30
May
06

jalan imogiri, pasca gempa (1)

gempa3.jpg  gempa2.jpg  gempa1.jpg

Menyusuri jalanan di jalan imogiri rasanya miris sekali. Betapa tidak, di sepanjang jalan menuju makam raja-raja, yang terlihat di depan mata adalah rumah yang rubuh, rumah yang retak, dan rumah yang miring. Selebihnya, rumah yang masih tegak berdiri, namun terkoyak di sana sini. Rumah yang dulunya berbentuk mungil, asri, kuno bahkan anyar, kini menjadi sebaliknya. Molo bergelimpangan, berbaur dengan pecahan piring, ranjang yang remuk dan genteng yang berhamburan. Rumah tak lagi tempelan dinding berbentuk persegi dengan cungkup diatasnya.

Smentara itu, jalanan imogiri menjadi lebih sempit, lebih padat dan harus ekstra hati-hatri bila melaluinya. Ada bagian aspal yang retak terbelah, ada pula kabel listrik yang sudah menjuntai, bahkan sudah melintang di jalanan. Semnetara itu, posko dan dapur umum ada di hampir setiap 100-200 meter. Mereka berteduh tak melulu dengan tenda yang apik dari deklit oranye, biru atau coklat, tetapi dari sulaman spanduk dan karung goni. Beberapa papan menjulur ke jalanan, tulisannya “Kami membutuhkan bantuan …” atau “Menerima bantuan logistik…” Tak jauh dari posko, laki perempuan, tua muda, memegang kardus bekas wadah indomi atau aqua untuk meminta sumbangan. Mereka mencegat bila ada pengendara kendaraan yang melintas di depan mereka dan mengulurkan lembaran rupiah maupun makanan dan minuman seadanya. “Sedikit, tetapi berarti besar bagi kami” begitu tulis di sebuah papan yang tertempel di kursi merah di tengah jalan.

Jalanan itu juga padat dengan lalu lintas roda dua, truk pengangkut bantuan logistik, kendaraan relawan dan truk tentara. Tak sulit mengenali mana yang relawan, mana yang bukan. Mana relawan asing, dan mana yang tidak. Juga, gampang menerka isi truk dan darimana itu berasal. Soalnya, setiap kendaraan terpasang label 'relawan', atau 'bantuan logistik'. Tak jarang, ada spanduk dari sponsor tertentu, seperti 'sumbangan dari Pertamina untuk korban gempa', atau 'bantuan dari walikota singkawang', dan sejenisnya. Satu-dua mobil yang melabeli dirinya dengan 'bantuan logistik', memuntahkan beberapa gelas aqua dan roti maupun biskuit pada kotak yang ditengadahkan oleh para korban gempa di pinggir jalan.

Adalah Muhamad Rifki, Deni Arifin dan Ahmad Yusuf, yang ketiganya adalah bocah yang menengadahkan caping, toples plastik yang usang dan kotak bekas indomi di kawasan desa Sudimoro, jalan imogiri. Bocah yang masih duduk di bangku SD itu harus menerima kenyataan bahwa rumahnya remuk, dan sekolah mereka pun ambruk. Yang bisa dilakukan adalah menanti bantuan. Selebihnya, tidak. “Mohon bantuan … mohon bantuan … mohon bantuan … “ teriak mereka dari pinggir jalan secara bersahut-sahutan, berharap ada pengendara yang mencemplungkan sedikit rejeki bagi mereka. “Disini dari jam 9-3 sore, kemarin dapat Rp 7.000,” ujar Deni lirih.

Bantuan untuk kawasan Imogiri memang sudah datang. Lihat saja truk pengangkut logistik yang mondar-mandir sepanjang hari. “Logistik sudah datang sejak hari Minggu kemarin. Ada yang dari world food program United Nations pemkab, dari etnis tionghoa, dari kopasus,” ujar Aribowo, Mantri Tani Kecamatan Imogiri, Bantul. Tak ditampik, bantuan itu berupa selimut, tenda, mi instan, beras, susu. “Yang belum ada bantuan berupa minyak telon, minyak tanah, minyak tawon dan pembalut wanita,” ujar Nurwalah, staf kecamatan yang mengurusi keluar masuknya logistik di wilayah kecamatan Imogiri.

Mereka yang berhak mengambil adalah daerah yang sudah diundang dengan 'girik' sebagai tanda bukti pengambilan. Tentu saja, girik ini tak sebagus girik saat pengambilan daging idhul adha. Hanya secarik kertas yang tersobek tak sempurna, dengan coretan jatah yang boleh mereka ambil. Yang berhak mendapatkan girik adalah desa, yang kemudian harus didistribusikan ke dusun-dusun. “Kami memeratakan distribusi, untuk itu setiap desa harus ada yang stand by di kecamatan ini,” ujar Ari. Tercatat di kecamatan Imogiri ada 8 desa dengan 72 dusun.

Toh, Ari tak menghindari banyaknya warga yang terus berdatangan ke kecamatan untuk meminta bagian. Memang, mi instan maupun beras yang diusung ke dusun, tak sebanyak yang diharapkan. “Karena belum begitu banyak bantuan yang datang, dan secara susrenatis banyak warga yang belum tahu sistem pendistribusian logistik ini,” ujarnya. Maka, agar sampai ke tangan warga dengan cepat, kini posko di kecamatan yang mengalami kerusakan wilayah sebesar 90% ini sudah membuka posko 24 jam. Kemarin belum ada posko 24 jam, soalnya listrik juga belum hidup di kawasan ini. “Saat ini kami terbantu oleh polisi dan kopasus yang menjaga logistik dan distribusinya,” tambah Ari.

Imogiri memiliki jumlah penduduk 57,407 yang terdiri dari 29.547 perempuan dan sisanya laki-laki. Hingga hari selasa ini, tercatat 261 jiwa tewas dalam tragedi gempa berkekuatan 5,9 SR ini. Imogiri yang daerah cakupannya sangat luas, tak urung distribusinya tak secepat yang diharapkan semua warganya. Maka, bila ada yang meminta sumbangan atau bantuan di jalanan seperti yang dilakukan oleh tiga bocah SD itu, “”Mereka maunya serba cepat, kemudian dengan inisiatif sendiri meminta bantuan. Dari pemkab sendiri menghimbau agar semua bantuan terkoordinasi dengan baik,” ujar Ari. Lambatnya distribusi logistik ini, menurut Ari, adalah belum berjalannya sistem distribusi yang ada.

Dara Yukana, warga desa Sidomoro, mengharapkan bantuan yang berupa material bahan bangunan. Menurut Ari, permintaan bantuan bahan bangunan ini adalah karena kebutuhan logistiknya sudah terpenuhi. Ari mengakui, saat ini memang belum ada bantuan material bangunan. Dan tentu saja, mereka yang meminta bantuan material bangunan adalah yang sudah tercukupi kebutuhan logistiknya. Padahal, masih ada wilayah yang berkekurangan logistik.

(catt foto: diambil dari cnn dan mediacenter) 


1 Response to “jalan imogiri, pasca gempa (1)”


  1. April 26, 2013 at 6:14 pm

    My brother recommended I might like this blog. He was totally right.
    This post actually made my day. You can not imagine simply how much time I had spent for this information!
    Thanks!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


May 2006
M T W T F S S
« Apr   Jun »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Archives

Flickr Photos

Chin Scratching Short-eared Owl

Making A Splash

Chouette épervière -  Northern hawk owl - Surnia ulula

Trillium Lake Alpine Glow

Pierless

A Candlelight Dinner

friend and foe

Ice Age Arrows.

More Photos

%d bloggers like this: