31
Oct
06

Digedein … eh, malah menuai protes

Pagi-pagi di bulan Agustus, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) menggeber produk Flexi-nya menjadi FlexiCombo.

Telepon seluler dengan layanan terbatas yang semula hanya bisa digunakan di satu kota saja, mulai bisa di-switch untuk digunakan di lain kota. Pelanggan Flexi tak harus mengganti kartu, cukup mendaftar melalui SMS saja. Nah, setelah mendapatkan nomor temporer di kota tujuan, pelanggan tetap bisa menerima panggilan telepon ke nomor kota asal karena ada fasilitas penerusan panggilan (call forwarding). Ongkos untuk penerusan panggilan itu tak mahal, hanya Rp 500 per menit. “Pelanggan flexi biasa bisa menjadi pelanggan Combo pada saat dia membutuhkan fasilitas Combo,” papar Muhammad Awaluddin, VP Public and Marketing Communication PT Telkom Tbk..

Sebelum resmi diluncurkan, penjualan FlexiCombo tidak terlalu bagus. Rata-rata penjualan per hari pada bulan Januari 2006 hanya mencapai 7.428 SSF (Satuan Sambungan Flexi). Sedangkan pada bulan Februari 7.161 SSF, bulan Maret 6.426 SSF, dan bulan April 6.162 SSF. Penjualan ini meroket sejak resmi dilansir 1 Agustus lalu. Penjualan di hari pertama saja sebanyak 11.422 SSF. Hari kedua lebih menanjak, menjadi 11.812 SSF. Dan per 18 September 2006, total jendral pelanggan FlexiCombo mencapai sekitar 250 ribu pelanggan. Bahkan untuk menghadapi Lebaran lalu, Telkom menyiapkan sekitar 1.057.000 nomor FlexiCombo yang terdiri dari 424.300 nomor eksisting dan 633.000 nomor tambahan.

Ceruk nan empuk ini rupanya juga dilirik oleh PT Bakrie Telecom Tbk. Pertengahan Oktober lalu, perusahaan grup Bakrie ini meluncurkan Esia Go Go. Sejenis dengan FlexiCombo, Esia GoGo ini memungkinkan pelanggannya melakukan atau menerima panggilan telepon dan SMS di luar kode area tanpa harus mengganti kartu RUIM yang digunakannya. Lisensi Bakrie Telecom memang tak seluas Telkom Flexi. Dus, jangkauannya hanya berkisar di wilayah Jakarta, Jawa Barat dan Banten. “Kami tidak menantang FlexiCombo, tetapi memang ada permintaan dari masyarakat,” sergah Rahmat Junaidi, Direktur Corporate PT Bakrie Telecom Tbk. Hitungan Rakhmat, Esia GoGo akan menyerap 15% dari 18.juta pelanggan seluler di Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.

Membengkaknya peminat FlexiCombo dan Esia GoGo ini tak urung mengusik Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI). Belum lewat dari sehari FlexiCombo digelontorkan ke pasar, kontroversi layanan jumbo itu langsung mencuat. Pasalnya, FlexiCombo tidak berbeda dengan seluler. Padahal, operator seluler karena kebijakan pemerintah dan BHP, harus menderita beban operasional 13 kali lebih besar daripada Flexi yang diklaim sebagai Fixed Wireless Access (FWA). “Nomer Flexi itu mestinya hanya hidup di satu area kode saja saja, tapi ini bisa lebih dari satu kode area!” cetus Heri Nugroho, anggota BRTI.

Telkomsel selaku operator seluler memang belum meneriaki kehadiran FlexiCombo maupun Esia GoGo. Bisa jadi, karena FlexiCmbo adalah saudara sekandung perusahaannya. “Kami masih mempelajari keduanya,” tukas Erik Meijer, VP Marketing & CRM Telkomsel. Menurutnya, pasar di bisnis telekomunikasi ini sangat besar. Dus, Telkomsel tak perlu merasa terancam dengan kehadiran dua FWA yang memiliki layanan serupa dengan seluler ini. Sama halnya dengan PT Excelcomindo Pratama (XL). “Yang harus dipertimbangkan adalah bagaimana perlakuan regulasi ini diberikan secara adil, baik untuk FWA maupun seluler,” tegas Ventura Elisawati, Head of Corporate Communication XL.  Harap Ventura, pengaturan regulasi untuk keduanya transparan.

Maka, BRTI pun memanggil para direksi BUMN telekomunikasi untuk dimintai keterangan. Telkom yang diwakili Direktur Konsumer PT Telkom, Guntur Siregar dan timnya pun buru-buru datang ke kantor BRTI untuk memberikan penjelasan mengenai FlexiCombo. Guntur datang untuk menjelaskan bahwa semua nomor FlexiCombo hanya terdaftar di kode area tertentu dan tidak bisa berfungsi bila digunakan di luar kode area asal. Menanggapi laporan ini, BRTI tidak serta merta mengiyakan, tetapi mengkaji laporan plus menjajal layanan FlexiCombo apakah sesuai dengan aturan kepmen. “BRTI itu bukannya meminta penghentian, bukan, tetapi meminta penyesuaian agar FlexiCombo disesuaikan sesuai persyaratan BRTI!” kata Awaluddin.
Teguran untuk FlexiCombo

Agaknya BRTI cukup jeli dengan fasilitas FlexiCombo. Merujuk pada Keputusan Menteri Perhubungan (Kepmenhub) Nomor 35/2004 tentang Penyelenggaraan Jaringan Tetap Lokal Tanpa Kabel dengan Mobilitas Terbatas, jika satu nomor bisa dipakai ke mana-mana, maka layanan FWA tersebut dianggap melanggar aturan. Selain itu, BRTI melihat FlexiCombo yang baru memiliki fasilitas jelajah (roaming) seperti layanan seluler. “Salah satu poin penting dalam FWA adalah roaming tidak diperkenankan,” imbuh Heri.

Hasil ujicoba BRTI di lapangan, setelah masa berlaku nomor Combo habis, ternyata nomor Combo yang didapatkan pada kesempatan berikutnya selalu sama dengan nomor yang (diberikan) sebelumnya. Selain itu, bila menekan *77, bukan hanya nomor induk saja, tapi semua nomor baik induk dan Combo menjadi aktif, sehingga pengguna dapat dihubungi melalui nomor manapun, baik ke nomor induk maupun ke nomor Combo lainnya. Dan kendati Telkom menegaskan bahwa tidak menggunakan mekanisme roaming pada seluler, toh mekanisme call forward yang digunakan FlexiCombo tak jauh berbeda.

Maka awal Oktober lalu BRTI pun melayangkan surat kepada PT Telkom Tbk untuk melakukan perubahan pada layanan FlexiCombo sesuai aturan Kepmenhub 35/2004. Awalnya, Telkom meminta batas waktu selama 6 bulan, sedangkan BRTI meminta waktu 2 minggu saja. Lantaran vendor Telkom sanggup membenahi dlam waktu 1,5 bulan, maka ditetapkan batas waktu yang diberikan adalah sampai 1 November 2006. Apabila hingga tanggal tersebut PT Telkom belum juga melakukan perubahan secara menyeluruh, maka konsekuensinya layanan FlexiCombo harus dihentikan. “Tetapi 1 November itu bukanlah batas waktu yang serta-merta,” tegas Heri. Asumsinya, FlexiCombo akan membenahi sesuai dengan jadual tanpa kendala apapun yang membuat deadline BRTI ini tertunda.

Meski menampik sudah mendapat teguran dari BRTI, konon Esia juga telah mendapat teguran dari BRTI sehubungan dengan layanan Esia di Bandung lantaran menyalahi Kepmenhub 35/2004. Nah, Sebelum urusannya menjadi lebih panjang, PT Bakrie Telecom melaporkan Esia GoGo-nya ke BRTI. “Tak ada teguran untuk kami, kok. Saat ini mereka tengah mengkaji apakah Esia GoGoyang kami promosikan pada masyarakat itu sama dengan yang nantinya akan mereka dapatkan,” terang Rahmat. Menurutnya, saat ini ada 8 kota dari 15 kota yang sudah terinterkoneksi untuk layanan Esia Go Go.

Lantaran Esia GoGomuncul di pasaran pertengahan bulan lalu, tentu saja belum ada hasil yang diketok di meja BRTI untuk Esia Go Go. Namun sudah pasti, nasib Esia GoGojuga bakal sama dengan FlexiCombo yang akan diminta untuk membenahi beberapa bagian layanannya. “Pada Esia, kami akan memberikan perlakuan yang sama dengan Flexi,” tegas Heri. Meski tak serumit FlexiCombo, tetapi Rakhmat berharap Esia GoGo-nya tak menuai buntung lantaran kontroversi ini. Pasalnya, pasar yang cukup mumpuni di ceruk ini diharapkan akan mendongkrak pelanggan baru hingga 1,35 juta pelanggan hingga akhir tahun 2006 ini, atau dua kali lebih besar dibanding total tahun lalu.
Sebelum 1 November

Saat ini Esia GoGo masih adem-ayem sembari menanti surat dari BRTI. Menurut Heri, Esia GoGo tak jauh berbeda dengan FlexiCombo. Dus, regulator ini akan melayangkan surat pada Bakrie Telecom dan memberi waktu untuk membenahi layanannya. “Mereka sudah ke BRTI, tetapi mereka meminta waktu sebentar untuk membicarakan secara internal,” tegas Heri. Menurut Heri, penyempurnaan yang bakal dilakukan Esia tak akan serumit Flexi. Terang saja, cakupannya tak seluas Flexi yang meraup hingga 200 kota di Indonesia. “Minggu ini Esia akan kami panggil kembali,” kata Heri.

Sementara itu, FlexiCombo sibuk berbenah. Telkom meminta pada seluruh pelanggan untuk menonaktifkan nomor Combo-nya pada saat akan kembali ke kota asal dan mematikan fasilitas penerusan panggilan pada saat akan kembali ke kota asal. Per 1 November nanti, penerusan panggilan itu hanya aktif untuk nomor induk ke nomor anak, bukan dari nomor anak ke nomor induk. “Yang lainnya tidak kami ubah, karena kami hanya mengikuti persyaratan BRTI saja,” papar Awaluddin. Tuntutan BRTI ini mau tak mau mengubah 19 MSC (Mobile Switching Centre) Flexi yang tersebar di seluruh wilayah layanan di Flexi.

“Bagi konsumen, pengubahan FleksiCombo versi baru ini tidak berdampak apapun karena semua ini sifatnya teknis,” jelas Awaluddin. Konon, kocek yang sudah terkuras dari saku Telkom untuk memperluas jaringan Flexi sejak tahun lalu sekitar Rp 3,5 triliun. Dana yang tak kecil ini digunakan untuk menambah base tranceiver station (BTS). Kinerja Telkom Group juga tak buruk. Semester I tahun ini pendapatan melonjak 23% dan laba bersih terkerek 51%. Untuk Flexi, revenue semester I tahun lalu Rp 600 miliar, sedangkan 2006 sudah Rp 1,1 triliun.


1 Response to “Digedein … eh, malah menuai protes”


  1. 1 LALA
    December 30, 2007 at 10:54 am

    Semoga Blitz makin sukses menjadi bioskop yang paling banyak dikunjungi, dan melebarkan sayap ke seluruh Indonesia. Pilihan Filmnya lebih bagus dari competitor yg lain. Maju terus Wendy, pantang mundur.

    Lala & Angga


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


October 2006
M T W T F S S
« Jun   Nov »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Archives

Flickr Photos

Lago di Braies

Red and Gold

Sol Duc Falls

Wasting Light

Back to forest

Red Lane 3

Prairie Falcon 2016

Suitcases

More Photos

%d bloggers like this: