25
May
07

Raporku Biru! Sayang, Kinerjaku Masih Semu

Sejumlah bankir berjoget kegirangan.Rapor keuangankinerja perbankan selamakuartal pertama biru, alias mencatatkanangka-angka yang positif.Hal ini sejalan dengan membaiknyakondisi makro ekonomi danstabilnya industri perbankan ditanah air.

Misalnya saja Bank Niaga. Triwulanpertama ini, Bank Niagamencatat laba bersih sebesar Rp201,66 miliar. Angka ini naik 14%dibandingkan dengan periodeyang sama tahun sebelumnya.

Kantong Bank BNI juga bertambahtebal. Laba bersih tiga bulantahun ini mencapai Rp 398,77 miliaratau meningkat 73,63 % dibandingkandengan angka pada jangkawaktu yang sama tahun lalusebesar Rp 229,67 miliar.

Yang paling fantastis adalahBank Bumiputera, yang laba bersihnyameroket 422%. Bank inimampu mencetak laba bersih sebelumdiaudit yang melambungtinggi menjadi Rp 12,75 miliar.Bandingkan dengan raihan triwulanpertama tahun lalu, yang hanyamampu mencetak laba bersihRp 2,44 miliar.

Direktur Keuangan dan ManajemenRisiko Bank BumiputeraMuniandy R. Krishnan menjelaskan,kenaikan ini lantaran beberapainisiatif yang telah mereka lakukansepanjang tahun lalu.“Tahun 2006 lalu kami telah mempertajamfungsi pengendalian keuangan,meningkatkan fungsimanajemen risiko, dan membaiknyamanajemen NPL,” paparnya.

Tapi, ada juga bank yang menundukkankepala. Coba tengokBank Internasional Indonesia(BII). Laba bersihnya terjun bebassebesar 34,54%, menjadi Rp115,428 miliar.

Pendapatan bunga bank meningkat

Mencermati laporan keuanganmereka, penopang keuntunganbersih kuartal pertama ini adalahmembaiknya pendapatan bunga.Lihat saja Bank NISP, yang pendapatanbunga bersihnya naik 32%,dari Rp 199,9 miliar menjadi Rp263,2 miliar.

Bank NISP juga berhasil meningkatkanpendapatan non-bungasebesar 160% dari Rp 36,8 miliarmenjadi Rp 95,7 miliar. “Ituakumulasi dari surat berharga,transaksi valas, dan bancassurance,”kata Ferdinan Dion, KepalaHubungan Luar Bank NISP.

Bank Mandiri, yang sukses denganmencetak laba bersih Rp1,02 triliun, juga mendapat donasidari kenaikan pendapatan bungabersih sebesar 64,03% menjadi Rp3,58 triliun.

Tapi, ada juga, lo, yang pendapatanbunganya mengempis, yaituBank BNI. Pendapatan bunganyateriris dari Rp 1,78 triliun menjadiRp 1,53 triliun. Karena laba usahanyatetap merangkak dari Rp434,96 miliar menjadi Rp 558,48miliar, maka laba bersihnya terangkat.

Setali tiga uang dengan BankCentral Asia (BCA). Memang,profi t bersihnya meningkat 8,25%menjadi Rp 1,06 triliun. Namun,pendapatan bunga bersih bankmilik Kelompok Djarum tersebutmenciut dari Rp 2,31 triliun perkuartal pertama 2006 menjadi Rp2,29 triliun di periode yang samatahun ini.

Tapi, tingkat penyaluran kredit masih rendah

Para bankir sebaiknya janganmembusungkan dada dulu. Cobadengar kritikan superpedas dariWakil Presiden Jusuf Kalla: “Perbankanmerampok duit negara.”

Soalnya, para bankir gemarmenempatkan dana pada instrumenmilik bank sentral dan menikmatibunganya tanpa bekerja.Ini lantaran bank-bank memangmengalami kelebihan likuiditas.

Coba tengok data BI. Saat initotal outstanding Sertifikat BI(SBI) dan Fasilitas BI (Fasbi) sudahmencapai Rp 263 triliun. Inimendekati jumlah uang beredar(base money) per Maret lalu yangmencapai Rp 272 triliun.

Kelebihan likuiditas itu terlihatdari perbandingan antara kreditdengan dana pihak ketiga aliasloan to deposit ratio (LDR) bank.Mari tengok dua bank besar Mandiridan BCA, yang masing-masingmencatatkan LDR per Maret laluhanya 55,33% dan 37,25%.

Sudah begitu, perbankan masihlambat dalam menurunkan sukubunga kredit. Sehingga, terjadiselisih (spread) suku bunga kreditdengan bunga simpanan antara6% sampai 7%. “Selama ini perbankankita menikmati spreadtinggi itu,” ujar Direktur DirektoratPenelitian dan PengaturanPerbankan BI Halim Alamsyah.

Dan, hasilnya, rasio pendapatanbunga bersih alias net interestmargin (NIM) meningkat. NIMBank Niaga naik dari 5,62% menjadi6,09%; Permata Bank melonjakdari 5,5% menjadi 5,5%. Bahkan,Bank Rakyat Indonesia (BRI)masih mencatat NIM tinggi: 11%.

Maka, untuk menyapu malasnyamenyalurkan kredit, tahun inibank-bank bakal menggeber kredit.BCA dan Mandiri, misalnya,berkongsi mengguyuri kredit sindikasiRp 1,5 triliun untuk PTTrans Lingkar Kita Jaya (TLKJ).

Kemudian, Bank Mandiri, BRI,dan Bank Jabar bersepakat membiayaipembangunan jalan tol Jakarta-Depok-Bogor senilai Rp 2,63triliun. Sebelumnya, Bank Mandiribakal mengucurkan kredit ke JasaMarga sebesar Rp 2,9 triliun.

Nah, dengan mengucurnya kredit-kredit tersebut, para bankirberharap bisa mengikis citra malasyang melekat pada diri mereka..

+++++
Rame-Rame Puasa Dividen demi Menjadi Bank Nasional

Selain berlomba mencetak raporbiru, perbankan kita saat inijuga sedang adu cepat untuk menjadibank nasional. Sesuai ketentuanArsitektur Perbankan Indonesia(API), untuk menjadi bank nasional,sebuah bank harus memiliki modalminimal Rp 10 triliun.

Salah satunya Lippo Bank. Akhirtahun 2006, total modal bankyang berkantor pusat di Karawaciini baru Rp 4,18 triliun. Dari jumlahitu, modal inti bank ini baru sebesarRp 2,23 triliun.

Makanya, RUPS pada akhir bulanlalu memutuskan, tahun ini untukketiga kalinya tak membagi dividen.Padahal, sebelumnya lababersih perseroan pada 2005 sebesarRp 412 miliar, dan sebesar Rp507 miliar pada 2006 juga sudahmasuk sebagai modal perseroan.

Presiden Komisaris Lippo BankAli Dewal menjelaskan, penumpukanmodal itu merupakan upayaLippo untuk menjadi bank nasionaldan bank jangkar pada 2010. Pemegangsaham juga telah menyetujuikeputusan ini hingga syaratmodal tersebut terpenuhi.

Tapi, penambahan modal takhanya dari penahanan dividen.“Pemegang saham juga tetap berkeinginanuntuk menyuntik modaltambahan bila perlu,” kata Dewal.

Selain Lippo, Bank NISP berambisimenjadi bank nasional. Makanya,mulai tahun 2007 hingga2010, Bank NISP tidak akan memberikandividen.

OCBC Overseas Investment PteLtd Singapura, pemegang sahammayoritas Bank NISP, juga sudahmemberikan restu atas kebijakanbank itu. “Mereka mengerti targetkami menjadi bank nasional tahun2010,” kata Presiden Direktur BankNISP Pramukti Surjaudaja.

Sampai bulan Februari, modalBank NISP Rp 2,49 triliun. Artinya,hingga tahun 2010, Bank NISPharus menambah modal sebesarRp 7,51 triliun untuk mencapai Rp10 triliun.

Selain kebijakan tidak memberikandividen, pemegang sahamjuga telah menyetujui rencanaNSIP melakukan penambahan modalmelalui rights issue atau penerbitansaham baru. Ini juga demipercepatan penggemukan modal.“Dengan begitu, kami bisa lebihleluasa menyalurkan kredit,” ujarPramukti.

Dari hasil rights issue tersebut,Bank NISP menargetkan akan menerimadana segar Rp 702,9 miliar.“Sehingga, rasio kecukupanmodal atau capital adequacy ratio(CAR) Bank NISP bisa naik menjadi21%,” ujar Pramukti.


0 Responses to “Raporku Biru! Sayang, Kinerjaku Masih Semu”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


May 2007
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Archives

Flickr Photos

Chin Scratching Short-eared Owl

Making A Splash

Chouette épervière -  Northern hawk owl - Surnia ulula

Trillium Lake Alpine Glow

Pierless

A Candlelight Dinner

friend and foe

Ice Age Arrows.

More Photos

%d bloggers like this: