08
Feb
07

Muncrat dari Lubang Kanan Kiri

Sinyal optimisme itu sudah membayangi perusahaan pembiayaan alias multifinance sejak akhir tahun lalu. Asosiasi Sepeda Motor Indonesia (AISI) meneriakkan prediksi pertumbuhan sepeda motor yang naik sekitar 10% menjadi 4,2 juta unit. Gaikindo juga sudah pun sudah mematok penjualan mobil tahun 2007 naik 15% menjadi 380 ribu unit.

Salah satu biang kerok keyakinan ini adalah menurunnya suku bunga patokan alias BI rate yang bisa merangsang kredit konsumsi masyarakat membengkak. Untuk itu, perusahaan pembiayaan sudah menghitung target laba bersih dan modal tambahan yang mesti disuntikkan untuk tahun ini.

Sebagai gambaran saja, PT Federal International Finance (FIF)  memasang target total pembiayaan sebesar Rp10,23 triliun pada 2007 atau meningkat 10% dibandingkan pencapaian akhir tahun lalu sebesar Rp9,3 triliun. PT Adira Dinamika Multifinance Tbk menghitung Rp10,20 triliun sebagai total pembiayaan kredit kepemilikan sepeda motor dan mobil, naik 15%-20% dari tahun lalu. ACC juga berharap membiayai pembelian mobil sekitar Rp9 triliun.

Tentu, duit tak begitu saja jatuh dari langit. Multifinance menghitung keran-keran yang potensial sebagai lubang pembiayaan. Contohnya, WOM yang memanfaatkan Efek Beargun Aset (EBA) semester II 2007 nanti. EBA adalah surat berharga berupa surat utang, surat partisipasi, atau turunannya yang diterbitkan melalui sekuritisasi aset. Instrumen yang yang imbal hasilnya yang setara dengan obligasi dengan tingkat risikonya lebih kecil ini akan diterbitkan WOM di luar negeri. Wajar, di dalam negeri pajak pertambahan nilainya (PPN) 10%.

Ada juga yang melirik pinjaman luar negeri (off-shore). Soalnya, diluar sono bunga pinjamannya lebih ciut daripada di dalam negeri. “Mau enggak mau kami harus mencari funding dolar, dong. Dan paling murah dapatnya dari luar, bisa beda sampai 3% bunganya,” tutur R. C. Eko S. Budianto, Sang Direktur Utama Buana Finance. (Baca KONTAN No. 14, Tahun XI, 8 Januari 2006)

Eh, sebenarnya masih ada satu keran lagi yang lubang kucurannya lebih dahsyat, yaitu obligasi. Emisi obligasi adalah instrumen pembiayaan favorit dalam industri multifinance. Tujuannya jelas, untuk menggenjot target pembiayaan dan menekan risiko ketidaksesuaian suku bunga. “Suku bunga yang turun berdampak ke perbaikan ekonomi. Kami naikkan pembiayaan karena marketnya juga naik,” kata Djoko Marzuki, Direktur Utama PT Summit Oto Finance (SOF).

Menurut Baradita Katoppo, Presdir Fitch Ratings Indonesia, obligasi masih akan diburu sebagai investasi bentuk jangka panjang yang bisa memberi imbal hasil (return) optimal mengingat faktor suku bunga yang bisa dikunci. “Bandingkan saja dengan investasi di pendapatan tetap lain, bunganya masih lebih kompetitif,” lanjutnya.
Lomba menambah modal kerja

PT Tunas Financindo Sarana (Tunas) dan PT BCA Finance (BCA) yang menerbitkan obligasinya masing-masing senilai Rp 500 miliar. Adira juga menyatakan penerbitan obligasinya senilai Rp 500 miliar hingga-1 triliun. Rencananya, obligasi Adira terbit Agustus nanti. Sedangkan PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOM) dan SOF menggelontorkan obligasinya senilai Rp 1 triliun. “Tapi karena laku dan peminatnya banyak, kami memutuskan untuk menambah hingga menjadi Rp 600 miliar,” jelas Halim Gunadi, Presiden Direktur Tunas Finance.

Surat berharga ini ditawarkan tingkat bunga tetap dalam tiga dan lima seri. Contohnya adalah Tunas yang memiliki tiga seri dengan jangka waktu paling lama tiga tahun. Seri A dengan jumlah pokok Rp 200 miliar berjangka waktu 370 hari, seri B berjumlah pokok Rp 100 miliar berjangka 2 tahun, serta Seri C sebanyak Rp 200 miliar berjangka tiga tahun. Obligasi Tunas mengantongi rating atau peringkat A- dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo).

Obligasi kedua (II) milik BCA bertenor empat tahun. Surat utang yang mendapat peringkat A- dari Pefindo itu dibagi dalam lima seri, 24 bulan, 30 bulan, 36 bulan, 42 bulan dan 48 bulan dengan tingkat bunga tetap. Perusahaan yang ditunjuk menjadi penjamin pelaksana emisi adalah PT HSBC Securities Indonesia, PT DBS Vickers Securities Indonesia dan PT Nusadana Capital Indonesia. Penerbitan obligasi II untuk memantapkan target total pembiayaan sebesar Rp 3,5 triliun.

Tingkat bunga obligasi ini beragam. Contohnya, bunga obligasi berkisaran 9,5% hingga 11,14%. Bunga ini dibayarkan setiap tiga bulan, kecuali bunga terakhir obligasi seri A yang akan dibayarkan saat jatuh tempo pokok obligasi. WOM yang menargetkan pembiayaan Rp 4,6 triliun tahun ini memiliki bunga obligasi 12 %. Angka ini lebih kecil dibandingkan obligasi perseroan sebelumnya yakni sekitar 14-15%. Obligasi WOM diterbitkan bulan ini dalam jangka waktu yang bervariasi tiga, empat dan lima tahun.

Setiap perusahaan pembiayaan memiliki penjamin surat-surat berharga yang dikeluarkannya. Obligasi Tunas dijamin dengan jaminan fiducia berupa 100 % piutang pembiayaan. Obligasi IV ini mendapat pernyataan efektif 1 Februari 2007, masa penawaran 7-9 Februari 2006 dan tercatat di Bursa Efek Surabaya (BES) 15 Februari 2007. “Ini 100% untuk modal kerja,” imbuh Halim. Perusahaan sekuritas yang menjamin obligasi SOF adalah PT DBS Securities Indonesia dan Citigroup. Sedangkan WOM memilih PT Danareksa Sekuritas, PT Investindo Nusantara Sekuritas, dan PT DBS Securities Indonesia.

Surat utang SOF dijamin korporasi dari Sumitomo Mitsui banking Corporation dan Japan Bank for International Cooperation. Jaminan utama akan dibayarkan dalam mata uang rupiah, sementara jaminan sekunder dalam mata uang yen setara jumlah rupiah yang dijaminkan.Bahkan, obligasi ini mendapat rating AAA dengan outlook stabil dari Pefindo. “Kami sesuaikan lah kupon dengan rating dan jaminan yang diberikan. Tingkat bunga yang rendah memang membuat kupon yang ditawarkan tidak bisa terlalu tinggi,” tutur Rusmin Kasim, Director Corporate Finance DBS Vickers Securities.
Meluruhkan bunga

Meski obligasi seolah menjadi tren dalam industri multifinance, nyatanya ada juga yang masih menunda realisasi penerbitan surat berharga ini. Tengok saja PT Buana Finance Tbk, PT Mandala Multifinance Tbk dan PT BFI Finance Indonesia Tbk. Meski ketiganya sudah berencana, namun belum menemukan waktu yang pas untuk penerbitan obligasi tersebut.

Buana memenargetkan Rp1,3 triliun sebagai total pembiayaan peralatan berat dan kepemilikan kredit mobil. Target segitu ditambal dari bank-bank swasta. Hitungan diatas kertas, Buana memerlukan Rp750 miliar. Separonya, Buana masih menyimpan dana pinjaman sindikasi US$28 juta dari Chinatrust Commercial Bank pada September lalu. Nah lo, lantas surat utangnya kapan? Sabar, Buana masih perlu memperhatikan tingkat rating Maret nanti.

Lain dengan Mandala. “Rencana sih ada ya, tapi belum ya,” ujar Harryjanto Lasmana, Direktur Mandala Finance. Sebagai gantinya, Mandala mengamankan sejumlah kesepakatan pinjaman hingga Rp1 triliun. Perseroan ini sepakat revolving underwriting facility senilai Rp 275 miliar dari lima bank yaitu PT Bank International Indonesia Tbk, PT Bank Central Asia Tbk, PT Bank Buana Indonesia Tbk, PT Bank Pan Indonesia Tbk, dan Bank Capital Indonesia.

Pinjaman berjangka waktu tiga tahun itu mempunyai tingkat bunga tahunan sebesar bunga Sertifikat Bank Indonesia, plus margin 3,5%. Pinjaman ini juga dijamin piutang sebesar 110%. Dus, totalnya Rp302,5 miliar. Konon, Mandala juga akan meminjam PT Bank Niaga Tbk sebesar Rp 50 miliar, dan PT Bank Danamon Tbk sebesar Rp 100 miliar. Semua lubang keran berusaha dimuncratkan agar target pembiayaan sebesar Rp1,3 triliun plus laba bersih Rp 60 miliar tercapai.

BFI juga ogah membocorkan kapan obligasinya diterbitkan. “Obligasi BFI  masih dalam proses, karena juga tergantung pada penjaminnya, harus ada rating, kelayakan dan segalanya,”  tegas Angtawan, Manajer Marketing Senior BFI. Menurutnya, proses penerbitan obligasi tak bisa sesuka si perusahaan. BFI mematok membiayai Rp 2,5 triliun tahun ini. Malah, BFI menurunkan bunga konsumen di level 17% untuk pembelian mobil baru secara kredit. Sebelumnya bunga yang dipatok BFI sebesar 20%. Untuk mobil bekas, perseroan yang fokus di bisnis kredit otomotif roda empat (80%) dan leasing peralatan berat (20%) itu juga telah menurunkan bunganya pada kisaran 18%-19%.

Soal meluruhkan bunga di tahun babi ini, PT SOF juga melakukan hal yang sama. Anak perusahaan Sumitomo Corporation ini menggencet bunga pinjaman menjadi 28%. Dengan hitungan itu, SOF menargetkan pertumbuhan pembiayaan tahun ini, sekitar 20% atau mencapai Rp 5,6-6 triliun, dengan penjualan sepeda motor menjadi 520 ribu unit.  Hingga Oktober 2006, PT SOF membukukan modal setor Rp 945 miliar, yang menjadikan SOF sebagai perusahaan pembiayaan dengan modal disetor terbesar di Indonesia.

Tapi ada juga perusahaan pembiayaan yang masih ogah menurunkan bunga konsumennya. Contohnya ya WOM Finance itu. Perusahaan ini tetap mematok bunga konsumen di level 26%-28%. Alasannnya, penurunan bunga pinjaman oleh perbankan yang disalurkan kepada perusahaan pembiayaan masih lambat.

Turun tidak turun, asal optimis saja tak masalah. Ya kan?


2 Responses to “Muncrat dari Lubang Kanan Kiri”


  1. February 9, 2007 at 10:33 am

    harga motor turun gak, fem? jangan cuman mesinnya doangg.. wekekekek’

    eyang atmodikoro

  2. 2 Evy
    February 12, 2007 at 6:01 am

    Duh mahalnya bunga di Indonesia fem…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


February 2007
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728  

Archives

Flickr Photos

Lago di Braies

Red and Gold

Sol Duc Falls

Wasting Light

Back to forest

Red Lane 3

Prairie Falcon 2016

Suitcases

More Photos

%d bloggers like this: