16
Jan
07

Satu lagi dari MNC

Rasa puas agaknya tak pernah hinggap di tubuh Harry Tanoesoedibjo. Sejak mengangkangi PT Bimantara Citra Tbk, Harry terus menggelembungkan perusahaan yang lekat dengan aura orde baru itu. Bukan hanya jumlah anak perusahaan saja yang direnteng Harry, tetapi juga kas perusahaan. Hingga kuartal ketiga tahun lalu, tangan dingin Harry sudah mencatatkan keuntungan bersih Rp 303 miliar atau naik 1.236% dibandingkan periode yang sama tahun 2005 yang hanya Rp 23 miliar.

Nyatanya, memiliki sejumlah stasiun televisi, radio dan media massa cetak saja masih kurang. Ada celah yang belum diisi oleh Harry, yaitu media berita online alias portal berita dotcom. Wajar saja bila Harry harus berpikir ulang untuk bisnis ini. Sejak tahun 2002, ada beberapa pemain yang memilih tiarap dan melakukan reposisi. Sebut saja, Astaga, MWeb, Kopitime, MWeb, BolehNet. Praktis, hingga tahun 2005 nyaris tidak ada terobosan di dotcom Indonesia, kecuali game online.

Namun Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) melansir data pengguna internet di Indonesia. Tahun lalu, pengguna internet di tanah air mencapai 20 juta pengguna. Dan tahun ini berpotensi untuk menggelembung 5 juta pengguna, atau menjadi sekitar 25 juta pengguna. Angka ini cukup potensial sebagai ladang bisnis dotcom yang menggiurkan.

Nah, rupanya Harry meminati ceruk ini. Ia pun merenteng satu lagi anak perusahaan, kali ini dotcom, dengan nama Okezone.com. “Kami hanya ingin melengkapi kegiatan MNC menjadi media yang terintergasi,” jelas Harry. Penegasan Harry ini sudah terlihat dari penamaan situs ‘okezone’ yang menekankan kata ‘oke’ portal ini seperti slogan RCTI ‘Oke’. Jika tak meleset, portal berita ini akan resmi dimunculkan pada akhir Februari atau awal Maret 2007.

Sampai saat ini, portal berita detik.com bisa dikatakan yang terbesar di Indonesia. Menurut hitungan situs alexa, detik.com Selasa (16/1) kemarin berada di ranking 4.595 dunia dengan 440 juta pengunjung. Bila dibandingkan dengan situs kompas.com, portal berita milik surat kabar harian KOMPAS ini ada di ranking 6.341 dan dikunjungi 260 juta pengunjung.

Keduanya berjarak cukup jauh dengan tempointeraktif.com yang menduduki peringkat 51.245 dan didatangi 25 juta pengunjung. Namun, peringkat ketiga portal berita itu jangan dibandingkan dengan ranking portal okezone.com. Soalnya, alexa tak menyediakan data milik portal yang baru berumur sebulan ini lantaran masih berada di luar peringkat 100 ribu besar dunia.

Menantang detik.com

Menurut Nukman Luthfie, Virtual Consulting, lahirnya okezone.com ditangan MNC ini tak lain karena MNC ngiler dengan kue iklan dotcom yang menggiurkan. Contoh yang paling dekat adalah detikcom. Begitu portal berita ini menjadi nomor satu, maka ekspansi bisnis horisontal pun mudah dikepakkan. Seperti sms mobile, langganan berita tanpa iklan, dan belanja lewat internet. “Hasil jualan lewat internet ini malah lebih besar dari perolehan iklannya!” tegas Nukman.

Hal ini dibenarkan oleh sumber KONTAN yang namanya enggan muncul di koran ini. Detik.com mampu meraup iklan senilai Rp12 miliar setahun. Sementara itu, sms mobile yang berhasil dikantongi justru lebih besar, yaitu Rp 14 miliar. “Bahkan, portal berita kcm.com milik KOMPAS bisa mengumpulkan uang lebih dari Rp 10 miliar setahun,” jelasnya. Tentu, selain fakta angka dari APJII, keuntungan ini menegaskan kembali bahwa bisnis dotcom ini masih memiliki pasarnya saat ini.

Untuk menambang keuntungan yang sebegitu gurih, mestinya Harry harus lebih dulu menanamkan modalnya. “No, comment,” jawab Harry pendek, saat ditanya soal besarnya investasi yang ia gelontorkan untuk membangun okezone.com. Namun sumber KONTAN menyebutkan modal Harry untuk bisnis ini sekitar Rp 100 miliar. Menurut Nukman, membikin sebuah portal berita setidaknya menghabiskan minimal Rp 20 miliar. Modal segini biasanya diujikan untuk masa percobaan portal selama 3 tahun.

Berkaca pada pemain dotcom lawas yang sudah tiarap, mereka bahkan sudah menghanguskan sekitar US$ 30 juta selama 3 tahun. Maklum, biasanya mereka pol-polan menghamburkan kocek mereka yang dihitung pasti moncernya. “Biasanya mereka tak ingin tanggung-tanggung, dengan hitungan harus berhasil, padahal tidak,” tegas Nukman. Itu sebabnya, banyak dotcom berguguran karena kehabisan modal di tahun 2001. Hanya beberapa saja yang masih bisa bertahan karena masih menyisakan kapital cukup dan memiliki penghasilan dari iklan. Salah satunya adalah detik.com.

Soal permodalan, siapapun percaya MNC bakal mengasup okezone.com. Apalagi bila mengingat keuntungan yang menggemaskan yang bisa ikut menyumbang bisnis media milik Bimantara. Duo taipan yang jor-joran dalam permodalan adalah kelompok usaha Bakrie dan Putra Sampoerna. Dua taipan kelas kakap ini juga dikabarkan tengah mendesain World Wide Web (WWW) yang pernah dibahasakan sebagai Jejaring Jagad Jembar (JJJ) untuk portal berita, persis seperti yang dibikin oleh Bimatara.

“Ini inisiatif dari grup untuk membuat portal berita,” ujar Machless Kohinoor, VP Business Consulting Dewandari Capital yang mendesain portal milik Bakrie. Hitungan Bakrie adalah kebutuhan pasar akan berita ditengah media yang terus bergerak. Apalagi, komputer makin lama makin luas terjangkau. “Inilah saat yang paling masuk akal saat portal berita kemudian menjadi diperhitungkan,” imbuh Machless.

Bakrie sudah merencanakan portal berita ini sejak tahun yang lalu. Menurut kalkulasi Machless, perencanaan ini masih membutuhkan waktu sekitar setahun lagi. Baginya, membuat portal berita tidak sekadar menempelkan konten dan membuat kanal saja. Tetapi juga harus memetakan perangai pembaca media online yang berbeda dengan media offline seperti teve, radio maupun media cetak. “Pengalaman dotcom tahun 2000 membuat kami berhati-hati, lagipula, kami nggak ingin menjadi pengekor portal yang sudah ada,” tegasnya. Berarti, portal Bakrie ini baru bisa diakses tahun 2008.

Sayangnya, nama bagi portal milik Bakrie ini belum ditemukan. Yang jelas, kemunculan portal berita ini tidak ingin ditandingkan dengan detik.com maupun okezone.com. Soal modal yang sudah digelontorkan Bakrie, Machless memilih berkilah, “Bukan saya yang punya uang!” Namun ia menggambarkan, tak ada patokan baku untuk membuat sebuah portal. Dus, berapapun, akan terasa kurang dan kurang.

Menjiplak detik.com

Lantaran datang belakangan, semua penghadang ini harus memiliki desain dan konten yang unik yang berbeda dengan detik.com maupun portal berita lainnya. “Menyingkirkan nomor satu seperti detik.com ini butuh usaha yang besar,” ujar Nukman.

Usaha itu tentunya bukan menjiplak desain detik.com. Sejak pengunjung bisa mengakses portal berita berwarna biru langit ini, kebanyakan melihat kesamaan tampilan detik.com dan okezone.com. Perbedaan yang mencolok hanya pada dominasi warna biru khas MNC yang melekat pada tubuh okezone.com. Pembagian kanal, letak iklan dan indeksing berita milik okezone.com serupa dengan detik.com. Kemiripan inilah yang membuat sebagian pengakses menuding kehadiran okezone.com akan menantang detik.com. “Saya lihat, okezone.com menjiplak detikcom. Sejak awal harusnya dia sudah berbeda dengan detik.com,” papar Nukman.

Namun menurut seorang sumber yang membisiki KONTAN, miripnya model okezone.com dengan detik.com itu hanya masalah teknis saja. “Di okezone.com belum ada tim desainer yang menggarap desainnya,” katanya. Maklum, hingga saat ini, proses rekrutmen masih terus berjalan. Sebulan ini, okezone.com hanya ditenagai oleh 10 orang wartawan dan tim IT internal. Jadi, menurutnya, tampilan yang ada saat ini bukanlah tampilan final yang resmi digunakan untuk portal berita ini. “Ini bukan desain yang pasti, masih ada kemungkinan untuk diubah,” imbuhnya.

Portal berita milik Bakrie berbeda dengan okezone.com. Ditenagai oleh sekitar 10 orang, tim ini merancang portal berita yan memindahkan berita ANTV pada media online. “Bukan asal memindahkan saja, tetapi ada penterjemahan berita televisi menjadi online,” ujar Machless. Dus, kalau sudah begini, Machless bisa memastikan bentuknya tak bakal sama persis dengan detik.com

Terasa benar, jejarin internet tak bisa direm. Satu demi satu portal bermunculan dari investor yang tak pernah puas mengantongi lisensi media. Lebih dari sekadar membeberkan informasi, portal berita menjadi mesin pengeruk laba.


2 Responses to “Satu lagi dari MNC”


  1. February 1, 2007 at 4:10 am

    Artikel yang sangat-sangat saya butuhkan. Menarik sekali. Lha, memang di ranah teknologi terutama internet, memang Indonesia sering kalah cepat. Kalah cepat memasui pasar, menerapkan teknologi dan mengakomodasi kebutuhan pasar nasional.

    Semoga situs-situs lokal ini mampu menjadi tuan rumah yang bertaji. Jangan hanya kalah dengan MNC – multinasional company dari negeri Paman Sam, Korea atau Eropa.

    Tentang Om Harry yang kelihatannya gak puas dengan membesarkan jaringan bisnisnya sebaiknya kita lihat dari kacamata positif. Tidak semata tamak, tapi bagi seorang yang berskala seperti dia berekspansi adalah HABIT dan Challenge.

    Kalau gak ada orang seperti Om Harry, apakah perusahaan teri dan cetul mampu menantang company gede dari negara maju?!

    Akhir kata, semoga IT people di Indonesia mampu membalap di jejaring maya.

    ps: Tambahin dong info tentang Indline – salah satu perusahaan IT asli Indonesia.

  2. February 8, 2007 at 3:53 am

    Artikelnya keren2, keep up the great work!🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


January 2007
M T W T F S S
« Dec   Feb »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Archives

Flickr Photos

Chin Scratching Short-eared Owl

Making A Splash

Chouette épervière -  Northern hawk owl - Surnia ulula

Trillium Lake Alpine Glow

Pierless

A Candlelight Dinner

friend and foe

Ice Age Arrows.

More Photos

%d bloggers like this: