28
May
07

Surutnya Keuntungan di Tengah Banjirnya Klaim

No.32, Tahun XI, Minggu II, Mei 2007 
Asuransi

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang. Banjir besar? Meninggalkan klaim besar ke perusahaan asuransi.

Nah, gara-gara klaim itulah beberapa perusahaan asuransi pada kuartal pertama 2007 mengalami penurunan kinerja. Bahkan, ada yang mencatatkan rugi.

Mari kita tengok kinerja emiten asuransi yang mejeng di bursa. Tercatat ada tiga emiten yang menderita rugi bersih. Ketiganya adalah Asuransi Bina Dana Arta, Asuransi Harta Aman Pratama, dan Asuransi Bintang. Adapun emiten asuransi yang masih mengantongi laba bersih adalah Asuransi Dayin Mitra dan Asuransi Ramayana.

Tapi, hampir semua pihak bisa memaklumi berubahnya warna rapor industri asuransi. “Ada begitu banyak klaim yang harus dibayarkan, mulai dari kecelakaan kapal, gempa bumi, belum lagi banjir,” jelas Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Frans Y. Sahusilawane.

Hitungan AAUI, perusahaanperusahaan asuransi itu merogoh brankasnya sekitar US$ 500 juta untuk membayar klaim banjir. Tentu saja, itu masih sebagian, lantaran belum semua perusahaan asuransi melaporkan angkanya pada AAUI. “Memang, untuk 2007 ini, startnya enggak bagus!” keluh Frans.

Coba kita telisik secara cermat satu per satu. Asuransi Bina Dana Arta, contohnya. Rugi bersih perusahaan ini Rp 5,77 miliar. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu dia masih mencetak laba bersih sebesar Rp 6,46 miliar. Pasalnya, jumlah pendapatan premi perseroan selama kuartal satu 2007 menurun 41%, menjadi Rp 31,21 miliar.

Duit Asuransi Harta Aman Pratama juga hanyut dengan kerugian bersih sebanyak Rp 413,33 juta. Bandingkan saja dengan kuartal satu tahun lalu yang masih mencetak laba bersih sebesar Rp 149,4 juta.

Setali tiga uang dengan Asuransi Bina Dana Arta. Amblasnya kinerja perusahaan asuransi ini lantaran jumlah beban underwriting atau pertanggungan menggelembung menjadi Rp 6,36 miliar. Sementara, sebelumnya hanya sebesar Rp 5,32 miliar.

Asuransi Bintang juga mengantongi rugi bersih sebesar Rp 5,08 miliar di kuartal satu tahun ini. Di kuartal yang sama tahun lalu, perseroan mencetak laba bersih sebesar Rp 812,45 juta. Rugi bersih yang dialami perseroan akibat naiknya beban underwriting sekitar Rp 10 miliar.

Presiden Direktur Asuransi Bintang Muhaimin Iqbal bilang, “Potensi orang terkena banjir itu 13% dalam setahun, dan ini di dua-pertiga wilayah Jakarta,” tandasnya. Itu sebabnya, Jakarta yang langganan banjir jelas tidak bisa tertangani dengan pendekatan biasa.

Di samping itu, banjir dan jebloknya rapor perusahaan asuransi kuartal pertama ini memang memberikan pelajaran berharga. “Kalau enggak di-cover, ekonomi enggak jalan,” kata Muhaimin. Hanya saja, imbuhnya, dalam saat yang bersamaan, premi asuransi tidak sepadan dengan risiko yang dihadapi.

Hitungan Asuransi Dayin Mitra malah meleset. Mestinya, sampai Maret 2007 perseroan mengalami rugi bersih. Karena ada pajak tangguhan perseroan yang mencapai Rp 978,181 juta, maka kuartal pertama tahun ini masih bisa mencetak kenaikan laba bersih menjadi Rp 291,9 juta. Bandingkan dengan sebelumnya yang hanya Rp 256,67 juta.

Analis optimistis, pelaku malah pesimistis

Syukurlah, tak semua laba perusahaan asuransi hanyut terbawa banjir. Masih ada yang bernafas lega dengan senyum yang mengembang melihat rapor kuartal pertama ini. Coba lihat Asuransi Ramayana. Perseroan ini mencatatkan laba bersih sebesar Rp 11,09 miliar pada kuartal pertama 2007.

Tetapi, tetap saja, Asuransi Ramayana tak boleh ongkang-ongkang kaki. Ini baru langkah awal. Masih ada tiga kuartal lagi untuk membukukan laba bersih. “Asal hati-hati dan tidak gegabah, kami optimistis perolehan laba bersih akan membaik di kuartal selanjutnya,” kata Frans.

Berdasarkan hitungan AAUI awal tahun ini, asuransi umum ditargetkan tumbuh berkisar 15%- 20%. Syaratnya: tidak ada gejolak politik, pertumbuhan ekonomi sesuai asumsi pemerintah 5%-6%, plus tidak ada perang tarif.

Edwin Sinaga, analis pasar modal, menyuarakan sinyal positif. “Bagi perusahaan asuransi, memasuki musim kemarau, mestinya klaim banjir tidak ada. Soal huruhara, rasanya masih bisa ditekan,” kata Edwin. Pendeknya, pendapatan premi bisa lebih tinggi.

Selain itu, menurut Edwin, di Indonesia penetrasi pasarnya masih besar. “Sehingga, bisnis asuransi masih bisa berkembang,” tegas Edwin. Ceruk yang masih besar ini memungkinkan pertambahan pemegang polis .

Lain pengamat pasar modal, lain pula hitungan pelaku industri asuransi. Kendati punya target pertumbuhan yang lumayan serta pelajaran dari banjir, nyatanya AAUI tidak mencatat lonjakan pemegang polis anyar pasca-banjir besar kemarin. Frans malah menghitung pertumbuhannya biasa saja. “Naik, tetapi tidak terlalu signifikan,” cetusnya.

Kasihan, deh. Sudah laba hanyut, eh, pertumbuhannya biasabiasa saja.

+++++
Menghitung Klaim Sambil Memburu Rapor Biru

Kuartal pertama ini memang mengguratkan bekas yang dalam pada laporan keuangan perusahaan asuransi. Salah satu komponen yang membuat rapor mereka merah atau biru adalah pembayaran klaim yang membengkak. Wajar, bencana datang silih berganti. Banjir, kecelakaan dan sebagainya.

Lihat saja pembayaran klaim Asuransi Allianz Utama. Perusahaan ini menerima 760 laporan klaim kendaraan bermotor dengan nilai estimasi klaim Rp 11 miliar. Untuk properti dan konstruksi, muncul 382 klaim dengan nilai estimasi klaim Rp 157 miliar.

Hingga saat ini, lebih dari 550 klaim telah diproses dengan nilai klaim total lebih dari Rp 10,9 miliar. “Semoga tidak mengancam kinerja keuangan di tahun 2007 ini,” kata Presiden Direktur Asuransi Allianz Utama Indonesia Victor Sandjaja.

Perusahaan lain yang sudah buka-bukaan soal pembayaran klaim adalah Asuransi Central Asia (ACA). Perusahaan ini menangani 363 kasus klaim kendaraan bermotor dengan estimasi nilai klaim mencapai Rp 4,7 miliar. Untuk properti, ada 513 kasus dengan total estimasi klaim senilai Rp 420,7 miliar.

“Klaim yang membengkak di kuartal pertama kemarin wajar, karena eksposure memang besar sekali,” terang Gunawan Hadidjojo, Direktur ACA. Dus, klaim yang terfokus di bulan tertentu ini membuat rapor memerah.

Klaim yang harus dibayarkan Asuransi Sinarmas juga menggelembung. Tak kurang dari 600 klaim masuk ke meja Sinarmas. Estimasi nilai klaim untuk 400-an kendaraan bermotor bernilai sekitar Rp 5 miliar. Sementara, sektor perumahan siap menggerus brankasnya Rp 10 miliar, plus bangunan komersial Rp 100 miliar.

Namun, meski brankas tergerus, industri asuransi tetap menyatakan keyakinannya di bisnis ini. “Kami tetap menargetkan pendapatan premi bruto 2007 sebesar Rp 670 miliar,” kata Victor.

Jika mengintip laporan kuartal pertama tahun ini, pendapatan premi bruto Allianz naik 5% dibanding dengan kuartal yang sama tahun lalu, menjadi Rp 186,3 miliar. Polis yang diterbitkan pun naik dari 20.218 polis di kuartal pertama 2006 menjadi 22.798 polis.

ACA juga mantap menghadapi masa depan. “Target pertumbuhan premi kami tahun ini tak berubah, tetap 10%,” ucap Gunawan.

Selamat bekerja keras, ya


2 Responses to “Surutnya Keuntungan di Tengah Banjirnya Klaim”


  1. October 7, 2013 at 4:44 pm

    Itu kan yang rugi…karena bencana alam seperti banjir…kalau yang untung gimana?

  2. May 19, 2014 at 4:19 pm

    I really like it when folks get together and share ideas.
    Great blog, continue the good work!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


May 2007
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Archives

Flickr Photos

Chin Scratching Short-eared Owl

Making A Splash

Chouette épervière -  Northern hawk owl - Surnia ulula

Trillium Lake Alpine Glow

Pierless

A Candlelight Dinner

friend and foe

Ice Age Arrows.

More Photos

%d bloggers like this: