08
Jan
07

Wine, besar dan terus membesar

Bila Anda menyambangi toko wine Vin+ di bilangan Kemang tahun 2004 lalu, toko itu terlihat penuh dengan koleksi wine yang berjumlah sekitar 400 label. Wine itu datang dari California, Chile, Afrika Selatan, Argentina, Australia, Selandia Baru, Italia, Spanyol, Jerman serta Prancis. Gerai ini bertambah sesak saat ujung tahun 2006 lalu. Koleksi wine nya mencapai lebih dari 1000 label. Sekilas, angka ini cukup besar. Namun, menurut Yolanda Simorangkir, Manajer Pemasaran Vin+, jumlah itu masih kurang. “Idealnya, untuk ritel setidaknya ada 1200 label,” ujar Yolanda.

Wajar saja Vin+ membukukan kenaikan jumlah label dalam waktu dua tahun sekitar 600 label. Artinya, konsumsi wine di Indonesia, khususnya di Jakarta, juga menunjukkan grafik yang menaik. Tetapi Yolanda tidak sendirian. Menurut Billy Budiman, pemilik toko wine online www.the-cellars.com, “Banyak orang yang beralih dari minuman keras ke wine.” Setiap bulan, Billy mampu menjual sekitar 15 karton. Bila setiap karton berisi 12 botol wine, hitung sendiri berapa banyak wine yang terserap di pasar Indonesia.

Kenaikan ini juga terlihat dari angka kuota yang diberikan pada Perancis. Menurut data yang didapat KONTAN, kuota wine Perancis mengalami kenaikan 28% dari tahun 2005. “Impor wine Perancis sebanyak 24 ribu karton pada tahun 2006,” ujar Nita Iskandar, Deputi Direktur Kamar Dagang dan Industri Indonesia Perancis.

Membengkaknya konsumsi minuman keras golongan B yang kadarnya tak lebih dari 20% ini sejalan dengan temuan Direktorat Jendral Bea dan Cukai. Pada tahun 2005, cukai yang ditargetkan dari impor minuman mengandung etil alcohol (MMEA) dan etil alcohol (EA) pada tahun 2005 menjadi Rp 599 miliar melebihi target yang semula Rp 500 miliar saja.

Seiring dengan membaiknya perekonomian masyarakat, Direktur Cukai Frans Rupang optimis daya beli masyarakat terhadap minuman keras akan naik. “Semakin melonjaknya kecenderungan masyarakat untuk mengkonsumsi wine, juga menjadi salah satu harapan adanya penambahan cukai dari produk tersebut,” tukas Frans.

Tentu saja, jangan bandingkan Indonesia dengan negara penghasil angur seperti Australia atau Perancis. Konon, The Wine Room pernah mendeteksi bahwa dalam setahun setiap orang Prancis saat ini minum sekitar 120 liter anggur per tahun, meningkat dari 80 liter anggur per tahun pada 1960-an. Bandingkan dengan Indonesia yang konsumsinya diperkirakan hanya 0,2 liter anggur per kapita per tahun.
Pertumbuhannya dobel digit
Toh, rekaman sejumlah pemain di bisnis ini menunjukkan cerahnya bisnis ini. “Ini adalah bisnis gaya hidup!” tukas Edhi Sumadi, Country Manager Pernod Richard Indonesia. Di Indonesia,  perusahaan ini memasok setidaknya 50 merek wine dan spirit yang beredar di Indonesia. Merek wine milik Pernod Richard yang jamak dijumpai adalah Zonin, Long Mountain, Jameson, Wyndham Estate, Clann Campbell, Jacob’s Creek dan Alexis Lichine.

Menurut Edhi, perushaannya mencatatkan pertumbuhan setiap tahun rata-rata meningkat 10-15%. Bagi Edhi, angka pertumbuhan inis sudah cukup baik ditengah aturan main yang sangat kompleks. Misalnya saja, minuman keras di Indonesia mahal harganya, ada limitasi bagi distributor, tidak boleh promosi di lini above the line (ATL), serta masyarakat yang masih sensitif dengan harga.

Benar. Di Indonesia, harga anggur tergolong mahal, apalagi ditambah dengan pajak seperti bea masuk, pajak barang mewah atau PPN. Jangan heran, anggur yang termasuk jenis koleksi, seperti Romane Conte tahun 1996 koleksi Vin+, harganya bisa Rp 80 juta/botol. “Apalagi, pajak-pajak di Indonesia ini cukup besar, bisa mencapai 400%,” kata Edhi.

Wine yang diusung oleh Pernod Richard ke Indonesia ini banyak dari Australia. Menurut Yolanda, wine dari Australia ini memang tengah menjadi primadona saat ini dengan penjualan yang semakin membesar. Selain harganya relatif terjangkau, rasanya pun tak kalah dengan negara penghasil anggur lainnya seperti Perancis dan Italia. Nah, yang paling favorit dari negeri kanguru itu adalah Whyndam Estate dan Jacobs Creek. “Penjualan di Indonesia pun terbilang lumayan, yaitu masing-masing 10 ribu botol dan 5000 botol per tahun,” tukas Edhi.

Di Indonesia, penjualan wine Perancis bisa disandingkan dengan wine Australia. Sedangkan wine Chile mulai bisa disamakan dengan penjualan wine dari Italia. Diluar negara-negara penghasil anggur yang produknya banyak dikonsumsi di Indonesia, sesungguhnya ada beberapa negara penghasil wine yang berulangkali menyambangi Indonesia dan menawarkn produknya. Hanya saja, para pemain ini terbentur dengan kuota yang diberikan pemerintah, dan label wine yang belum begitu dikenal. Misalnya saja, wine bikinan Austria, China, Lebanon, dan Yunani. “Wine dari Austria punya potensi yang cukup besar di Indonesia,” cetus Yolanda.

Soal layak tidaknya sebuah label wine masuk di pasar Indonesia, tergantung pada pasar. Itu sebabnya, sebuah gerai wine menyiapkan wine dari semua level, dari yang paling murah hingga yang paling mahal. Alhasil, penyerapan pasar akan menunjukkan label mana yang disukai dan tidak disukai. “Pemula, biasanya memilih wine dengan harga dibawah Rp 200 ribu, level diatasnya adalah antara Rp 200-500 ribu, dan level yang paling atas adalah diatas Rp 500 ribu,” imbuh Yolanda.

Orang Indonesia yang sensitif dengan harga ini tercermin dari konsumsi di level yang paling bawah. Untuk itu, dari semua koleksi yang ia punyai, sekitar 40% wine memiliki banderol harga dibawah Rp 200 ribu, 25% kelas medium, dan 25% kelas atas.

Penjualan wine Pernod Richard memang lebih kecil ketimbang spirit. Dari volumenya, perbandingan keduanya adalah 65:35 untuk spirit dan wine. Sedangkan dari segi nilainya, 85:15. “Wine yang paling laku di Indonesia harganya dibawah Rp 300 ribu per botol,” jelas Edhi. Nah, bagi pemain di bisnis ini, uang mati atau perputaran uang yang macet adalah sebuah masalah besar. Besarnya tak lebih dari 5%. Bukan karena tidak enak atau pecah, tetapi memang tidak laris. Maka pemain bakal melego wine dengan banderol yang lebih murah, sehingga penyerapan pasar menjadi lebih besar

Menggairahnya konsumsi wine di Indonesia ini memang harus diimbangi dengan modal yang cukup. Yolanda, misalnya. Untuk membangun gerai wine dan berbelanja wine dengan sistem beli putus, ia harus membenamkan koceknya setidaknya Rp 2 miliar.

Angka yang setara juga dicatatkan oleh Suryadi Jaya, Direktur PT Sarana Tirta Anggur. Perusahaan yang bergerak di distribusi wine ini memasarkan sekitar 300 merek wine impor ke 350 gerai wine di Jakarta. Untuk itu, ia butuh dana sekitar Rp 1 miliar. Eh, itu hanya untuk investasi di botol anggurnya saja, lo. Suryadi masih harus menyewa tempat, mengurus perizinan, membayar pajak, dan sebagainya.

Menurut Suryadi, setidaknya modal ini akan kembali dalam waktu 4-5 tahun. Dengan catatan, wine yang dijual di kisaran Rp 200-500 ribu per botol, dengan margin laba 40%-50% dari harga jual per botol. Menurutnya di pasar Indonesia, wine seharga Rp 200-500 ribuanlah yang cepat diserap dan banyak diminati. Sedangkan wine dengan harga puluhan juta rupiah, hanya kalangan tertentu yang mampu membelinya sebagai barang koleksi.

Ayo, rame-rame minum wine, hitung-hitung membengkakkan angka penyerapan wine di Indonesia.


20 Responses to “Wine, besar dan terus membesar”


  1. 1 cyn
    January 9, 2007 at 5:33 am

    wine baik untuk kesehatan pencernaan dan jantung say hihihihi

  2. February 20, 2007 at 6:34 am

    Would you give me some information about wine stores in Indonesia?

  3. 3 wahyui
    March 14, 2007 at 1:29 pm

    dimanakah say bisam embeli winAustralia Genesis Chardonnay 2000

  4. 4 Alfino
    April 23, 2007 at 1:49 am

    Saya bukan seorang peminum “tapi ayah saya seorang pelayar” – saya akan menjual wine ayah saya…. dengan merek “Cinzano Rosso” – Casa fondata 1757 Italian Wine 1L – berapa harga yang cocok kalau memang di uangkan —- Terima kasih

  5. 5 dan
    April 28, 2007 at 8:34 am

    buset mas, 1757? wah, saya sih awam ya. tapi kalau dilihat dari tahunnya, yang saya liat di metro tv kemarin, tahun 1800-an aja bisa dijual USD 50 ribu. hehehe.

  6. 6 Om Broto
    June 15, 2007 at 8:55 am

    dulu cari wine gampang bener di supermarket pasti ada sekarang wuih susah bener, udah 2 minggu kelayapan di mall pada ngak ada, terakhir ke karawaci wine & spirit udah berubah jadi jualan coca-cola

  7. June 18, 2007 at 6:23 am

    OM BROTO, CARI WINE DI SEKITAR KEMANG. DISANA BANYAK BANGET WINE SHOP.🙂 SELAMAT HUNTING YA

  8. 8 The_Sonix
    September 25, 2007 at 4:46 pm

    wine merk apa ya, yang enak tapi murah? dan dimana aku bisa temuin dijogja? thax

  9. September 26, 2007 at 7:29 am

    wine di jogja?
    waduh … saya ga tau je.
    mm … bagaimana kalau kita minum bareng saja?

  10. 10 Tari
    September 28, 2007 at 5:40 am

    Aku ada koleksi wine keluaran tahun 1972 Volkacher Raisherr. Kalau ada yg berminat bisa hubungi aku.

  11. 11 richie
    September 17, 2008 at 3:18 am

    aku ada koleksi wine keluaran tahun 1930-an kalo berminat dapat menghubungi richie 0431-3438299

  12. 12 irina
    December 9, 2008 at 1:57 pm

    saya hobi wine, tapi sekarang saya lagi meminimalisir pengeluran saya, biasanya saya beli wine di connoisseur citos, kalo ga open di xxi lounge. belakangan ini saya beli di vin+ kemang karena harganya lebih rendah dibanding di citos atau lounge2 lain. nah, sekarang saya lagi cari rate yang lebih rendah dari vin+ , teman2 saya recommended untuk cari black marketnya, sekalian unutk buka bisnis juga. kinda distribution. bisa tolong bantu saya untuk dapet wine black market contact person? thanks banget ya. (sms:021-93554407)

  13. 13 Ramesh
    April 3, 2009 at 5:22 am

    I am in the corrugated box business. I also make wine boxes. Instead of using plastic bags use this. If interested pls call021-99164261 or email ptsabnani@yahoo.com Yhanks

    Ramesh

  14. 14 Fandi
    July 24, 2009 at 10:30 am

    Kalau di Medan dimana bisa membeli Wine yang bagus dan terpercaya? Pls info-kan ke 08126587919, saya akan sangat berterima kasih. Trims

  15. 15 E. TEA
    September 1, 2009 at 6:55 am

    apa nama PT/ supplier/ distributor dari produk cinzano dan martini di jakarta?

  16. 16 mey
    October 28, 2010 at 4:22 am

    Buat fandi, kalo mau cari wine di medan, ke wine shop yg ada di Grand Angkasa Hotel aja.
    dijamin bagus.

  17. 17 sandi
    December 22, 2010 at 3:17 am

    mau tanya donk,saya punya wine koleksi kakek saya..dan saya mau hual detelah kakek saya meninggal ini..di mana ya tempat jual wine gini??

  18. 18 dhean
    August 10, 2012 at 7:24 pm

    kalo cari data tentang penjualan wine tahun 2011 diindonesia gimana ya??

  19. 19 yana
    March 22, 2013 at 6:54 am

    Saya bekerja di distributor Wine Watershed brands from Margaret River..Harga Murah Dibawah Vin+..berminat hubungi saya di 021-71343932

  20. July 2, 2013 at 4:50 am

    Since West has recently started his own clothing line, I suppose he fancies himself a
    master in this department. And, considering the unquestionable fact that generous’
    users have also indicated that it’s a blast to run
    through it all. Yes, let’s put together your total refund when you treat a problem naturally.
    This happens especially if the genital wart virus will have a tendency to get the most significant sports games in his single Theraflu.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


January 2007
M T W T F S S
« Dec   Feb »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Archives

Flickr Photos

Lago di Braies

Red and Gold

Sol Duc Falls

Wasting Light

Back to forest

Red Lane 3

Prairie Falcon 2016

Suitcases

More Photos

%d bloggers like this: