16
Apr
07

Jualnya murah, ongkos operasionalnya mahal

Delapan, bahkan sepuluh tahun lalu, barangkali anda membungkus satu unit kartu seluler dengan banderol ratusan ribu rupiah. Bisa jadi, selisih harga kartu perdana dengan ponsel sangat tipis. Mau nomor cantik atau bukan, sama saja. Lain dengan sekarang yang hanya dengan Rp 8.000 saja sudah bisa membawa pulang satu nomor perdana. Tak heran, dalam satu dompet, bisa tersimpan lebih dari dua kartu cadangan tanpa ponselnya.

Asal tahu saja, operator sebagai penerbit kartu perdana ini menjual rugi pada konsumen. Malah, lebih rugi lagi saat konsumen hanya menggunakan kartu perdana ini sekali pakai. Maksudnya, konsumen membeli satu unit kartu perdana, menghabiskan pulsanya, dan tak menggunakannya kembali. “Kami sedih ya kalau begitu caranya,” keluh Ruby Hermanto, GM Marketing Products XL.

Nyatanya, operator juga tidak bisa berbuat banyak. Terang saja, di sini konsumen menang untuk memilih kartu perdana sesuai dengan bonus dan fiturnya. Kalau memang tak menguntungkan, pasti tak bakal diangkut pulang. Di ceruk inilah operator harus berlomba menggaet pelanggan yang loyal sebanyak mungkin. Mereka kemudian membundel kartu perdana mereka dengan beragam tema, mulai dari mudik, bola, hingga grup musik kondang negeri ini.

Setiap satu unit kartu perdana, bisa Anda bawa pulang hanya dengan Rp 8.000-Rp 10.000 saja. Tak jarang, nominal pulsa yang ada di dalamnya melebihi uang yang Anda bayarkan. “Di operator, ada yang namanya marketing cost untuk penjualan kartu perdana begini,” terang Ruby. Hal ini juga diamini oleh Guntur S Siboro, Group Head Integrated Marketing Indosat. Menurut Guntur, operator memang harus menyediakan dana marketing untuk kartu perdana. “Nama lainnya, acuisition cost,” imbuhnya.

Guntur kemudian menggambarkan berapa banyak kocek operator yang tergerus untuk membikin satu unit kartu perdana. Komponen kartu perdana itu terdiri dari kartu yang masih kosong, selongsong dan cap atau label dari si operator. Setiap kartu perdana yang kosong ini harganya bervariasi, mulai US$ 10 sen hingga US$ 1. “Besar kecilnya harga kartu kosong ini tergantung pada banyaknya kartu yang kita pesan,” jelasnya.

Biasanya, operator membeli kartu kosong ini dalam jumlah yang banyak. Bisa ratusan ribu, bahkan jutaan. Kita bisa menghargai satu unit kartu perdana kosong ini senilai Rp 10 ribu. Tak cukup hanya kartu saja, operator juga harus membeli pembungkus atau selongsongnya. Taruh kata, harga selongsong ini mencapai Rp 7.000 sebuah. Setelah itu, kartu masih harus didandani dengan logo operator atau tema-tema yang sudah disiapkan. Guntur memberi ancang-ancang Rp 10.000 untuk ongkos ini.

Cukup disitu saja? Tentu saja tidak. Operator masih harus menyuntik pulsa, bisa Rp 10.000, atau bahkan 15.000. Kalau ditotal jenderal, maka satu unit kartu perdana sudah menghabiskan ongkos sebanyak  Rp 42.000. Padahal, jika Anda menyambangi gerai ponsel dan membeli kartu perdana, Anda hanya dikutip Rp 10.000 saja, bahkan bisa kurang dari itu. “Harga jual itu dipengaruhi suplai,” terang Guntur.

Dengan mudahnya, konsumen bisa membeli kartu perdana, registrasi, menghabiskan pulsa, dan membuangnya. Artinya, ongkos marketing ini tidak berjalan dengan sempurna. Harapan operator, si konsumen akan menjadi pelanggan dengan cara mengisi ulang kartu tersebut. “Ongkos marketing ini belum seberapa dibanding negara lain, tetapi yang jelas kami mengincar pertumbuhan yang terus membesar,” kata Ruby.

Nah, dari mana operator balik modal dan menutupi ongkos marketingnya itu? “Nggak bisa dihitung satu per satu,” tegas Guntur. Tetapi, imbuhnya, Anda bisa menghitungnya secara simpel. Kalau sebuah operator mengongkosi senilai Rp 42.000 dan konsumen membeli dengan harga Rp 10.000, artinya ada ongkos Rp 32.000 yang ditanggung operator yang disebut sebagai subsidi. “Tergantung si pelanggan, akan mengisi dengan nilai isi ulang berapa,”  kata Guntur.

Toh, angka itu tidak mutlak dan langsung bisa lunas setelah konsumen mengisi ulang pulsa dengan nilai senilai rp 32.000. “Yang namanya rencana bisnis, penjualan kartu perdana ini harus didukung oleh pemasaran, kampanye, stok dan BTS yang mantap,” terang Guntur.  Itu sebabnya, dengan beragam iming-iming, setiap operator berusaha menjaga pelanggannya jangan sampai tergaet oleh operator lain.

Yang tidak banyak diketahui oleh konsumen, operator mesti menanggung ongkos operasional setiap nomor. “Setiap nomor yang aktif, itu ada biaya netwok komponenennya,” jelas Ruby. Makanya, kalau nomornya pasif, merugikan operator lantaran ada biaya bulanan yang harus mereka penuhi. Sesungguhnya, memilih kartu perdana dari operator mana, itu adalah hak konsumen. “Tapi bagaimana caranya agar kartu perdana dari kami tetap dipilih diantara banyak pilihan yang ada,” imbuhnya.

Kalau begitu, selamat bersaing merebut hati konsumen dengan banderol harga jual yang bersaing! (***)


0 Responses to “Jualnya murah, ongkos operasionalnya mahal”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


April 2007
M T W T F S S
« Mar   May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Archives

Flickr Photos

Chin Scratching Short-eared Owl

Making A Splash

Chouette épervière -  Northern hawk owl - Surnia ulula

Trillium Lake Alpine Glow

Pierless

A Candlelight Dinner

friend and foe

Ice Age Arrows.

More Photos

%d bloggers like this: