25
Apr
06

kancut merah berenda

undd.jpg

saya senang menamai rumah baru saya ini dengan KANCUT MERAH BERENDA.

kancut artinya celana dalam. dalam benak saya, celana dalam mengingatkan saya akan banyak hal. masa sih, hidup 25 tahun tidak menyisakan cerita secuil pun soal kancut. mustahil. cerita lucu, menyedihkan, menggelikan, mengharukan, turut menambal benang-benang kusut yang menjulur di sepanjang potongan segitiga kancut.

tahu sendiri, rambut saya agak ikal. malah, cenderung kriting. untungnya, nggak sampai kribo atau super duper kribo. menurut sejarah lisan yang menular dalam trah keluarga moelyosoeharto, konon rambut saya menjadi begini jadinya karena saat kecil kepala saya kerap ditutupi dengan kancut milik ayah saya, atau ibu saya. bisa dibayangkan, bagaimana bentuk rambut yang sejatinya ada di dalam kancut. tentu saja, bentuk ini pun agak membekas pada rambut saya yang menempel dengan lekat di kepala ini. huwh …

kisah kancut dalam hidup saya juga soal kancut yang enak dipakai, dan tidak enak dipakai. ada pilihan yang selalu membuat saya mengerenyitkan dahi dan berpikir keras, kendati itu cuma soal kancut saja. saya harus memilih kancut yang saya beli di pasar dengan harga Rp 2500, tetapi bisa dikenakan dengan sangat nyaman, atau kancut yang saya beli di pusat pertokoan seharga Rp 35000, tetapi seolah saya tak merasakan mengenakan kancut. saya selalu berada dalam posisi dilema bila harus memilih seperti ini. sebagai jalan tengah, saya membeli kancut yang seharga Rp 35000 dan berisi 1 lusin atau 12 lembar kancut. warnanya macam-macam, salah satunya merah. begitu, rasanya lebih pas. nggak ada kancut yang terselip diantara onggokan daging. juga nggak ada kancut yang tak sedap di pandang lantaran saling membalap dengan celana jeans.

istilah di sekitar per-kancut-an yang selalu membuat saya geli adalah istilah 'endhog remak'. dulu, ibu saya paling benci jika kancut saya sudah robek, kotor, tetapi tetap saya kenakan. sayangnya, bokong ini terasa nyaman saat mengenakan kancut dengan bintik-bintik hitam berada di sekitarnya. ibu saya menamainya dengan 'endhog remak'. saya sendiri tak sempat bertanya, apa itu endhog remak. saya sih cuek aja. toh, nggak ada yang melihat kancut saya yang ngendhog remak. mmm … tapi itu sih cerita masa lalu saya. aib sudah berakhir. lihat saja, tak ada kancut yang ngendhog remak lagi di lemari saya.

kancut yang mengharukan datang dari jemuran di tetangga kamar di kos Palmerah. saya tak pernah berhenti mengamatinya, meski kadang saya ingin muntah jika mencermatinya. hitam. kotor. menjijikkan. dan si empunya selalu sayang untuk membuangnya. please deh, kita itu hidup bertetangga. sudah besar. sudah bekerja. gaji juga sudah bisa untuk membungkus satu atau dua lusin kancut baru setiap bulan. saya selalu ingin membuang kancut milik teman saya itu bila melihatnya tergantung di jemuran depan kamar.

kancut yang paling nyaman yang pernah saya miliki, saya beli dari teman saya. warnanya putih dan biru. terbikin dari kain kaos yang enteng dan adem. saya beli Rp 10000 sebuahnya. konon, kancut itu adalah barang sisa ekspor kualitas internasional. saya malah diberi hanger nya sekalian. disana tertera label 'ralph laurent'.

dari sekian banyak kancut yang terlipat rapi di lemari, saya paling suka dengan kancut yang berwarna merah. ukurannya cukup untuk menutup bokong saya yang lebar. warnanya merah darah, seperti warna partai berlambang banteng. kancut merah sejenis juga saya miliki, tetapi saya gantung bersama dengan pasangannya, yaitu bra. nah, yang saya gantung ini spesial. warnanya merah, dan bahannya super duper cekak, alias minim. terang saja, bokong saya tetap terlihat 'kemana-mana' bila saya mengenakannya. bisa jadi, saya baru mengenakannya bila saya menikah kelak. hhe … yang seksi, tentunya tak selalu kancut berwarna hitam. bagi saya, kancut merah berenda pun seksi.

kesukaan saya terhadap kata 'kancut merah' ini sesungguhnya sudah sejak beberapa tahun yang lalu. saya melekatkannya pada alamat email di sebuah account gratis yang tersebar mendunia. ya, 'kancutmerah' namanya. kini saya menempelkannya kembali untuk persinggahan baru saya, tempat saya menulis panjang lebar soal tebaran rindu, sulaman kasih, geliat senja dan torehan duka.

tak usah serius-serius membacanya. tulisan yang ada di kancut merah berenda ini mudah dicerna, semudah saya mencuci kancut saya. enteng, dan tak perlu ekstra tenaga. tiliklah isi di dalamnya. siapa tahu, justru semakin giat menilik isi di dalam kancut, semakin mengerenyit dahi anda.


1 Response to “kancut merah berenda”



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


April 2006
M T W T F S S
    May »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Archives

Flickr Photos

Chin Scratching Short-eared Owl

Making A Splash

Chouette épervière -  Northern hawk owl - Surnia ulula

Trillium Lake Alpine Glow

Pierless

A Candlelight Dinner

friend and foe

Ice Age Arrows.

More Photos

%d bloggers like this: