30
May
06

jalan bantul, pasca gempa (2)

gempa5.jpg  gempa6.jpg  gempa7.jpg

Memang, rasanya susah menilai lambat tidaknya bantuan yang sampai ke tangan warga. Bila kawasannya mudah dijangkau, pasti si warga akan bilang bantuannya sangat cepat datang. Begitu pun sebaliknya. Belum lagi kalau truk pengangkut dicegat di tengah jalan. Seperti nasib yang dialami oleh warga RT 05 dan RT 06 keongan kidul, desa sabdodadi, bantul. Rukun Tetangga yang masing-masih mengalami kerusakan rumah dalam tingkat ringan hingga berat sejumlah 45 unit rumah ini mendapatkan bantuan dari kanan-kiri. Bukan hanya pemerintah kabupaten bantul saja yang menyuplai logistik mereka, tetapi juga bantuan dari sebuah vihara di jogja, dan bantuan yang mengatasnamakan pribadi-pribadi. Dari kelurahan, dua RT ini mendapatkan jatah beras setiap hari sebanyak 40 kg. “Cukup nggak cukup, harus dicukupkan untuk semua warga,” ujar Kasijan, Ketua RT 05.

Kendati sudah mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, toh mereka tetap saja mencap bahwa bantuan dari pemerintah datang terlambat. “Nggak ada obat, sampai kemarin ada warga yang meninggal karena masuk angin,” ujar Kasijan. Maklum, mereka bermalam di lapangan sepakbola yang tak jauh dari rumah mereka. Sedihnya, tak ada terpal yang melindungi mereka dari angin malam yang menggigit. “Kataanya mau ada bantuan deklit, tapi nyatanya nggak ada,” protes Mukiyah, warga RT 06. hal ini ditimpali oleh Harsono, warga RT 05. “Dan, kami juga butuh bantuan tentara untuk membereskan puing rumah kami. Kami ini sudah capek, pusing, sedih dan sakit,” keluhnya.

Tak heran, desa keongan kidul ini memasang papan yang bertuliskan, “mohon bantuannya kepada kampung ini seiklasnya, kami membutuhkan makanan.” Beberapa perempuan muda yang berdiri di pinggir jalan, kemarin membawa pulang ke posko sebesar Rp 90 ribu dan beberapa makanan maupun minuman yang ditumpahkan ke kotak yang dipegangnya sepanjang hari.

Apa daya, kekuatan pemerintah kabupaten bantul tak sekuat Superman, begitu Bupati Bantul Idham Samawi mengibaratkan. Di bantul, ada sekitar 17 kecamatan dan 75 desa yang terkena gempa sabtu lalu. Sayangnya, menurut Idham, sebagian besar bangunan yang luluh lantak adalah bangunan milik warga yang memiliki kemampuan ekonomi lemah. “Mereka belum memikirkan bagaimana perekonomian kembali dijalankan, tetapi masih memikirkan bagaimana keluarga saya dan hari ini saya makan apa,” ujarnya. Bila perekonomian rakyat mulai menggeliat, seperti pasar maupun pertokoan, antara 10-20% saja.

Jumlah rumah yang tercatat di kabupaten bantul lebih dari 230 ribu rumah. Idham menghitung, bila 10%nya saja yang roboh dan perlu perbaikan, maka dibutuhkan dana untuk membangun sekitar 23 ribu rumah. Idham sendiri mengaku tak tahu kapan trauma masyarakat akan gemnpa ini surut. Ia kemudian bertutur soal rapat yang digelar semalam bersama dengan pejabat setempat. Pukul 21.00, terjadi gempa susulan berskala 3,3 SR. “Semuanya langsung lari keluar ruangan!” katanya.

Maka, sebagai bentuk antisipasi, Idham mentargetkan 10 hari ini segala trauma dan ketakutan mereda. “Pemulihan ini jangan lebih dari 10 hari. Selama 10 hari kedepan kita harus meyakinkan masyarakat agar nggak berlarut-larut dalam kondisi ini. Trauma harus hilang. Saya kuatir kalau lebih dari 10 hari nanti mereka akan terbiasa meminta-minta tanpa mau berusaha,” tutur Idham. Setelah itu, pemerintah kabupaten harus selesai menginventarisasi kerusakan di seluruh kabupaten selama 1 bulan. “Setelah itu baru memikirkan rehabilitasi. Pemulihan paling cepat 1 tahun,”ujarnya.

Tak seperti rehabilitasi di Acheh, Idham justru tak ingin warganya dibangunkan rumah-rumah yang siap huni. Ia mengharapkan pemerintah pusat memberi dana dan masyarakat membangun rumahnya sendiri. Ia tak ingin semuanya berbentuk proyek. “Saya ingin mengajak warga bergotong royong, berpartisipasi,” imbuhnya. Hingga hari ini, Idham memang belum bisa menghitung nilai kerugian dan jumlah kerusakan. Dari ratusan ribu rumah yang rusak di Bantul, belum genap 4000 rumah yang didaftarkan dan dilaporkan sebagai rumah yang harus dibenahi.

Distribusi logistik yang dituding terlalu lelet, Idham justru mengembalikannya pada masyarakat. Menurutnya, harus diyakini pihak mana yang belum menerima bantuan. Juga, siapa yang berhak dan tidak berhak untuk menerima bantuan. “Mereka yang punya duit, ya jangan minta! Bayangkan saja, warga bantul itu 816 ribu jiwa, siapa yang kuat menyantuni semuanya?” sergahnya. Setiap hari, Idham harus menyiapkan sekitar 300 ton beras bagi 816 ribu perut. “Kalau menciptakan mereka menjadi pengemis, matilah kabupaten!” tandasnya. Hingga hari ini, Idham masih menilai logistik terkontrol dengan baik dan memadai. Kalau kurang, ia sudah menyiapkan anggaran dari APBD senilai Rp 2 miliar, plus dana cadangan diluar APBD senilai 24 miliar dari sisa anggaran tahun 2005.

Melihat kerusakan yang ada di Bantul, memang jauh lebih parah ketimbang di Jogja. Toh, geliat ekonomi sudah mulai tampak disini. Kendati pasar besar di Bantul terlihat tak terjaga oleh petugas keamanan, namun tak satupun pedagang yang nekat untuk masuk ke dalamnya. Lihat saja, gentengnya bolong-bolong, sebagian besar mlorot. Mereka yang berani berdagang dan mengintip lapak mereka di dalam pasar, justru pedagang di bagian belakang. Mereka kelarisan mi instan, beras dan telur. Tak jauh berbeda dengan harga di pasar jogja yang melonjak beberapa persen, harga sembako di pasar besar ini pun melonjak beberapa ratus rupiah. Misalnya saja beras yang sebelum gempa dijual sekitar Rp 3.700 per kg, kini bisa mencapai Rp 4000 per kg. Telur yang harganya Rp 7000 per kg, kini naik Rp 500 rupiah. “Saya nggak berani kulakan, hanya menghabiskan stok saja, wong mau kulakan juga habis kok,” ujar Tukinem, pedagang sembako yang berasal dari desa Tegalayang, Pandak, Bantul. Ia mengakui, bila kulakan pun, dari sononya harga sudah naik. Misalnya saja supermi satu dos, harganya Rp 2000 lebih mahal ketimbang biasanya.

(catt foto: diambil dari cnn) 


1 Response to “jalan bantul, pasca gempa (2)”



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


May 2006
M T W T F S S
« Apr   Jun »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Archives

Flickr Photos

Chin Scratching Short-eared Owl

Making A Splash

Chouette épervière -  Northern hawk owl - Surnia ulula

Trillium Lake Alpine Glow

Pierless

A Candlelight Dinner

friend and foe

Ice Age Arrows.

More Photos

%d bloggers like this: