30
Dec
06

Disunat lebih dari 50 persen

The Da Vinci Code yang versi DVD dan VCD originalnya sudah beredar sejak 10 Oktober silam. Inilah film yang ditunggu-tunggu oleh penikmat film. Di beberapa negara, film ini menuai protes dan tak layak tayang. Untungnya, badan sensor film Indonesia meloloskan film ini dan menayangkannya di sejumlah bioskop.

Meski film versi bioskopnya sudah bisa dinikmati penonton, banyak yang masih berburu format DVD-nya.
Nah, mereka yang memegang kartu kredit Visa dan Visa Electron memprioritaskan para pemegang kartu untuk melakukan pembelian film The Da Vinci Code hanya dengan Rp 59.500 per film. Padahal, film yang didistributori oleh Duta Mitra ini harga aslinya mencapai Rp 139.000 per film. Potongan yang gila-gilaan ini hanya bisa didapatkan di outlet Disc Tarra dan Tarra Megastore diseluruh Indonesia.

Selain the Da Vinci Code, ada 55 judul DVD lain yang juga dilempar ke pasar dengan harga yang sama. Misalnya, Kungfu Hustle, My Best Friend’s Wedding, Stealth, Hollow Man, Fifth Element, Men In Black 1-2, Seven Years In Tibet, Spider Man, Main in Manhattan, Crouching Tiger Hidden Dragon, 13 Going On 30, Hitch,  Erin Brockovich, Jumanji, dan masih banyak lagi. Besarnya peminat terhadap DVD diskonan ini cukup besar. Maka, saat program bersama Visa ini usai, Disctarra masih memperpanjang masa diskon hingga saat ini.

Sesungguhnya, tak ada yang berbeda antara isi film yang dibanderol Rp 59.500 dan Rp 139.000. Produser tak membuat versi yang lebih pendek, atau kualitas gambar yang lebih rendah. Menurut seorang penjaga di gerai Disctarra, label harga film orisinal itu bisa dipotong lebih dari separo karena dicetak oleh perusahaan lokal, yaitu Duta Mitra, yang notabene masih ‘sedarah’ dengan Disctarra. Selain itu, dalam format kepingan berdiskon itu tak memuat ekstra scene. “Biasanya, kolektor sejati justru memburu DVD yang ada ekstra scene-nya,” tukas karyawan Disctarra.
Kualitas sama, harga beda

Disctarra memang tidak mengkhususkan penjualan kepingan orisinial dengan harga spesial ini pada pembeli yang bukan kolektor sejati. Dengan demikian, pasarnya jauh lebih luas. Nyatanya, pembeli film-film ini juga tak sedikit. Meski film yang paling banyak diborong pembeli adalah The Da Vinci Code, toh film-film lainnya juga menunjukkan penjualan yang lumayan. “Biasanya orang beli The Da Vinci Code, kemudian mumpung yang lain murah, kemudian sekalian beli,” tukas si karyawan.

Banderol film dengan harga yang tak biasa ini juga dijual di gerai Video Ezy. Sama seperti Disctarra, Video Ezy Internasional juga mencetak film-film orisinal yang dijual dengan harga Rp 29.000-39.000. film-film ini didistribusikan lewat bendera Video Ezy Entertainment. Bukan hanya DVD saja yang dibikin, tetapi juga CD. Dulunya, Video Ezy menggunakan bendera Sinecom untuk mendistribusikan film Petualangan Sherina hingga menembus penjualan 100 ribu kopi.

Tetap saja, bila dihitung jumlah cakram yang diproduksi, film Indonesia jauh lebih banyak ketimbang film Mandarin dan Hollywood. Selain Petualangan Sherina, film yang diperbanyak Video Ezy yang terbilang sukses penjualannya di pasar adalah Arisan, Belahan Jiwa, Jose, Garasi  dan Rindu kami PadaMu. “Kami memang sangat berkosentrasi di film Indonesia, tapi ada juga yang Mandarin dan Hollywood,” tukas Linda Teresia, Direktur Marketing Video Ezy Internasional

Dalam bisnis ini, perusahaan seperti Duta Mitra maupun Video Ezy Entertainment tidak sekadar membeli lisensi. Mereka juga bekerja sama dengan para produser untuk mengedarkan filmnya. ”Kami mengajak para produser untuk melakukan sharing, dan ini membawa keuntungan yang lebih pada produser, cerita Linda. Soal harga lisensi yang berlaku 3-5 tahun ini, Linda memilih tutup mulut. “Saya tidak bisa menyebutkan secara spesifik karena range sangat luas dan banyak,” kilahnya.

Bila penjualan cakram-cakram ini bagus, ongkos lisensi itu tidak akan terhitung ‘mahal’. Sebaliknya, bila penjualannya jeblok, maka modal yang keburu ditanam oleh investor akan amblas percuma. Bisa jadi, ini pula yang membuat film-film orisinal menjadi begitu murah. “Jangan cuma nilai rupiahnya, yang penting disini adalah sebagai badan usaha yang bertugas distribusi dan memiliki lisensi, bersama produser kita berharap film Indonesia menjadi tuan rumah!” tegas Linda.

Dalam kerjasama ini, jumlah cakram orisinal yang dicetak minimal 10 ribu keping. Setelah itu, film didistribusikan ke agen, ritel dan distributor. Kepingan orisinal yang dicetak oleh Duta Mitra, juga didistribusikan oleh Video Ezy, dan begitu juga sebaliknya. Film-film ini juga bisa didapatkan di glodok, meski kawasan itu lekat dengan ‘kawasan kepingan bajakan’. (Lihat boks: Glodok: Diskon Seumur Hidup)

Laris tidaknya film-film yang orisinal berbanderol murah ini tak lepas dari promosi yang dibuat oleh gerai itu sendiri. Itu sebabnya, Disctarra berani menjual cakram DVD orisinal film-film terbaru, salah satunya dengan merangkul Visa dan tetap meneruskan promosinya meski kolaborasi dengan Visa sudah selesai. “Khusus film Indonesia, saya klaim, di tempat saya yang terbaik,” cetus Linda.

Trik menjual cakram orisinal ini juga ditempuh Suryadi Yakin yang memiliki bisnis bioskop Surya M2 di bilangan Mangga Dua. Lantaran 60% film yang diputar di bioskop ini adalah film Hong Kong dan Korea, maka ia pun berinsiatif untuk mencetak beberapa film laris diatas cakram DVD maupun VCD orisinal. Dengan mengantongi lisensi dari si produser, kepingan-kepingan asli itu dijual di pojok bioskop Surya M2 dengan rak khusus.

“Biasanya, orang yang suka dengan filmnya, ingin mengkoleksi film itu. Makanya, kami mencetakkan ini,” ujar Suherdi, Supervisor Surya M2. Menurutnya, tak sedikit penonton yang usai menonton film di Surya M2, langsung mencari filmnya. Pasar empuk inilah yang dimanfaatkan oleh Surya untuk mengais untung. Untuk menggenapi promosi ini, kadang-kadang Surya mengundang artis filmnya langsung dari Hong Kong untuk dihadapkan pada penggemar-penggemarnya di Indonesia.

Glodok: Diskon Seumur Hidup

Diantara lapak-lapak di Glodok yang menjual kepingan bajakan seharga Rp 4000-7000, nyempil satu lapak kecil nan sumpek, yaitu Sumber Makmur. Lapak ini mengkhususkan diri sebagai distributor cakram film maupun musik yang original alias asli. “Disini asli semua, saya nggak jual yang nggak asli,” tukas perempuan setengah baya. Sepertinya dia adalah si empunya lapak. Ia kemudian tampak sibuk di belakang meja, sambil sesekali menghitung dan memeriksa cakram demi cakram. Ia hanya dibantu oleh satu karyawan. Wajar bila lapak ini tak membutuhkan karyawan yang banyak. Soalnya, pembelinya tak berjubel seperti lapak-lapak di kanan-kirinya.

Deretan cakram itu tertata dengan rapi di rak yang sederhana. Bila ada yang meleset sedikit saja, atau tidak diletakkan pada tempatnya, si karyawan akan membetulkan segera. Cakram yang berbaris itu terdiri dari ratusan film mandarin, hollywood, bollywood, indonesia, karaoke lagu-lagu indonesia maupun asing, serta lagu anak-anak. Semuanya menempel di rak sederhana yang menempel di tembok. Sementara, stok DVD, CD maupun VCD masih terbungkus rapi dalam kardus yang berserakan di lantai.

Meskipun menempati kawasan yang berhawa panas, namun lapak ini dimanajemeni dengan bagus. Lihat saja, semua cakram asli di lapak itu dijual dengan harga yang cukup ‘gila’. Semua kepingan itu didiskon antara Rp 4.000-7.000 per keping. Bahkan, bila membeli dalam jumlah yang banyak, rabat yang diberikan bisa lebih besar lagi. Padahal, film yang dijual asli dan sama persis dengan yang dipajang di pusat-pusat perbelanjaan. “Saya kasih diskon, soalnya disini nggak pakai AC dan pajaknya kecil,” cetus perempuan setengah baya itu.

Semua bisa mafhum dengan alasan itu. Harga cakram berbanding lurus dengan suasana lapak itu sendiri, meskipun cakram tersebut sama-sama asli dari tangan produsen. “Saya jamin, asli, sama dengan yang dijual di toko,” imbuhnya. Tapi, jangan bandingkan penjualan kepingan original ini dengan penjualan kepingan bajakan yang ada di kanan-kirinya, lo. Penjualan cakram original ini tidak sefantastis cakram bajakan. Yang jelas, penjualannya bisa mencapai puluhan, bahkan ratusan keping per hari. Ada yang beli satu-dua keping saja, tetapi juga ada yang beli puluhan keping dalam satu tempo.

Nah, di lapak yang bikin berkeringat ini, tak perlu menunggu diskon dari penerbit kartu kredit atau dari gerai yang berbaik hati memperpanjang masa diskonnya. Soalnya, di lapak ini Anda mendapatkan diskon seumur hidup!


2 Responses to “Disunat lebih dari 50 persen”


  1. February 13, 2007 at 3:30 am

    Minta nomor telpon/alamat jelas sumber makmur dong🙂 mo borong orisinal nih. Japri juga gpp.
    Terimakasih

  2. 2 Yanti
    November 28, 2007 at 3:44 am

    Bisa minta no.telepon/alamat jelas Sumber Makmur dong…karena saya sangat amat memerlukannya sesegera mgkn😉


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


December 2006
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Archives

Flickr Photos

Lago di Braies

Red and Gold

Sol Duc Falls

Wasting Light

Back to forest

Red Lane 3

Prairie Falcon 2016

Suitcases

More Photos

%d bloggers like this: