05
May
07

Wah, Bandar Londo Depok itu Makin Padat dan Mahal

Tak cuma akhir pekan. Kini, setiap hari kemacetan melanda Jalan Margonda Depok. Bahkan, kemacetan sudah terjadi begitu Anda melewati tugu ucapan: Selamat Datang di Depok.

Biang kerok utamanya adalah ruas jalan menyempit, namun jumlah kendaraan bertambah banyak. Ditambah lagi, di kiri-kanan Jalan Margona berjejer tempat usaha. Tengok, di sana berdiri dengan gagahnya tiga hipermarket sekaligus: Giant berhadapan dengan Hypermart dan Carrefour, yang letaknya tak jauh dari Teminal Depok. Belum lagi deretan tempat usaha lain, seperti warnet, bank, restoran, toko buku, dan sebagainya.

Padahal, beberapa tahun lalu, kemacetan di jalur utama kota yang berusia delapan tahun ini belum separah sekarang. Ini artinya, para penghuni kota Depok kian hari kian gemuk.

Separo dari luas kota ini sudah dibangun, selebihnya masih lahan kosong. Jumlah penduduk Depok sendiri hingga tahun 2005 tercatat 1,37 juta jiwa, dengan kepadatan rata-rata 6.244,14 jiwa per km2.

Maka, para pengembang semakin rajin membangun kawasan bertumbuh ini. Mulai dari perumahan di semua kelas, apartemen, rumah susun, hingga kawasan komersial.

Depok, yang dahulu sebagai kawasan penghasil buah-buahan, kini berbeda. Halaman rumah tempat menanam pohon sudah menjelma menjadi tempat usaha.

Melihat kawasan yang terus tumbuh, banyak orang melirik kawasan ini. “Depok punya nilai jual tinggi, karena kawasannya dekat dengan tol. Apalagi sebentar lagi ada jalan tol baru,” ujar John Saga, Konsultan Personal LJ Hooker Cinere.

Hitungan agen properti ini, sejak ada rencana pembangunan tol yang melintasi Depok, harga tanah merembet naik. “Yang dulunya Rp 500.000 per meter, kini sudah naik minimal menjadi Rp 575.000 per meter,” imbuhnya.

Tol yang John maksud adalah Jalan Lingkar Luar Jakarta II yang sebanyak tujuh ruas jalan tol. Dua di antaranya melintasi Depok. Jalur pertama Cinere-Cimanggis-Jagorawi sepanjang 14,7 km. Ini untuk jalur transportasi dari Tangerang ke Bekasi atau Bogor tanpa melewati wilayah Jakarta.

Jalur lainnya adalah Depok-Antasari sepanjang 21,7 km. Jalan ini bakal menghubungkan wilayah Kabupaten Bogor di Bojonggede menuju Jakarta. Konon, kalau sudah ada dua tol ini, Depok bakal bebas macet.

Dedi Lumintang, Manajer Pusat Depok Town Square (Detos), sependapat dengan John. “Depok ini kota yang terus berkembang, dan cepat sekali,” cetusnya. Dan, peluang bisnis di kawasan ini, lebih besar ketimbang kawasan pinggiran Jakarta lainnya.

Perumahan dan komersial makin padat

Mari kita telusuri. Berawal dari Jalan Margonda Raya hingga Depok II ke arah Sawangan, Cimanggis, Bogor. Di sepanjang itu, ada beberapa perumahan, seperti Pesona Khayangan, Bella Casa, Kota Kembang.

Ke arah Sawangan dan Cinere, kita bisa melihat perumahan kelas menengah. Di antaranya, Telaga Golf Sawangan, Bukit Rivaria Sawangan, Mega Cinere, Pondok Cinere Indah. Bahkan, rumah dengan model town house pun ada, antara lain Griya Sarana Husada dan Villa Nirvana.

Dukungan kawasan ini lantaran adanya jalur kereta api. Lihat perumahan yang bertumbuh di sepanjang Depok-Citayam-Bojong Gede. Beberapa perumahan yang duluan hadir adalah Perumahan Bojong Depok Baru, Taman Raya Citayam, Perumahan Bumi Indah Pesona, Griya Waringin Elok, Perumahan Bumi Insani, dan Perumahan Permata Depok.

Menurut catatan Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI), perkembangan properti untuk kelas menengah atas di jalur Depok-Sawangan- Cinere semakin agresif. Apalagi, Pemerintah Kota (Pemkot) Depok sengaja menganggarkan seperempat APBD-nya untuk membangun infrastruktur demi meningkatkan kapasitas dan memperbaiki kondisi jalan-jalan.

Di kota ini, properti komersial juga tumbuh subur. Misalnya, Depok Town Square (Lippo), ITC Depok (Duta Pertiwi), dan Margo City Square (Djarum), serta Depok Town Center (Gapura Prima Group). Semua properti komersial itu menambah pendapatan daerah sekaligus menyokong perumahan- perumahan yang ada.

“Detos atau bangunan komersial lainnya memberi nilai tambah,” kata Dedi. Agar masuk ke semua kelas, Detos memilih untuk bermain di tengah. “Semua mal di sini konsepnya berbeda, dan kami didukung tenant besar, seperti Matahari, Hypermart, dan lainnya,” imbuhnya.

Pengembang apartemen juga menyeser Depok. Di kawasan ini bercokol Margonda Residence, apartemen seluas 1,2 hektare, hasil pekerjaan PT Cempaka Bersama Maju. Mengintip lokasinya di pinggir Jalan Margonda, sepertinya cukup strategis.

“Target kami adalah para mahasiswa atau orang yang ingin berinvestasi dengan membeli apartemen lalu menyewakannya kembali pada mahasiswa,” ucap Teddy Budianto, Direktur Utama PT Cempaka Bersama Maju, pengembang Margonda Residence. Teddy membanderol 700-an unit apartemennya dengan harga sekitar Rp 200 juta seunit.

Kawasan bisnis baru di sepanjang jalan tol

Kalau hitungannya tak meleset, Departemen Pekerjaan Umum (DPU) mulai membangun proyek jalan tol Depok-Antasari dan tol Jagorawi-Cinere pada pertengahan tahun 2007 ini. Megaproyek ini menggerus dana Rp 3,9 triliun. Rinciannya, Rp 1,71 triliun untuk ruas Jagorawi-Cinere dan Rp 2,25 triliun untuk Depok-Antasari.

Duit yang tidak sedikit ini datang dari Konsorsium Translingkar Kita Jaya yang terdiri dari empat perusahaan: Transindo Karya Investama, Waskita Karya, Jakarta Outer Ring Road, dan Kopnatel Jaya. Di sini, investor berhak mengelola tol Cinere-Jagorawi selama 35 tahun.

Bappeda Depok kemudian berencana membangun kawasan bisnis baru di sepanjang koridor tol Antasari-Citayam dengan membuat lima kluster wilayah pengembangan. Tujuannya, untuk mengendalikan pertumbuhan kota di sekitar jalan tol, sehingga pembangunan tidak sembarangan dan semrawut.

Misalnya, kluster Limo untuk hunian, pendidikan, dan rekreasi, kluster Krukut-Grogol untuk hunian dan komersial, serta kluster Rangkapan Jaya untuk hunian, rekreasi, dan komersial.

Kemudian, kluster Cipayung untuk hunian, pendidikan terpadu, dan fasilitas komersial, serta kluster Pondok Jaya untuk pusat perdagangan dan kebutuhan pokok. Lima kluster ini diprediksikan tumbuh sebagai pusat-pusat bisnis baru.

Selain itu, pusat pertumbuhan baru yang diperkirakan cepat berkembang setelah jalan tol dibangun adalah Cinere dan Jalan Limo Raya, serta Sawangan dan kawasan Rangkepan Jaya Baru. Saat ini, perumahan besar dengan segmen pasar menengah dan menengah atas bersarang di Sawangan, Limo, dan Beji.

“Potensi perkembangan Sawangan masih besar,” ujar Rudi Margono, Presiden Direktur PT Gapura Prima Group. Ia berharap, infrastruktur Depok terus mengalami perbaikan. Ia menunjuk banyaknya jalan satu jalur yang menyebabkan kemacetan. “Banyak yang masih begitu-begitu saja sejak dulu,” katanya.

Asal tahu saja, tol ini dibangun di atas lahan seluas 135 hektare dari 12 kelurahan di empat kecamatan. Yaitu, Sawangan, Limo, Sukmajaya, dan Cimanggis. Lebih dari 30% lahan itu merupakan daerah permukiman warga. “Tol ini akan menambah nilai jual kawasan Depok,” kata John.

Di ruas tol Cinere-Jagorawi ini rencananya dibangun dua simpang susun (junction). Yaitu, Cimanggis- Jagorawi dan Krukut. Ada juga dua interchange: Pondok Cina-Jalan Margonda Raya dan Cisalak-Jalan Raya Bogor.

Jalan tol Cinere-Jagorawi akan menyambung dengan jalan tol Cinere- Serpong, Serpong-Kunciran-Tangerang, dan Tangerang-Bandara. Nah, siapkah Anda jadi orang Depok?

+++++
Bakal Makin Banyak Jalan Menuju Kota Depok

Bikin jalan tol ternyata enggak semudah bikin pisang goreng maupun bubur ayam. Nyatanya, Juni tahun lalu, rencana pembangunan tol Depok-Antasari dan tol Cinere-Cimanggis (14,7 km) sempat molor. Soalnya, Departemen Pekerjaan Umum (DPU) belum membeberkan rencana peta kedua tol itu secara rinci kepada jajaran Pemerintah Kota (Pemkot) Depok.

Akhirnya, jadwal kerja dimulai juga. Pada pertengahan September 2006, Pemkot Depok melakukan sosialisasi pada warga yang tinggal antara Jagorawi dan Jalan Raya Bogor. Setelah itu, sosialisasi dengan warga yang bermukim antara Margonda, Krukut, dan Cinere. Dan, proses terakhir dengan warga yang tinggal antara Jalan Raya Bogor dan Margonda.

Usai proses sosialisasi dengan mengundang masyarakat yang akan tergusur proyek ini, Panitia Pengadaan Tanah (P2T) dan Tim Pengadaan Tanah (TPT) mengukur dan mematok batas. Lalu, mengumumkan hasil inventarisasi tanah, bangunan, dan tanaman.

Belum selesai sampai di sini, warga juga berkesempatan melakukan sanggahan atas hasil inventarisasi. Setelah proses tersebut selesai, barulah musyawarah dilakukan. Setelah ganti rugi disepakati, dikeluarkan keputusan penetapan harga, disusul pembuatan daftar nominatif dan penandatanganan.

Proses berikutnya, pembayaran uang ganti rugi dan pelepasan hak, sertifikasi tanah, dan konsinyasi. Targetnya, pada bulan April 2008 nanti proses pembebasan lahan dan penyelesaian administrasinya sudah beres.

Jadi, kalau tidak meleset, pembangunan tol yang menghabiskan dana Rp 3,9 triliun ini bisa beroperasi mulai akhir tahun 2009.


1 Response to “Wah, Bandar Londo Depok itu Makin Padat dan Mahal”


  1. June 12, 2015 at 1:55 am

    You are so cool! I do not believe I’ve read something like
    that before. So good to find someone with genuine thoughts on this subject.
    Really.. thanks for starting this up. This site is one thing that’s needed on the
    internet, someone with a little originality!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


May 2007
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Archives

Flickr Photos

Lago di Braies

Red and Gold

Sol Duc Falls

Wasting Light

Back to forest

Red Lane 3

Prairie Falcon 2016

Suitcases

More Photos

%d bloggers like this: