06
Jan
07

Kedelai: seupil tapi mahal

Pertengahan Desember 2006 lalu, sebuah sinyal dicuatkan oleh Thomas Dharmawan,  Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI). Menurut hitungannya, tahun 2007 ini bakal terjadi kenaikan harga produk makanan olahan sebesar 5%-15%. Penyebabnya adalah kelangkaan dan kenaikan harga bahan baku di pasaran. Produk makanan olahan yang akan naik diantaranya beras, gula, biji-bijian, dan gandum.

Kedelai, contohnya. Komoditas pertanian ini sangat penting karena beragam kegunaan. Selain untuk dikonsumsi langsung maupun sebagai bahan agroindustri seperti tempe, tahu, susu kedelai, tauco, dan kecap, kedelai juga digunakan untuk keperluan industri pakan ternak. Nah, kenaikan harga kedelai ini sudah dimulai sejak September 2006 lalu, dan diramalkan akan berlanjut hingga tahun 2007 ini.

Yah, harap maklum, kebutuhan kedelai di Indonesia terus membengkak setiap tahunnya. Coba, catat angka ini. Pada Pelita I kebutuhan perkapita hanya 3,43 kg, bandingkan dengan kini yang kebutuhan perkapita mencapai 13,41 kg. Bandingkan pula produksi rata-rata nasional 1,2 ton perhektar, sementara produk rata-rata dunia saat ini sudah mencapai 1,9 ton per hektar. “Sekali panen, stok kedelai lokal habis dalam waktu 2 bulan,” ujar Sutaryo, Ketua Bidang Usaha Primer Koperasi Pengusaha Tahu Tempe Indonesia (Primkopti).

BPS juga merilis angka fakta soal kedelai. Produksi kedelai pada 3 tahun terakhir mengalami peningkatan sebesar 3,75%. Setiap hektar lahan mampu memproduksi 2,5-3 ton per hektar. Rata-rata kebutuhan kedelai mencapai 2 juta ton per tahun. Dengan produksi kedelai nasional yang hanya memenuhi 40%-nya, maka perlu impor sebesar 60%-nya. Devisa yang hilang dari impor ini sekitar Rp 3 triliun per tahun. Sedangkan impor bungkil kedelai telah mencapai kurang lebih 1,3 juta ton per tahun, menciutkan devisa negara sekitar Rp 2 triliun per tahun.

Temuan BPS ini sedikit berbeda dengan Sutaryo yang menghimpun 1200 produsen tempe dan tahu di Jakarta Selatan, atau 4000 produsen di DKI Jakarta. Menurutnya, dengan kebutuhan 2 juta ton kedelai setiap tahun, produksi kedelai lokal hanya memenuhi 20%, sedangkan sisanya adalah impor. “Tetapi, kalau pihak Deptan dibilang begitu, nggak mau!” seloroh Sutaryo. 

Berapapun angka impor dan produksi kedelai lokal, produsen tahu dan tempe adalah industri yang paling dekat dengan kedelai. Saat ini, mereka membeli kedelai impor Rp 3.650 per kg, dan kedelai lokal Rp 3.850 per kg. “Harga kedelai naik-turun setiap hari, antara Rp 100-200 per kg,” cetus Sutaryo.Tentu saja, harga yang kedelai yang berfluktuasi, membuat harga tahu dan tempe naik-turun.
Ukurannya lebih kecil

Sutaryo pun menggambarkan bagaimana bisnis produksi tahu dan tempe ini berjalan ditengah harga kedelai yang berfluktuasi. Menurutnya, masa kejayaan pasokan kedelai untuk tempe dan tahu di Indonesia sudah berakhir pada tahun 1997. Saat itu, Kopti di zaman rezim Orde Baru memang salah satu koperasi yang termaju di Indonesia, dengan anggota hampir setengah juta perajin tahu tempe dengan melibatkan jutaan pekerja. Namun sejak monopoli kedelai dicabut dari tangan Bulog, petani kedelai serta produsen tempe dan tahu menjadi kalang kabut.

Hingga saat ini, produsen tempe dan tahu di Jakarta terus kelimpungan dengan harga kedelai yang berganti setiap minggu, bahkan setiap hari. Dari 4000 produsen tempe dan tahu, setiap pengrajin membutuhkan kedelai sekitar 50-100 kg per hari untuk tempe, dan 100-500 kg per hari untuk tahu. Dengan harga jual yang stabil, mereka mencuwil keuntungan sebesar 30% dari harga penjualan. “Sesungguhnya, keuntungan ini belum cukup,” ujar Sutaryo.

Meskipun jumlah produsen tahu dan tempe tetap stabil, toh mereka harus bertahan dengan gempuran tarif kedelai impor sebesar 10%. Sudah dikenai tarif impor, toh harga kedelai impor tetap lebih murah. Celakanya, pengenaan tarif impor ini tak dibarengi dengan swasembada kedelai. Alih-alih swasembada, Deptan pun tampak bingung dengan Program Bangkit Kedelai yang dicanangkan hingga dua kali. (baca boks: Apa kabar Program Bangkit Kedelai?)

Berondongan impor kedelai dari Amerika inilah kemudian dituding sebagai penyebab petani kedelai menyulap lahannya untuk lahan jagung. Maka, dengan kondisi ini, satu-satunya jurus yang bisa dilakukan oleh produsen tahu dan tempe adalah memperkecil ukuran tempe. “Konsumen tidak terganggu, tetapi produsen yang terganggu karena tidak bisa menetapkan harga,” ujar Sutaryo.

Di Indonesia, setiap tahun konsumsi tempe itu mencapai 8 kg per kapita per tahun, sedangkan tahu sekitar 7 kg per kapita per tahun. “Kalau kedelai nanti mahal, bisa jadi nanti ada campurannya dengan jagung,” ujar Thomas, menduga.

Pemerintah mestinya tak berpangku tangan saja melihat produsen tahu dan tempe yang digebuk pelan-pelan oleh naik turunnya harga kedelai ini. Bayu Krisnamurti, Deputi Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Menko Perekonomian sudah bisa meliht pergerakan harga komoditas biji-bijian, termasuk kedelai, sejak bulan September tahun lalu. “Kenaikannya sekitar 30%, dan dampaknya memang pada industri tahu dan tempe,” ujarnya.

Bayu mengingatkan bahwa penyebab kenaikan itu adalah keputusan beberapa negara yang mengonversi jagung untuk produksi etanol dan hal itu berdampak melonjaknya harga jagung hingga 20%. Selain itu, juga terjadi gagal panen gandum di Australia sehingga menaikkan harga gandum di pasar. Nah, sebagai juru kuncinya, harga kedelai naik lantaran kedelai digunakan untuk substitusi jagung maupun gandum. “Ini bukan masalah nasional saja, tetapi juga global,” tukasnya.

Maka, menurut Bayu, tidak ada cara lain kecuali menggenjot produksi kedelai nasional. Apalagi, menurut F Rahadi, pemerhati agribisnis, Jepang adalah negara yang paling meminati kedelai Indonesia. Alasannya, karena mereka menolak kedelai Amerika.

Sayangnya, gagasan ini menemui jalan buntu, yaitu gencarnya kedelai Amerika menggelontori Indonesia. Di negara adi kuasa itu, cerita Thomas, kapal yang mengangkut kedelai itu berkapasitas 50-75 ribu ton dalam sekali angkut. Sesampainya di Indonesia, mereka menyewa gudang di bilangan cilegon untuk pengepakan dan langsung didistribusikan.

Cara ini berbeda dengan petani Indonesia yang tidak efisien dalam pengepakan karena dilakukan berulang kali. Ini pula yang membuat ongkos kedelai lokal menjadi mahal. “Selain itu, pemerintah kan ganti 8 kali dalam 10 tahun, maka setiap ganti pemerintahan, kebijakannya selalu berbeda-beda!” seloroh Thomas.

Perputaran kedelai ini memang seperti labirin yang sulit menemui ujung pangkalnya. Mengutip gugatan Sutaryo, “Sebenarnya, tinggal bagaimana kesungguhan pemerintah, mau dibina dan ditangani dengan cara bagaimana?”

Bisa jadi, aparat pemerintah tak makan tempe dan tahu, jadi tak tahu bagaimana membereskan keruwetan potongan tempe dan tahu yang kian menciut ini.


2 Responses to “Kedelai: seupil tapi mahal”


  1. 1 secret
    September 26, 2007 at 9:10 am

    jadi serba susah ya. mau jadi petani kedelai kebanting sama kedelai impor. mau jadi pengusaha tempe atau tahu sama aja susahnya , naiknya harga kedelai buat bahan bakunya,otomomatis harga jualnya jadi naik padahal bagi konsumen di Indonesia memakan tahu dan tempe itu jadi makanan sehari-hari apalagi bagi kalangan masyarakat ekonomi bawah. gimana donk pemerintah, deptan semua pihak yang terkait untuk mencari solusi yang tepat. Kalau bisa tuh gimana caranya supaya produktivitas kedelai kita jadi meningkat. jadi kita gak harus ketergantungan sama impor kan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


January 2007
M T W T F S S
« Dec   Feb »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Archives

Flickr Photos

Chin Scratching Short-eared Owl

Making A Splash

Chouette épervière -  Northern hawk owl - Surnia ulula

Trillium Lake Alpine Glow

Pierless

A Candlelight Dinner

friend and foe

Ice Age Arrows.

More Photos

%d bloggers like this: