05
Mar
07

Bayang-bayang Sepanjang Serpong

Kawasan Serpong kian mencorong. Bukan cuma Sinar Mas saja yang mengangkangi Serpong dengan BSD City-nya, tetapi ada juga Summarecon Serpong. Pengembang Grup Summarecon Agung ini juga tak henti mengembangkan sebagian wilayah Gading Serpongnya. Lalu, masih ada Alam Sutera serta Grup Lippo Karawaci.

Ditambah lagi, Desember lalu, ada pengembang baru yang mencoba peruntungan di kawasan ini, yaitu Paramount Serpong. Pengembang yang menggantikan hak pengelolaan pengembang Ambassador Gading Serpong, segera mengembangkan wilayah Paramount Lakes. Kalau tidak meleset, Paramount berencana membenamkan duitnya hingga Rp 9 triliun untuk mengembangkan proyeknya untuk 20 tahun mendatang.

Munculnya Paramount Serpong ini bukan tanpa alasan. Pengembang ini sejatinya merupakan kerja sama operasi (KSO) antara PT Jakarta Baru Cosmopolitan (JBC) dengan PT Paramount Land Development, anak usaha dari Paramount International Ltd yang bermarkas di Singapura. Hanya, di Singapura sendiri belum terlihat karya Paramount Land di bidang properti. Nah, pembangunan properti di Gading Serpong adalah proyek properti pertama mereka.

Para pengembang membikin sejumlah fasilitas maupun kawasan komersial, seperti BSD Junction Serpong, ITC BSD, area permainan biliar, café, hingga Sumarecon Mall Serpong atau SMS yang rencananya selesai bulan Juni nanti. Belum lagi, ruas jalan Tol TB Simatupang-Bintaro-Serpong yang buka dua tahun lalu memudahkan akses dari Jakarta-Tangerang. Semakin komplit fasilitas umumnya, kawasan Serpong ini semakin menjadi magnet bagi masyarakat untuk memborong properti di kawasan ini.

Yang paling membikin heboh adalah Ocean Park Water Adventure, sebuah taman rekreasi air tematik seluas 8,5 ha. Konon, fasilitasnya setara dengan Ocean Park di Hongkong, Sunway Lagoon di Genting Highlands Malaysia atau Wild Wild Wet di Singapura. BSD bahkan mengklaim Ocean Park hasil rancangan ahli Kanada ini sebagai tempat rekreasi air yang terbesar di Asia Tenggara.

Gerbang utama Ocean Park yang berkapasitas 4.000 orang itu berupa patung gurita raksasa. Di dalamnya terdapat aneka wahana permainan air, dari untuk anak balita hingga orang dewasa. Di areal ini juga ada laguna buatan seluas 525 m2 dengan latar belakang air terjun. Penggemar petualangan air dapat menikmati kolam ombak dengan gelombang setinggi 1,5 meter di areal Pacific Wave seluas 2.350 m2. Pengunjung juga dapat berbaring di atas pelampung di kolam arus sepanjang 500 meter.

Fasilitas itu dibangun oleh para pengembang kakap yang sengaja menarik investor untuk menanamkan duit mereka disini. Dus, pengembang yang datang belakangan, tinggal menikmati saja fasilitas yang sudah tersedia. Selain itu, para pengembang anyar ini juga bisa meminjam nama BSD City maupun Alam Sutra yang lebih dulu kondang dari mereka.

Nebeng nama besar

Coba, dengar saja cerita Donny Rahajoe, Jubir BSD City. Suatu hari, sebuah pengembang perumahan mempromosikan properti miliknya dengan menyebutkan bahwa mereka adalah sub developer dari BSD City. Developer itu juga bilang bahwa pengelolaan perumahan tersebut bakal dijamin oleh BSD City. Sontak, banyak calon pembeli yang kepincut begitu mendengar nama BSD. “Padahal, kami tidak pernah mengelola perumahan yang dikelola oleh pengembang lain,” katanya, sambil tertawa geli.

Upaya meminjam nama itu bukan hanya satu-dua kali saja, tetapi lebih. Bahkan, bukan hanya oleh pengembang saja, tetapi juga oleh sebuah bank. Seperti yang Donny bilang, sesungguhnya tidak ada kaitan sama sekali antara BSD dengan pengembang maupun bank tersebut. Toh, Donny tak bisa serta merta melarang mereka meminjam nama BSD. Apalagi, bila BSD digunakan untuk memudahkan masyarakat menunjuk wilayah Serpong.

Selain tol, nama yang belakangan kerap dipinjam sebagai penanda kawasan Serpong adalah Ocean Park. “Soal akses tol, memang ini menjadi dominasi, soalnya hukum jual beli properti itu adalah akses,” kata Saut Sitanggang, broker ERA Properti Bintaro. Menurutnya, baik pada pengembang besar maupun kecil, atau yang datang duluan dan datang belakangan, tetap saja pembeli menginginkan akses yang mudah, seperti tol. Makanya, banyak yang ‘menjual’ nama tol BSD maupun tol Alam Sutra untuk menggaet calon pembeli.

 Dengan begini, pengembang anyar ikut kecipratan komplitnya fasilitas yang sudah dibangun oleh pengembang kakap sebelumnya. Apalagi, fasilitas publik disini bisa menjadi landmark atau penanda agar mempermudah konsumen memahami kawasan Serpong. Lucunya, saking kondangnya BSD, dalam acara kumpul-kumpul para camat se Indonesia, konon sempat terlontar pertanyaan dari seorang camat, “Serpong itu di sebelah mananya BSD ya?”

Salah satu perumahan yang menikmati fasilitas yang ada di kawasan Serpong adalah Puri Pakujaya Regency. Hunian dengan desain minimalis ini mulai dibangun di kawasan Serpong pada akhir 2006 lalu. PT Nusuno Karya, pengembang perumahaan ini, akhirnya melirik kawasan Serpong usai membangun Puri Bintara, Bintara Estate, Puri Kranji Regency, Curug Regency, Puri Juanda Regency dan Puri Depok Regency.

Dalam brosurnya, malah hunian ini juga menyebut tol Alam Sutra yang memudahkan akses menuju perumahan ini. “Lokasi kami strategis, karena aksesnya mudah melalui tol Bintaro, Pondok Kranji, BSD, Alam Sutra, Tomang,” jelas Henny Widyaningsih, Staf Marketing Puri Pakujaya Regency. Saking strategisnya, tak ada perkampungan di perumahan ini lantaran diapit oleh cluster Alam Sutra. Puri Pakujaya Regency ini memiliki total 97 unit rumah dan separonya sudah terbangun.

Perumahan semi town house ini ditawarkan dari kisaran harga Rp 213 juta hingga Rp 509 juta di tipe 39/91 hingga 70/150. Fasilitasnya juga memadai, diantaranya kolam renang, tempat ibadah dan pusat kebugaran. “Tanah kami diurug tinggi, jadinya bebas banjir,” imbuh Henny. Fasilitas yang bisa dinikmati penghuni di kawasan ini nantinya adalah pusat perbelanjaan yang ada di kawasan ini, seperti BSD Junction maupun ITC BSD.

 “Pembeli biasanya akan melihat fasilitas yang ada di sekitar perumahan itu, kalau kurang mendukung mereka akan berpikir dua kali,” terang Jimmy, Marketing ERA Center Gading Serpong.  Menurutnya, orang akan memilih lokasi itu bebas banjir atau tidak plus sarana olahraga maupun hiburan. Itu sebabnya, menyebut nama yang besar-besar itu adalah poin yang cukup penting bagi si pengembang. “Kemudian, harga properti itu juga tergantung letaknya, dekat dengan mana saja,” imbuh Jimmy.

Memang, tidak ada perjanjian resmi antara pengembang yang datang duluan dengan belaknagan untuk boleh atau tidak boleh menyebut nama fasilitas yang sudah dibangun disana. “Yang namanya ‘BSD’, itu hak cipta kami, kalau logo atau nama perumahan kami digunakan untuk promosi mereka, itu nggak boleh,” terang Donny. Lucunya, masih ada juga pengembang yang berusaha mengganti jenis huruf yang menyerupai BSD. Tujuanya, tentu saja nebeng ketenaran nama BSD City.

Nyatanya, BSD sendiri tidak bisa menahan pengembang-pengembang itu untuk tidak menggunakan nama produknya. Tetapi kalau sudah kebangetan sampai-sampai mencatut nama BSD sebagai pengelola perumahan itu, pihak BSD tak segan melayangkan surat bagi si pengembang. “Kembali lagi ke konsumen, mestinya teliti sebelum membeli,” jelas Donny.

Nyatanya, komplitnya fasilitas publik yang ada di Serpong mampu mengundang orang-orang untuk berbondong-bondong datang ke Serpong. Asal, jangan ketipu saja dengan pengembang yang mengaku-aku sub-pengembang BSD.


4 Responses to “Bayang-bayang Sepanjang Serpong”


  1. 1 Sonny
    July 11, 2007 at 2:58 pm

    Salam kenal, saya sekarang tinggal di Roma, Italia dalam rangka tugas khusus selama 4 tahun, saya meinggalkan Serpong sejak bulan Februari 2005 dan akan kembali 2009. Saya senang sekali kalau dapat informasi mengenai keadaan Serpong yang up to date. Terima kasih telah banyak menginformasikan mengenai kemajuan daerah Serpong dan BSD semoga terus diulas mengenai perkembangan tersebut ya…. karena sejak saya di Roma, saya banyak ketinggan informasi dan perkembangan Serpong yang maju pesat, ini terbukti waktu saya cuti bulan Desember 2006 lalu, soalnya bener bener cepat berubah.

  2. 2 adi
    August 3, 2007 at 7:43 am

    untuk sonny: kalo mau lebih uptodate tentang serpong, bisa klik
    http://www.serpongonline.com
    http://www.serpongkita.com
    http://www.serpong.org
    tnx

  3. 3 Anak Cisadane
    April 11, 2008 at 5:13 am

    Saya adalah seorang anak yang dilahirkan dan dibesarkan di Kota Tangerang, tepatnya pinggiran cisadane, mungkin nanti saya tidak akan pernah lagi mengenal kampung saya. Pembangunan yang tampak dari luar begitu hebat mungkin tanpa kita ketahui dalam prosesnya banyak memakan ” korban ” semuanya berawal dari ambisi dan nafsu untuk memakmurkan sebagian orang yang punya duit sekarung. Mungkin kampung saya akan hilang, tinggal sejarah saja yang akan saya ceritakan pada anak cucu. Disalah satu sudut bagian dari sasaran invasi Paramount Serpong ada sebuah kampung yang bernama Warung Mangga disitulah orang tua saya tinggal dan sebentar lagi beliau akan menjadi orang terusir .

  4. June 19, 2013 at 4:17 pm

    Very good post. I will be going through a few of these issues as well.
    .


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


March 2007
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Archives

Flickr Photos

Las sedas del Mijares

Jack of speed

Color Contest

Inzell 2014

Roman Style.

Good Fence, Good Neighbor

More lights

Fullerton Station at night, Chicago

More Photos

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: