07
Feb
07

Meriung membincangkan AseanPay

Ini adalah putaran kedua setelah Juli 2006 lalu di Putrajaya, Malaysia. Forum ini bukan sekadar kongko-kongko omong-kosong perusahaan switching saja. Lebih dari itu, mereka ngobrol ngalor-ngidul soal AseanPay. Ide dasarnya sederhana, yaitu ingin menjadi ‘tukang antar’ recehan bagi tenaga kerja yang ada di luar negeri.

Sebagai gambaran saja, setiap bulan tak kurang dari 1,7 juta tenaga kerja Indonesia yang ada di Malaysia mengirimkan penghasilannya untuk keluarganya di Indonesia. Ini baru Malaysia saja, belum kesembilan negara Asean lainnya. Bila mereka mengirimkan US$ 100-500 per bulan, hitung saja berapa uang yang berputar di negara-negara Asean. Hitung juga berapa duit yang harus mereka sisihkan untuk ongkos pengiriman.

Dalam AseanPay ini, operator menyediakan fitur cash withdrawal, balance inquiry dan fund transfer untuk customer to customer (C2C). Paling tidak, dengan kliring yang beroperasi di negara-negara Asean, nasabah bisa mengerem ongkos transfer yang selama ini masih tinggi. Juga, pertukaran dua mata uang negara ASEAN tak akan mengalami dobel konversi melalui mata uang lain, seperti dollar Amerika.

Siapa saja yang duduk disana? Malaysian Electronic Payment System Sdn Bhd (MEPS) dari Malaysia, Interbank Transaction Management and Exchange (ITMX) dari Thailand, dan NETS dari Singapura. Yang berangkat dari Indonesia PT Artajasa Pembayaran Elektronis (Artajasa), PT Daya Network Lestari (Alto) dan PT Rintis Sejahtera (Rintis). “Kalau AseanPay ini bisa dimulai, dahsyat dong!” celetuk Sandy Hoo, General Manager PT Daya Network Lestari, penyelenggara jaringan Alto.

Nah, Indonesia ikut menyurung AseanPay ini melalui tiga operator yang lagi akur-akurnya. Sebelumnya, mereka sudah memulainya dengan memperluas jaringan kerja sama dengan operator di luar negeri. Contohnya, Artajasa sudah meluncurkan fitur koneksi dengan MEPS. Melalui jaringan ini, 67 bank anggota ATM Bersama di Indonesia bisa melakukan transaksi di lebih dari 4.500 ATM anggota Bankcard di Malaysia.

MEPS juga digandeng Rintis. Dulu, operator ini dulu pernah berniat menggandeng China Union Pay (CUP), perusahaan switching milik pemerintah China yang menguasai 4 bank besar di negerinya. Hanya saja, lantaran CUP ini maunya searah, Rintis mengurungkan niatnya tersebut. Nah, bentuk kerjasama antarnegara seperti ini modal awal untuk membangun jaringan ATM se-Asean yang kemudian dikenal dengan AseanPay.
Singapura batal jadi hub

Hitung punya hitung, ceruk yang tersedia untuk interkoneksi di negara-negara Asean ini bukan hanya tenaga kerja saja, tetapi juga para pelancong dan pekerja asing. Wah! Dengan sistem kliring yang dioperasikan di negara-negara Asean dengan mata uang lokal, maka ongkos yang mereka bayarkan untuk transaksi akan menjadi lebih murah. “Yang jelas, minimal sama dengan ongkos-ongkos yang sudah ada, atau sedikit lebih rendah,” ujar Arya Damar, Direktur Utama PT Artajasa Pembayaran Elektronis.

Sayangnya, hingga pertemuan kedua lalu, kesepakatan soal ongkos ini belum putus, baik . Begitu juga tarif untuk transfer. Wajar, pentarifan memang sensitif dan harus ekstra hati-hati. Tapi para operator mengusahakan agar yang diuntungkan jangan cuma bank doang. “Nantinya bisa saja ongkos setiap negara bisa berbeda,” papar Edi Siswanto, Direktur Direktorat Perijinan dan Informasi Perbankan BI.

Sekadar perbandingan saja, upah transfer uang tak akan jauh dari angka yang dipatok oleh Western Union maupun Moneygram. Sedangkan biaya tarik tunai dari kartu kredit kecil selisihnya dengan Visa maupun MasterCard. Soal besaran maksimal jumlah transfer, para operator sempat memunculkan angka US$ 2500. “Tapi itu masih usulan, kami lagi ngecek boleh atau enggak,” ujar Arya.

Forum tertutup ini juga membicarakan soal komunikasi data. Soalnya, agar AseanPay ini berjalan, perlu ada keseragaman penggunaan data komunikasi. Contohnya, mau pakai leased line atau Internet Protocol Virtual Private Network (IPVPN). Ini belum dikerjakan karena biaya koneksinya mahal. Lagipula, operator belum punya gambaran volumenya berapa,” terang Sandy. Kalau sudah ketahuan volumenya, imbuh Sandy, maka bisa menghitung berapa ongkos yang dibutuhkan.

Masalah yang sempat mengemuka adalah keinginan Singapura untuk menjadi hub bagi semua operator bank-bank negara Asean dalam AseanPay kelak. Singapura sudah menjadi hub bagi pelabuhan dan penerbangan. Kini ia ingin merambah untuk menjadi hub bagi keuangan Asean. “Kita maunya koneksinya bilateral, tidak ada hub di AseanPay,” tegas Aries barkah, Corporate development Group Head PT Artajasa pembayaran Elektronis.

Bukannya iri, tetapi negara-negara lain bahkan tak menginginkan adanya konsep hub dalam AseanPay. Kalau ada satu negara yang menjadi hub, praktis negara lain hanya sebagai pengantar uang saja. Itu sebabnya, setiap negara kemudian mewanti-wanti agar Singapura batal menjadi hub. Maka saat argumen dituturkan, Thailand, Malaysia dan Indonesia tak setuju adanya hub seperti ini. Ketiga negara ini juga ngotot untuk koneksi bilateral.

Bila satu negara Asean menjadi hub, maka ia akan lebih diuntungkan. Soalnya, otomatis volume keuangannya akan membengkak dan bisa bertindak untuk produk yang lain. Itu sebabnya, saat ketiga negara menolak keinginan Singapura menjadi hub, wajah operator dari negeri Singa itu langsung manyun kecut. “Kita nggak membutuhkan hub agar equal,” celetuk Suryono Hidayat, Direktur PT Rintis Sejahtera.

Nah, saat penuntasan putaran kedua ini, disepakati konversi mata uang asing dilakukan oleh issuer switch, settlement currency dalam mata uang lokal, settlement rate menggunakan rate saat transaksi tanpa resiko kurs, dan limit transaksi penarikan tunai ditentukan oleh bank Issuer dengan terminal ATM yang harus dapat mengeluarkan sampai dengan 20 lembar uang dalam satu kali transaksi. Selain itu settlement payment berdasarkan jumlah settlement terbesar dan payment risk melalui bank garansi yang dikeluarkan oleh setiap switching berdasarkan perjanjian bilateral.
Bukan AseanPay lagi

Selain operator, forum ini juga mengundang CUP. Kepentingan CUP dalam hal ini ada pada NETS dan MEPS yang sudah bergandengan dengannya. Para pejabat dari bank-bank sentral juga ikut nimbrung. Keempat bank sentral itu angkat bicara bila para operator ini terbentur soal regulasi. Konon, beberapa minggu sebelumnya, mereka sudah bertemu untuk menyiapkan soal pertemuan AseanPay ini. “Terutama mereka punya kepentingan mengenai aliran uang, kan mereka ingin tau sekali soal itu!” bisik seorang sumber KONTAN.

Edi pun buru-buru menepis soal dugaan itu. “Wah, kalau kami sih memang sering ngumpul!” tukasnya. Menurutnya, BI terus mendukung agar Indonesia terkoneksi dengan negara-negara Asean. Dari segi regulasi, tak jadi soal. “Tapi untuk pelaksanaannya kapan, masih belum ditentukan,” ujarnya.

Panjangnya perjalanan AseanPay ini bukan hanya membutuhkan dukungan dari bank-bank sentral saja, tetapi juga negara-negara lain selain keempat negara pencetus itu. Soalnya, walau ini adalah forum negara-negara Asean, nyatanya tak semua negara Asean nyemplung didalamnya. “Masing-masing keempat negara ini menggandeng negara yang belum masuk, seperti beraliansi,” jelasAries. Sedangkan aturan main untuk mengarak gerbong AseanPay ini dirancang dan disusun oleh semua operator dari empat negara.

Cetusan ini ternyata diiyakan oleh Suryono. Menurutnya, Bila semua negara Asean sudah bergandengan, maka langkah selanjutnya adalah menyusun sistem untuk pembayaran di luar negara-negara Asean. “Kami akan mengembangkan blog Asean untuk merangkul blog Timur Tengah, Asia (Hong Kong dan China) dan Eropa,” ujar Suryono. Kalau tidak keliru, Indonesia mendapat tugas menggandeng China, Malaysia menggandeng Timur Tengah dan Singapura menggandeng Eropa.

Namun, kadung membikin nama ‘AseanPay’, maka keempat negara ini sepakat untuk membikin nama anyar. “Yang bikin nama baru itu kelompok kerja yang dikomandani oleh Thailand,” ujar Arya. Maka untuk pertemuan selanjutnya, namanya bukan lagi AseanPay tapi E-Payment Forum.

Nah, apa kolaborasi kekuatan Asean ini berani menghadang perusahaan switching kelas dunia macam Visa, MasterCard, Moneygram, dan Western Union? Suryono punya jawabannya, “Masalah ongkos memang gebuk-gebukan kok. Tapi kita harus berani bersaing.”

Setuju!


0 Responses to “Meriung membincangkan AseanPay”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


February 2007
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728  

Archives

Flickr Photos

Lago di Braies

Red and Gold

Sol Duc Falls

Wasting Light

Back to forest

Red Lane 3

Prairie Falcon 2016

Suitcases

More Photos

%d bloggers like this: