22
Nov
06

Blitz Megaplex

Wendy Soeweno bernapas lega. Ujung minggu lalu, Marketing Director PT Graha Layar Prima ini resmi mengoperasikan Blitz Megaplex di Parijs van Java, di kawasan Sukajadi, Bandung. Artinya, jaringan bioskop dengan 9 layar dan berdaya tampung sekitar 2.200 kursi ini bisa menjadi pilihan lain untuk menonton film selain 21 Cineplex.

Meski tak berniat menggebuk 21 Cineplex, namun Blitz datang sebagai ikon penggebrak yang energinya melebihi dua sinema lain yang lebih dahulu lahir, yaitu Surya M2 di bilangan Mangga Dua Jakarta Pusat dan MPX di Pasaraya Grande Jakarta Selatan. (Baca KONTAN: Di Seberang Jaringan 21-Kehadiran bisnis Blitz Cinema di tengah dominasi Grup 21, No. 50, Tahun X, 18 September 2006).

Setelah Bandung, Blitz akan merintis di Jakarta yang mulai dirangsek dari kawasan Grand Indonesia dengan jumlah layar dan kapasitas yang lebih besar lagi. Di pusat perbelanjaan ini, bioskop yang menyedot modal sekitar US$ 15 juta ini akan menancapkan 11 layar dengan total kapasitas mencapai 3.200 kursi. “Setiap tahun, kami akan membuka dua gerai,” tegas Wendy.

Nah, melihat langkah awal Blitz tersebut, wajar saja bila 21 Cineplex menjadi sesak napas. Bukan tidak mungkin, bila Blitz kian menapak di bisnis hiburan ini, maka akan menggerus pasar 21 Cineplex sekaligus melumpuhkan bisnis bioskop milik Subentra Group ini. “Buat kami tidak masalah siapapun yang terjun disini, Blitz tidak menjadi ancaman bagi kami,” tegas Noorca M Masardi, PR 21 Cineplex. Bahkan, Noorca pun tak gentar dengan konsep yang diusung oleh Blitz. “Bagi bisnis apapun, wajar bila membuat ciri khusus agar membedakan dengan yang sudah ada,” ujarnya.

Seiring dengan bertambahnya film buatan anak negeri, sudah saatnya pula Indonesia mengembalikan jumlah gedung bioskop seperti masa kejayaannya dulu, yaitu mencapai 3.800 gedung dengan 6.600 layar. Menurut catatan H Djonny Syafruddin, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI), saat ini setidaknya hanya tersedia 118 bioskop dengan 441 layar di Indonesia yang masih bertahan. Perinciannya, 319 layar 21 Cineplex, plus 122 layar yang merupakan bioskop non-21. “Idealnya, pertumbuhan bioskop ini seiring dengan pertumbuhan penonton,” ujar Noorca.

Tentu saja, 21 Cineplex tak akan mampu mengembalikan jumlah layar yang mencapai ribuan ini sendirian. Dus, menggairahnya bisnis bioskop di Indonesia juga harus disokong oleh investor-investor baru yang mengusung konsep yang segar. Wajar, jumlah film karya anak negeri yang semakin membengkak harus dibarengi dengan pertumbuhan bioskop yang ada di negeri ini. “Semakin banyak jaringan bioskop di Indonesia, penayangan film kami juga akan tambah lama!” tegas Nia Dinata, sutradara dan produser yang pernah mengenyam pendidikan film di NYU Tisch School of Art, Amerika Serikat.

Salah satu investor yang memulai merintis bisnis bioskop tahun 2005 lalu adalah Suryadi Yakin. Pengusaha ini tidak khawatir saat mengetahui Blitz mencatatkan dirinya sebagai pemain baru di bisnis yang sama dengannya. Kekhawatiran ini tidak muncul lantaran Surya sudah memantapkan posisinya sebagai bioskop yang sudah memiliki pasarnya sendiri. Yaitu, kawasan Mangga Dua dan sekitarnya dengan 60% tontonannya adalah film-film dari Hong Kong dan Korea. “95% pengunjung disini adalah non-pribumi,” tegas Suherdi, Supervisor Surya yang mengerek bendera PT Sinema Surya Jaya.

Surya pun berbagi kue dengan MPX Grande Boutique Cinema yang sudah lebih dulu berdiri pada tahun 2002. Pasar Bollywood sengaja tak digarap oleh Surya. Kue ini adalah ‘milik’ Raam Punjabi melalui MPX-nya. Bioskop ini menempati area seluas 2000 meter persegi ini. Total jenderal studio yang dimiliki MPX ada 6 buah dengan kapasitas maksimal 655 kursi. Angka ini masih lebih besar daripada Surya yang meletakkan 3 studionya diatas lahan seluas 1500 meter persegi dengan kapasitas 300 kursi. “Blitz berani sekali, membangun sinema langsung dengan banyak layar!” celetuk Herdi.

Toh, distribusi adalah masalah lawas di bisnis ini. Herdi pun harus memaklumi keterlambatan pemutaran film box office di bioskopnya. Misalnya saja Casino Royale, Surya baru kejatahan bisa memutar film ini seminggu setelah tayang perdana di jaringan 21 Cineplex. “Kami harus mengikuti aturan main 21 Cineplex,” ujar Herdi. Gagahnya jaringan 21 Cineplex inilah yang membuat Surya menciptakan pasarnya sendiri. “Kami sendiri nggak bisa melawan 21 Cineplex, nanti seperti semut melawan gajah,” tegasnya.

Sebagai pemain baru, Blitz tampak tak ingin pasang kuda-kuda dan bergegas menggeser posisi 21 Cineplex. Bila 21 Cineplex banyak melakukan pembenahan usai gerainya lahir di Bandung, justru dilihat sebagai tawaran menjadi sparing partner bagi Blitz. “Seperti Pertamina yang berdandan menjadi lebih cantik saat Shell dan Petronas masuk ke Indonesia,” tukas Wendy. Namun sebagai pemain baru yang notabene bukan distributor, Wendy menegaskan bahwa Blitz tetap mendapatkan jaminan atas film yang diangkut oleh importir film.

Seorang pemain di bisnis bioskp bahkan sempat membisiki KONTAN. “Hadirnya MPX, Surya dan Blitz adalah lampu kuning bagi 21 Cineplex. Jika ketiganya bersatu, bisa menjadi pesaing 21 Cineplex,” ujarnya. Namun Noorca menegaskan, “Munculnya ketiganya dan 21 Cineplex semoga bisa berkomptisi secara sehat dengan target market sendiri, dan kami pun terus melakukan upaya pembenahan.”

Konsep Blitz memang berbeda dengan bioskop yang sudah lebih dulu ada. Melihat animo film Indonesia kian marak, Blitz menawarkan pada produser film untuk menanggung ongkos promosi film yang akan ditayangkan di Blitz. Tentu saja, tawaran ini bak angin segar bagi produser. “Ini lumayan, lo. Soalnya ongkos promosi ini menelan biaya sekitar 10% dari ongkos produksi film,” kisah Nia. Kemudahan inilah yang membuat sutradara maupun produser juga ingin ambil bagian di dalam bisnis Blitz. “Barangkali saya akan mencoba memutar film di Blitz,” ujar Lola Amaria, sutradara yang biasa mengusung filmnya ke kampus-kampus.

Meski sambutan hangat datang dari kanan-kiri, namun mimpi Ananda dan David tidak berhenti disini. Diam-diam Blitz yang dimodali oleh Quvat Management Pte Ltd ini juga bermimpi untuk mengusung film sendiri, alias menjadi distributor film untuk diputar di Indonesia. “Target kami, bisa menjadi distributor setelah selesai membuka 4 bioskop di Bandung dan Jakarta,” tegas Wendy.

Sebagai pijakan awal, Ananda bahkan sudah memperkenalkan diri di American Film Market dan memborong 10 film. Selain itu, ia juga merangkul beberapa produsen film seperti Cineclick Asia dan IHQ dari Korea. Oleh-oleh dari Cannes International Film Festival di Perancis juga lumayan. Ia membawa pulang lebih dari selusin film dan menggaet produsen film seperti Capitol Film, Fabrication Film, MK Pictures, Voltage Picture dan CJ Entertainment.

Selain film independen dari luar negeri, Blitz juga menampung film-film independen karya anak negeri. “Kami ingin menjadikan film sebagai sebuah kebudayaan,” tegas Wendy. nah, untuk cita-cita itu, sejak awal Blitz mendesain diri untuk menerima film dalam format digital untuk ditayangkan di Blitz. Dengan format ini, Blitz akan memutar film tidak menggunakan media seluloid tetapi menggunakan media berupa sinyal data yang dikirim dari studio.

Menurut Jujur Setiawan dari PT Amaze Logitech yang menjual perangkat untuk digital cinema, sesungguhnya teknologi ini bukan sesuatu yang baru. “Di luar negeri, teknologi ini sudah bergulir sejak empat tahun silam,” tegasnya. Di Indonesia, teknologi ini belum dimanfaatkan lantaran orang awam tak bisa membedakan antara format digital cinema dengan format film 35mm. Selain itu, hitungan bisnisnya belum masuk. Wajar, pihak bioskop juga harus menanggung ongkos menyewa satelit yang tak murah. Namun para pembuat film tak perlu khawatir. Blitz sudah memperhitungkan keinginan pembuat film yang modalnya cekak.

Nah, rupanya kita perlu melihat hubungan antara film, bioskop dan penonton lebih luas lagi daripada sekadar sebuah industri yang melipatkan laba.  Hadirnya Blitz yang menyusul Surya dan MPX serta bersanding dengan 21 Cineplex ini mestinya bisa dilihat sebagai perbedaan yang bisa dikelola dengan terbuka dan sehat. Nggak ada pemain baru, nggak rame kan!


8 Responses to “Blitz Megaplex”


  1. 1 cyn
    December 12, 2006 at 5:56 am

    wah fem, postingan yg ini menarik😉
    walaupun panjang n KONTAN banget ekekekekeke..

    seru ya klo blitz bisa buka di bogor🙂
    *movie lover mode on*

  2. 2 pembaca kontan
    January 24, 2007 at 2:20 am

    ini memang salinan dari kontan seluruhnya kan? atau anda memang yang menulis artikel2 ini di kontan?

  3. March 13, 2007 at 3:23 pm

    dengan adanya BlitzCinema mudah2an mjd 1munisasi bagi perfilman !ndonesia shg perfilman 1ndonesia tdk monoton dan menjemukan, aplgi di tambah dg alat yg canggih…

    diharapkan pula dg adany BlitzCnm4 bukanlah sebuah bakteri yg akan menggembosi bioskop2 yg sdh ada shg tdk tercipta pengangguran…

    weeh pemerintah…
    perbaiki perekonomian…
    pengangguran….
    biar kami bisa nonton di BlitzCnm4..
    krn pasti mahal tiketnya…
    pasti pula akan tercipta kesenjangan antara BlitzC dg 21 dan Bioskop yg lain….

  4. March 23, 2007 at 2:07 pm

    Denger-denger di Grand Indonesia udah buka ya? Sayang websitenya mati. Di 108 belum terdaftar. Payah nih hehehe..

  5. 5 nuNie
    May 1, 2007 at 1:41 am

    mau nonton di Bllitz ato di 21 cineplex kayanya sama aja deh..film2nya juga sama aja… what’s the big deal anyway?

  6. September 12, 2008 at 3:30 am

    Yth.GPBSI: Untuk memberikan bantuan kepada bioskop-bioskop kami mohon dapat menyampaikan data bioskop di Indonesia. Atas kerjasamanya diudapkan terima kasih.

  7. October 7, 2016 at 6:15 pm

    It’s remarkable to visit this site and reading the views of all mates concerning this piece of writing, while I am also keen of getting experience.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


November 2006
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Archives

Flickr Photos

Chin Scratching Short-eared Owl

Making A Splash

Chouette épervière -  Northern hawk owl - Surnia ulula

Trillium Lake Alpine Glow

Pierless

A Candlelight Dinner

friend and foe

Ice Age Arrows.

More Photos

%d bloggers like this: