasukkan barang-barang bervolume itu ke dalam sebuah botol. Merasa berhasil dengan ’tipuan’ yang ia buat, ia pun menjual resep sulap itu seharga Rp 500 di pasar malam. ”Tapi hari ini, sudah ada yang melego hingga Rp 15 juta, tidak lagi saya lepaskan!” ujar Heri.
Bukannya Heri sombong. Rahasia sulap ini adalah kebanggaan para pesulap. Jika rahasia terbongkar dan tak lagi membuat orang penasaran, tentu namanya bukan sulap. Nah, bila Anda tertarik pada ilmu sulap menyulap, gampang saja. Bukan hanya Heri saja yang membikin aneka perkakas sulap. Sejumlah magic-shop hadir di beberapa kota di Indonesia, misalnya saja di Kuta Bali, Jakarta, Jogja dan Makasar. Selain itu, jejaring di dunia maya juga menyediakan warung perkakas sulap ini. Diantaranya, hendramagic.com, davidsmagic.com, warungsulap.com, dan sulap.com.
Lucunya, umumnya para pesulap ini berangkat dari kegemarannya mengotak-atik perkakas sulap. Nyaris tak ada yang menempuh jalur formal untuk bisa bermain sulap. Monsta Akur adalah contohnya. Lantaran didorong oleh temannya yang memaksanya agar bisa menyulap, ia pun mau tak mau belajar sulap. ”Lama-lama, ini menjadi bisnis yang menjanjikan!” ungkap Akur. Dalam seminggu, tiga hingga empat kali McDonald menyewanya untuk beratraksi di acara ulang tahun anak-anak.
Menggali pasar yang sempit
Kendati sulap sangat asyik dimainkan, tetapi tak semua orang berniat membelanjakan uangnya untuk membeli perkakas sulap. Maklum, tak ada harga recehan di alat tipu-menipu ini. Harga paling murah perkakas sulap ada di kisaran puluhan ribu. Paling mahal, jutaan rupiah. Maka, dalam kondisi ekonomi yang carut-marut begini, hanya orang yang benar-benar naksir pada sulap saja yang bersedia membuang uangnya untuk membeli alat-alat ini.
Toh, bisnis ini tetap stabil saja kendati dimotori oleh rasa penasaran orang-orang akan rahasia sulap. Misalnya saja etalase kecil yang dibangun Julian di Mall Discovery Bali, mampu mengundang Rp 2 juta dalam 2 jam saja. Atau, gerai hasil kongsian Heri dengan seorang pesulap di Mall Panakkukang Makasar. Dalam tiga bulan, kios perkakas sulap yang dibangun dengan menghabiskan ongkos hingga Rp 10 juta ini sudah balik modal. ”Bisnis alat sulap lebih laku bila menjemput bola,” ujar Heri. Tak heran, Akur bertahan sejak 2003 dengan Levioza Magic Shop di Toko Buku Gramedia, Jogja.
Keuntungan membuka kios sulap adalah pengunjung bisa mempelajari ilmu sulap ini langsung dari si penjual. Soalnya, buku manual kadang tak cukup mampu menjelaskan aneka trik sulap. Selain itu, penjual pun bisa memajang beragam dagangan mereka yang tak biasa di etalase toko. ”Ada sekitar 200 item di Levioza, dan kami melakukan atraksi sulap disini,” tambah Akur.
Berbeda dengan Hendra Gunawan. Kendati baru akan membangun toko alat sulap tahun depan, Hendra tak berkecil hati dengan toko maya yang dibangunnya. Situs yang dibangun dengan Rp 110 ribu ini mampu melahap tak kurang dari 15 jenis perkakas sulap setiap bulan. Bahkan, alat sulap bernama Elevator yang mampu membuat tubuh melayang di udara, amblas di pasaran sebanyak 5 unit sebulan. Konon, Hendra sendiri yang membuat perkakas ini. Tentu saja, setelah diadaptasi dari produk sejenis dari luar. ”Keuntungan punya toko maya ialah saya tak punya ready stock!” tandas Hendra.
Punya atau tidak punya toko, sesungguhnya bukan persoalan yang gawat. Soalnya, menjalankan bisnis alat sulap di dunia maya dan dunia nyata, semua pesulap sama-sama memperbesar pasar yang masih sempit. ”Tetapi, memang yang paling menguntungkan adalah memproduksi alat sendiri, dan membuka toko alat sulap!” ujar Heri.
Lagipula, untuk stok barang, setiap pesulap ini tak khawatir. Soalnya, setiap pesulap adalah produsen alat sulap. Bila Hendra memproduksi Elevator dan mengklaim mampu mengalahkan Balduci Levitation, King Rising, Zero Gravity, dan I- Levitation, lain lagi yang diproduksi Heri. Ia membuat Magic Book, Magic T-shirt, Magic Ring, Size Surprized, dan Three Card Monte. Magic Book-nya saja sudah terjual 9000 buah.
Layaknya rantai yang tak pernah putus, diantara sesama pesulap juga saling membeli barang-barang yang mereka produksi. Hendra mengambil beberapa barang yang diproduksi Heri. Heri juga membeli beberapa unit alat sulap dari Akur. Namun, bila ada konsumen yang berniat membeli barang dari Heri dan ternyata tak ada stok lagi, hukum bisnis pun berlaku. Heri nempil atau meminjam barang tersebut dari Akur dengan harga yang sama. ”Saya juga begitu, kalau kehabisan, tinggal telepon pesulap lain yang masih punya stok, sekaligus memintanya untuk mengirimkan ke konsumen,” imbuh Hendra.
Menurut hitungan diatas kertas, bisnis ini cukup menguntungkan. Misalnya begini. Sebuah produk dibuat oleh Heri dengan ongkos produksi sebesar Rp 20 ribu. Akur membeli dari Heri, dan menjualnya kembali dengan harga Rp 35 ribu. sesuai kesepakatan sesama pesulap, harga untuk end-user atau konsumen antara Rp 90-120 ribu. maka, Akur berhak menjual kepada pesulap lainnya diatas Rp 35 ribu. ”Ada hitungan bisnisnya, tetapi tetap saja pesulap tak boleh merusak pasar dengan menjual barang untuk konssumen dibawah harga yang sudah disepakati pesulap,” jelas Heri.
Barang andalan Hendra adalah Elevator. Tetapi di situs hendramagic.com ia juga menjual haunted key atau kunci yang mampu bergerak sendiri seiring bayangan tangan seharga Rp 100 ribu dan straight jacket atau trik melepaskan diri dari baju ketat yang terikat seharga Rp 1 juta. Beberapa alat sulap diangkut Hendra dari Jogja hingga Amerika. ”Setiap bulan, saya belanja satu kali, tergantung stok,” ujar Hendra. Menurutnya, jika harus ada barang yang diusung dari luar negeri, setiap pesulap belanja sendiri-sendiri. ”Nggak ada yang importir khusus!” imbuhnya.
Situs lain, yaitu warungsulap.com menjual Flipper Coin yang dibanderol Rp 175 ribu. Trik ini mengajarkan dua buah koin dilemparkan ke udara akan berubah menjadi satu koin saja. Sedangkan davidsmagic.com yang mengklaim dirinya sebagai situs sulap pertama di Indonesia, juga menjual perkakas sulap impor. Contohnya I Levitation seharga Rp 400 ribu yang memungkinkan tubuh melayang setinggi kira-kira 10 cm dari atas permukaan tanah.
Bila konsumen bisa langsung membawa pulang alat sulap yang dibeli dari pusat perbelanjaan, lain pula cara belanja di toko maya. Konsumen memesan melalui SMS dengan menuliskan nama, alamat lengkap dengan kode pos, dan barang yang dipesan. Ongkos kirimnya bervariasi, antara gratis untuk pembelian diatas Rp 300 ribu hingga Rp 20 ribu. Setelah mentransfer sejumlah uang, maka paling lama 1- 3 hari barang akan sampai di tangan konsumen.
Bukan sulap bukan sihir! Berminat menggandakan rupiah Anda? Disini tempatnya!







