01
May
06

PAT

pram2.jpg  pram1.jpg

"fe, pram meninggal …" begitu ucap lirih dari abang saat saya berada di bali.

saya pun membongkar semua ingatan saya tentang pram. tentang cerita kecil yang pernah saya bisikkan ditelinganya, bahwa ayah saya juga seorang tapol. tentang sesaknya jalanan di utan kayu saat saya menyambangi pram bersama andre vltcheck dan rossie indira. tentang kantuk yang menyerang dengan tiba-tiba di KRL saat rombongan anak muda menyerbu pram di bojong gede. tentang secuil diskusi saya bersama dengan orang-orang terdekat pram. tentang …

saya ingat persis pram yang tak pernah bisa berhenti menghisap sebungkus hingga dua bungkus rokok sehari. "saya masih kuat merokok," pamernya di rumahnya di utan kayu. kemudian ia berceloteh panjang lebar mengenai kehidupannya sebagai pendekar sastra besar di jamannya. kendati novelnya sudah diterjemahkan kedalam lebih dari 38 bahasa di duna, ayah dengan delapan anak dan enam belas cucu itu tetap tampil sederhana dengan kaos putih dan celana training berwarna biru, dan bersepatu kets hitam. terngiang di telinga saya, suaranya masih lantang.

tubuhnya nyaris lunglit, balung-kulit. telinganya rusak oleh popor milik Koptu Sulaiman di tahun 1965 yang sambil berteriak di sebelah kupingnya. kakinya juga sudah tak mampu menyangga badannya. "dulu, saya mencangkul. saya letih. lalu saya istirahat tertidur. bangun-bangun, seluruh penglihatan saya menjadi ungu dan saya tak kuat mengangkat cangkul," ujar albert-camus nya indonesia. sejurus, ia memamerkan sederet buku di perpustakaan rumahnya. juga kliping koran yang sedianya hendak dibikin ensiklopedia. "dulu saya pernah bikin ensiklopedia sastra pada tahun 1960, tetapi dibakar," keluhnya.

bui menjadi rumah keduanya. 14 tahun dipenjara jakarta dan 10 tahun harus bekerja paksa. penyakit mulai mengerumuninya. diantaranya, diabetes dan jantung. diabetes lebih dahulu menderanya, sesaat setelah keluar dari pulau buru di tahun 1979. usia tuanya juga mengerogoti matanya. pisau dokter mata sudah membedah matanya duntuk operasi katarak. sejatinya, pengarang tetralogi bumi manusia itu sangat antirumah sakit. hingga diagnosis radan paru-paru dengan segenap komplikasi yang mendekapnya, membuat ia tak hidup lebih lama ketimbang soeharto.

selamat jalan, pram. jika ada orang yang mempompa semangat indonesia, itu adalah pramoedya ananta toer. begawan sastra yang tutup usia di tahun 2006.


1 Response to “PAT”


  1. 1 wenas
    May 18, 2006 at 12:07 pm

    sip. PAT … btw, pinjem buku2 PAT yang kamu punya dong!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


May 2006
M T W T F S S
« Apr   Jun »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Archives

Flickr Photos

Chin Scratching Short-eared Owl

Making A Splash

Chouette épervière -  Northern hawk owl - Surnia ulula

Trillium Lake Alpine Glow

Pierless

A Candlelight Dinner

friend and foe

Ice Age Arrows.

More Photos

%d bloggers like this: