03
Apr
07

BRI, Gadis Desa Montok yang Kian Semok

Kalau anda hobi ngutang, bisa jadi anda bakal berkawan akrab dengan PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk yang memang hobi memberi utangan. Kucuran kredit ini bisa untuk usaha kecil, mikro dan menengah (UMKM), korporasi maupun ritel. Uniknya bank yang lekat dengan citra ndeso ini, kredit untuk sektor lain non-UMKM dibatasi maksimal 20%. Perinciannya, 12,87% untuk sektor korporasi dan sisanya 7,13% untuk sektor infrastruktur seperti perkapalan, bandara,  jalan tol, energi, pembangkit listrik, dan hotel.

Mari berhitung. Hingga Desember 2006, duit yang dibuang oleh BRI mencapai Rp 90,283 triliun. Angka ini menggelembung sebesar 19,53% dibandingkan tahun 2005 yang ‘hanya’ sebesar Rp 75,533 triliun. Duit segitu banyaknya, sebagian besar atau 86,71% disalurkan untuk sektor UMKM. Untuk tahun ini, kembang desa nan molek ini mengharapkan pertumbuhan UMKM melejit 20% atau senilai Rp18 triliun. “Pasar UMKM di dalam negeri ini masih besar sekali untuk digarap,” kata Sulaiman Arif Arianto, Direktur UMKM BRI. Itu sebabnya, porsi terbesar keran kredit ini juga masih di UMKM.

Tekad BRI agaknya cukup bulat, yaitu mendorong pelaku UMKM untuk memiliki akses ke perbankan nasional. Untuk itulah, BRI bersemangat membuka 100 unit pelayanan di daerah pelosok setiap tahun kepada UMKM. Sedangkan besaran kredit bagi kelompok mikro di pelosok ini nilainya mulai dari Rp 5 juta-Rp 50 juta;  bagi kelompok usaha kecil Rp 50 juta-Rp 5 miliar; dan kelompok usaha menengah, Rp 5 miliar-Rp50 miliar. Lain lagi kredit kepada korporasi, nilainya mulai dari Rp 50 miliar.

Sumur duit yang bisa dimaksimalkan oleh nasabah BRI untuk kredit UMKM adalah Kredit Umum Pedesaan (Kupedes). Kalkulator Sulaiman menunjukkan, tahun ini ditargetkan Kupedes naik minimal 20%. “Akhir Desember lalu, posisi Kupedes adalah Rp 43,4 triliun,” katanya. sedangkan kredit bermasalah (NPL) Kupedes per September 2006 hanya 1,6%. “Kami betul-betul menjaga amanah,  sehingga dana disalurkan ke nasabah yang benar-benar membutuhkan,” imbuhnya.

Menurut Sulaiman, hingga Februari 2007, BRI telah memiliki 4.229 kantor BRI unit di seluruh Indonesia. Untuk menjangkau pelosok yang belum terjamah perbankan, BRI menargetkan pembukaan 100 BRI unit baru setiap tahunnya. Hitung punya hitung, 18 bulan setelah pembukaan, unit baru itu sudah harus kembali modal. Kalau tidak, BRI akan merealokasi atau merger dengan unit lain.

Genjotan BRI ini sebenarnya seirama dengan pemerintah yang juga berniat menguatkan UMKM. Terbukti, sektor ini memiliki daya amblas yang cukup banyak dalam hal tenaga kerja, sekaligus tahan terhadap beragam guncangan, termasuk krisis ekonomi. “Kami juga meminta bank agar segera menurunkan bunga kreditnya,” ujar Burhanuddin Abddulah, Gubernur BI. Apalagi, patokan bunga bank sentral atau BI rate sudah melesot terus hingga mencapai 9%.

Pemerintah memang tengah gotong royong dengan BI dan bank untuk menyentuh UMKM. Mereka yang tak punya jaminan, tidak perlu ragu untuk mengajukan kredit ke bank. Pasalnya, pemerintah akan langsung menjadi penjamin untuk kredit yang mereka ajukan. BI sendiri sudah membikin aturan soal kelonggaran penyaluran kredit lewat Peraturan Bank Indonesia (PBI) No 9/6/PBI/2007 tentang penilaian kualitas aktiva bank umum.

Sebelumnya bank hanya bisa memberikan kredit pada perusahaan yang punya prospek usaha, kemampuan bayar serta arus kas lancar, nah dengan aturan ini maka bank sah-saha saja bila hanya melihat kemampuan debitur dalam pembayaran pokok dan bunga. Eh, tapi ini hanya berlaku untuk UMKM saja dengan jumlah pinjaman maksimal Rp 500 juta, plus hanya bank yang punya manajemen risiko kuat bisa mengguyurkan kredit ke UKM hingga 20 miliar.

Bicara soar ongkos pembiayaan mikro, memang cukup tinggi. Soalnya, nilai kredit yang dikelola tergolong kecil dan pendekatannya personal. Makanya, tingkat bunga kredit mikro BRI lebih tinggi, mencapai 1,25%-2% per bulan atau setara 15%-24% per tahun. Suku bunga ini ditetapkan untuk membiayai ekspansi usaha, baik berupa penambahan fitur layanan untuk nasabah UMKM, maupun penambahan jumlah cabang. “Itu masih rendah daripada rentenir,” tukas Sulaiman. Nah, selisih yang bisa sampai separonya ini terjadi lantaran BRI mampu menjaring dana murah dari masyarakat.

Hartono Sukiman, Sekretaris Perusahaan BRI juga bilang, BRI tak keberatan menurunkan bunga pinjamannya. Hanya, BI secara konsisten juga harus menurunkan bunganya hingga 8%. Bila itu terlaksana maka, “Bunga kredit juga akan turun,” ungkap Hartono. BRI kini juga tengah dalam proses untuk menurunkan bunga pinjamannya UMKM nya menjadi 13,5% dari posisi 14% hingga 15,5%. “Tak lama kok hanya satu sampai tiga bulan ini ada keputusan,” ujar Hartono.

Kalau sudah begini, tunggu apa lagi?


2 Responses to “BRI, Gadis Desa Montok yang Kian Semok”


  1. March 18, 2008 at 9:27 pm

    semuanya…………..?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


April 2007
M T W T F S S
« Mar   May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Archives

Flickr Photos

Chin Scratching Short-eared Owl

Making A Splash

Chouette épervière -  Northern hawk owl - Surnia ulula

Trillium Lake Alpine Glow

Pierless

A Candlelight Dinner

friend and foe

Ice Age Arrows.

More Photos

%d bloggers like this: