03
Oct
06

Berpetualang di gudang candu

 Maoe minoem koffie selamanja enak? Aromanja dan rasanja tinggal tetep, kaloe ini koffie soeda di boeka dari kantongnja harep dipindahken di stopfles atawa di blik jang tertoetoep rapet. Djangan tinggal di kantong! 

  

Itulah tulisan yang tertera di bungkus Koffie Fabriek Aroma yang hanya bisa didapatkan di Jalan Banceuy,
Bandung, Jawa Barat.
Hanya di Jalan Banceuy saja? Iya, benar. Widyapratama, si empunya pabrik kopi, tak membuka cabang kota lain. Alih-alih di kota lain, di sudut
Bandung yang lain pun tidak.
 

Pabrik kopi Aroma wajib didatangi jika singgah di
Bandung.
Letaknya terselip diantara deretan toko onderdil mobil dan motor. Lihat, bangunan Art Deco-nya masih asli. Tak ada secuil pun yang berubah sejak Tan Houw Sian, ayah Widya, membangunnya di tahun 1930. Bisa dipastikan, bangunan pabrik kopi ini memberi sumbangan terhadap peringkat Bandung yang menduduki ranking ke 9 dari 10 kota berasitektur Art Deco terbanyak di dunia —hanya satu tingkat di atas kota kelahiran Art Deco sendiri, yaitu Paris. Pabrik yang berdiri diatas lahan seluas 1.300 meter persegi itu merupakan tempat penjemuran, gudang penyimpanan, pabrik pengolahan, sekaligus toko. 

Sahibul kisah, Tan Houw Sian menjadi pekerja di pabrik kopi milik Belanda pada tahun 1920. Hasil keringatnya terus ditabung hingga ia bisa merintis pabrik kopi di tahun 1930 dan membeli mesin pengolah kopi buatan Jerman bermerek Probat pada tahun 1936. nah, kini, anak tunggalnya lah yang meneruskan bisnis keluarga ini, yaitu Widya. Kendati hidup di jaman yang sarat dengan perlombaan teknologi, Widya tetap bersikeras untuk mempertahankan berbagai mesin tua peninggalan ayahnya. Misalnya, mesin pemanggang, mesin pemilah biji kopi dengan sistem sentrifugal, mesin pengiling, toples-toples tua, hingga bungkus kemasan kopi yang teksnya masih menggunakan ejaan lama. Maklum, memang semua mesin itu belum rusak hingga lebih dari setengah abad.   

 

Disimpan delapan tahun 

Datanglah di pagi hari saat matahari bundar perlahan naik dan memamerkan pulasan sinarnya di langit timur. Widya akan mengajak berpetualang ke negeri dimana Anda tak pernah membayangkan sebelumnya. Saat memasuki pabrik kopi, Anda akan disuguhi pemandangan tiga sepeda yang tergantung di dinding bagian atas. Konon, sepeda itu adalah sepeda milik Tan Houw Sian. Widya pun tak berniat melegonya. “Saya ingin, anak-anak saya selalu ingat bahwa pabrik ini dirintis dengan sepeda yang tua di jamannya, dengan keringat dari ayah saya,” kenang Widya.  

Widya mewarisi sejumlah ilmu dari ayahnya. Dua kali dalam setahun Widya datang berkunjung ke kebun kopi dan memilih sendiri buah kopi di perkebunan kopi seluas masing-masing 5 hektar di Aceh, Medan, Toraja, Jember, dan Timor. Dulu, kunjungan seperti ini selalu dilakukan oleh Tan Houw Sian agar betul-betul mendapatkan biji kopi yang merah dan tua. Nah, setelah kopi terbaik didapatkan, kopi ini dijemur dengan terik matahari selama tujuh jam. Setelah itu, disimpan dalam karung goni yang berwarna cokelat (bukan karung plastik—red) dengan dijaga tingkat kekeringannya. 

Coba lihat ke lantai jika Anda memasuki gudang kopi Aroma. Anda tak menginjak ubin, tetapi karung yang rasanya seperti berisi pasir. “Itu bukan pasir, tetapi kopi,” tutur Widya sambil terkekeh. Konon, gudang ini memiliki kedalaman satu meter dari permukaan lantai pabrik. Sehingga, sedalam satu meter pula gudang ini dipenuhi oleh kopi. Padahal, tumpukan karung kopi ini setinggi langit-langit di pabrik ini. Hanya tersedia sekitar tiga meter ke arah dalam gudang kopi dan selebar bahu orang dewasa. “Saya sendiri tidak ingat, berapa seluruh kopi yang tersimpan di gudang ini,” ujar ayah tiga anak ini.  

Biji kopi yang masuk ke gudang tahun ini, tidak langsung diolah seperti pabrik kopi kebanyakan. Baik jenis robusta maupun arabika, Widya akan menyimpannya hingga delapan tahun sebelum akhirnya di sangrai dan digiling. Konon, inilah waktu terbaik penyimpanan kopi. Ini merupakan proses aging untuk memantapkan citarasanya. Semakin panjang masa penyimpanan biji kopi, membuat kadar kafein semakin rendah. Hasilnya, perut tak kembung dan tak ada rasa kecut yang tertinggal di tenggorokan. Kadar asam pada kopi pun turun hingga tinggal 2-3% saja. Tradisi turunan Tan Houw Sian inilah yang dipegang oleh Widya hingga saat ini. 

Setiap hari, tak kurang dari 200 kg kopi robusta dan arabika disangrai oleh Widya dan 9 pekerjanya. Dari 200 kg kopi itu hanya akan menghasilkan 160 kg saja karena penyusutan kandungan kopi. Proses ini dilakukan dengan menggunakan kayu pohon karet yang diletakkan pada dua tungku mesin sangrai yang masing-masing sudah berumur 70 tahun. “Kayu pohon karet ini jika dibakar akan menghasilkan api yang seperti sedang menari-nari di tungkunya,” kisah dosen di Universitas Padjajaran dan Maranatha Bandung ini. Kayu pohon karet ini juga menghasilkan temperatur yang rendah dan ikut menambah aroma khas pada kopi. Setelah disangrai, kopi digiling dan siap di bungkus sesuai permintaan Anda.  

Sesuai permintaan? Iya, benar. Jika Anda ingin bertahan untuk tetap terjaga dan bekerja, Widya akan meramukan kopi robusta yang berusia 2 tahun. Namun jika Anda menginginkan kopi robusta yang lebih enteng, Widya akan meracikkan kopi yang berusia 8 tahun. Nah, bila sedang bahagia dan ingin sekadar mencecap kopi, Widya memilihkan mokka arabika yang merupakan perpaduan kopi arabika dari Aceh, Medan, Toraja, Jember, dan Timor untuk Anda. Maklum, pecandu Aroma datang dari pelosok negeri, bahkan mancanegara dengan beragam keinginan. 

Seperti Herbert yang pagi itu mengetuk toko mungil milik Widya. Ia mencari robusta yang berusia 8 tahun. Sudah lebih dari sepuluh tahun ia menjadi pelanggan setia kopi Aroma. “Kalau keluar kota, saya bawa kopi Aroma,” ujar lelaki setengah baya ini. Menurutnya, lidahnya sudah tak bisa menyeruput nikmatnya secangkir kopi merek lain. “Hanya Aroma!” promosi pecandu Aroma ini.  

Widya tak berniat untuk memperluas kopi Aroma miliknya. Baginya, ia tak ingin mengeruk laba yang besar. “Kebahagiaan saya bukan pada rupiahnya!” tutur Widya. Tak heran, ia memilih untuk bergumul pada sejarah kopi yang dirintis ayahnya serta tetap berada di langgam dan gerak yang khas dari alur pembuatan kopi Aroma. “Yang penting caranya, bukan jumlahnya. Buat apa pabrik ini besar, tapi cara pembuatannya tidak betul,” kata Widya.  

Besok pagi-pagi buta, sekitar jam 04.00, Widya akan memulai menyangrai biji kopi yang sudah didekapnya sejak delapan tahun silam. Saat toko onderdil di sepanjang jalan Banceuy masih terlelap, Anda akan mendapati kepulan asap tipis yang keluar dari sebuah cerobong asap bangunan bergaya Art Deco. Ketuklah, dan berpetuanglah di fabriek koffie Aroma.  

 


3 Responses to “Berpetualang di gudang candu”


  1. 1 Hendy
    June 20, 2008 at 8:15 am

    I agree, saya setuju, kopinya enak banget. My favorite too, mocca arabica or mixed with robusta

  2. 2 ucup33
    December 30, 2008 at 7:29 am

    cakep daaaah

  3. 3 ade
    June 5, 2009 at 8:06 am

    beleh minta alamat lengkap pabrik aroma+no tlpn yang bisa dihubungi ga?
    lo dari cicaheum naek angkot/angktan umum pa?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


October 2006
M T W T F S S
« Jun   Nov »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Archives

Flickr Photos

Lago di Braies

Red and Gold

Sol Duc Falls

Wasting Light

Back to forest

Red Lane 3

Prairie Falcon 2016

Suitcases

More Photos

%d bloggers like this: