25
Aug
07

Bukan Bisnis Sampingan, tapi Bisnis Pelengkap

Apa beda Danareksa dengan reksadana? Jelas bedalah. Reksadana merupakan salah satu produk investasi yang sedang naik daun, sementara Danareksa adalah salah satu badan usaha milik negara (BUMN) di sektor keuangan yang sedang jadi sorotan.

Ya, jadi sorotan lantaran sang Direktur Utama Lin Chi Wei mendadak mengundurkan diri. Maka, kini empat direktur lain bergotong royong mengarahkan biduk perjalanan Danareksa.

Dari segi kinerja, semester pertama tahun ini perusahaan yang berdiri pada 28 Desember 1976 ini mencatat hasil gemilang. Tengok saja laba bersihnya naik hampir empat kali lipat. Dari Rp 21,27 miliar di semester pertama 2006 menjadi Rp 82,3 miliar.

Mengkilapnya kinerja bak sepatu habis disemir itu lantaran meningkatnya pendapatan perseroan menjadi Rp 219,37 miliar. Padahal, di enam bulan pertama tahun lalu, pendapatan Danareksa hanya Rp 158,36 miliar. Selain itu, beban usaha juga turun dari Rp 81,35 miliar menjadi Rp 78,94 miliar.

Kontribusi kinerja tersebut berasal dari beberapa lini usaha Danareksa. Mulai dari underwriting, penasihat jasa keuangan, brokerage, dan manajemen aset. Bisnis-bisnis tersebut di bawah bendera PT Danareksa Sekuritas, PT Danareksa Investment Management, PT Danareksa Finance, PT Danareksa Futures, dan Danareksa B.V. Perusahaan terakhir ini nongkrong di Belanda.

Selain harus membereskan utang yang semester pertama tahun ini melonjak dari Rp 1,38 triliun menjadi Rp 2 triliun, Danareksa dalam waktu dekat sekaligus menjalankan bisnis sampingan. “Eh, namanya bukan bisnis sampingan, tapi bisnis pelengkap, lo,” ucap Direktur Danareksa Harry Wiguna, buru-buru.

Memang, pemerintah sendiri berharap Danareksa terus menggurita. “Ke depan, Danareksa itu adalah sebuah investment house, investment broker of public yang kita miliki,” tandas Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil.

Keinginan sang bos besar itu klop dengan cita-cita manajemen Danareksa. “Kami punya mimpi untuk memperluas basis investor lokal,” kata Harry.

Caranya, Danareksa akan membiakkan cabangnya di seluruh Indonesia. Saat ini Danareksa hanya punya 15 Sentra Investasi Danareksa (SID) di 8 kota besar di Indonesia.

Rencananya, jumlah ini akan bertambah menjadi 50 SID dalam dua tahun. Tak cuma itu, Danareksa juga bakal membuka perwakilan di Beijing dan London. “Hitungan investasinya, Rp 1 miliar per SID,” ujar Harry.

Kalau begitu, Danareksa membutuhkan setidaknya Rp 35 miliar. Duit dari mana? “Pinjaman. Danareksa sudah dipercaya kembali mendapat kredit jangka pendek dari beberapa bank asing maupun lokal,” katanya.

One stop shopping bagi para pemutar duit

Bisnis pelengkap yang sudah on the way adalah Danareksa Training Center (DTC). Lembaga ini memberi training pada siapa saja yang membutuhkan informasi soal instrumen investasi. Danareksa berniat mengubah masyarakat penabung menjadi masyarakat investasi.

Misalnya, ada perusahaan asuransi ingin memberi training pada karyawannya mengenai berbagai seluk-beluk investasi. “Mereka bisa meminta pada kami, dan kami akan mengirimkan orang untuk memberi training,” kata Harry.

Yang namanya bisnis, tentu tak lepas dari urusan fulus. Sebagai ancar-ancar, kalau memberi training setengah hari di luar kota, DTC mematok Rp 1,5 juta per orang. Memang, saat in DTC masih menjadi cost center.

Bisnis lainnya adalah Danareksa Research Institute (DRI). Lembaga ini asyik berkutat saban hari membuat riset mengenai indikator-indikator perekonomian maupun bisnis.

DRI juga menerbitkan laporan indeks harga konsumen, prospek Sertifikat Bank Indonesia (SBI), prospek anggaran negara, dan sebagainya. DRI menyokong pula setiap aktivitas bisnis Danareksa. Misalnya, ikut mendukung tim corporate finance dan penjualan Danareksa saat penawaran saham perdana (initial public offering, IPO) dan emisi obligasi.

“Setiap ada beauty contest dimana Danareksa ikut, DRI membikin apa adanya,” kata Harry. Ternyata, investor menyukai kesan apa adanya ini. Jadi, jangan heran, Danareksa bisa memenangi beauty contest yang mereka ikuti.

Oh, ya, selain jasa-jasa keuangan yang menebalkan brankas Danareksa, perusahaan ini bergandengan tangan dengan Bursa Efek Jakarta (BEJ). Tujuannya, membikin training untuk masyarakat umum tentang investasi. Hanya, untuk yang ini Danareksa tidak memungut ongkos sepeser pun, alias gratis.

Target peserta training ini adalah masyarakat awam yang berniat untuk investasi atau punya ketertarikan di bidang investasi.

“Keuntungan buat kami dari menjalankan bisnis ini adalah kepercayaan dan integritas,” katanya. Persisnya, tambah Harry, sebagai pemain di industri keuangan, Danareksa tidak akan mengambil keuntungan di luar ketentuan yang sudah ditetapkan bersama.

Soal fee atau kutipan, contohnya. “Kalau mereka bayar satu perak, ya tetap bayar satu perak, tidak ada charge tambahan sama sekali,” kata dia.

Ekspansi boleh saja, tapi Danareksa tetaplah Danareksa. “Kami ingin tetap fokus dalam investment banking. Karena kami ini memang dibikin untuk mengembangkan pasar modal,” kata Harry panjang lebar.

Asal tahu saja, saat ini Danareksa sedang meminggirkan layanannya untuk swasta. Perusahaan keuangan ini tengah giat-giatnya melayani BUMN.

Umpamanya, ada sebuah BUMN yang ingin memberikan fasilitas kendaraan dinas bagi tingkat jabatan tertentu, Danareksa bakal memenuhi semuanya. Kecuali ada kesepakatan antara si karyawan tersebut dengan perusahaan BUMN itu.

Danareksa juga tengah agresif menggenjot corporate leasing dengan mendirikan perusahaan pembiayaan. “Kami punya semua izin, kecuali kartu kredit,” kata Harry. Tak perlu heran, Danareksa sekarang kian berambisi untuk menjadi one stop shopping bagi siapa saja yang ingin memutarkan duitnya.

“Kami ingin mengembangkan bisnis pelengkap sebesar mungkin, tapi sifatnya tetap melengkapi bisnis utama,” kata Harry. Bisa jadi bisnis pelengkap ini menopang laba perusahaan semester pertama.

Awal bulan ini, Danareksa menawarkan Obligasi Danareksa II-2007 senilai Rp 500 miliar dengan jangka waktu lima tahun. Kupon atawa bunga yang mereka tawarkan untuk obligasi ini sekitar 10,375% hingga 10,875%.

PT Pefindo memberikan nilai yang cukup manis untuk obligasi ini, yaitu A- dengan masa berlaku antara 29 Juni 2007-01 Mei 2008. “Kami berharap, tahun depan peringkat kami bisa mencapai A,” katanya.

Sebanyak Rp 300 miliar dari obligasi ini digunakan untuk refinancing bagi pembayaran utang perseroan yang akan jatuh tempo. “Sisanya untuk modal kerja,” imbuh Harry.

Modal kerja ini, menurut Harry, tak lain untuk menggenjot peran jasa underwriting, penasihat jasa keuangan, brokerage, dan manajemen aset. “Kami punya kontribusi transaksi di BEJ itu setiap hari kira-kira 5%-10%,” katanya. Di lantai bursa, persentase itu setara dengan Rp 250 miliar per hari. Cakep, kan?

Danareksa belum berniat mematok target yang lebih galak lagi. Apalagi, para kompetitor juga terus menunjukkan agresivitas dan kematangan mereka. “Kalau cabang kami sudah besar, kami baru akan bisa menentukan kembali target kami,” katanya.

Namun, bukan tidak mungkin, kalau semuanya sudah mapan, Danareksa memasang ambisi kontribusi di BEJ sekitar 20%. “Tahun depan kami akan menambah modal,” kata Harry.

Nah, itulah kiprah Danareksa di gelanggang investasi. Anda berminat? Silakan memanfaatkan apa yang ditawarkan


1 Response to “Bukan Bisnis Sampingan, tapi Bisnis Pelengkap”


  1. February 23, 2014 at 9:37 pm

    Hi there, I think your blog may be having browser compatibility issues.
    When I look at your site in Safari, it looks fine however, when opening in IE,
    it has some overlapping issues. I simply wanted
    to give you a quick heads up! Apart from that, wonderful blog!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


August 2007
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Archives

Flickr Photos

Chin Scratching Short-eared Owl

Making A Splash

Chouette épervière -  Northern hawk owl - Surnia ulula

Trillium Lake Alpine Glow

Pierless

A Candlelight Dinner

friend and foe

Ice Age Arrows.

More Photos

%d bloggers like this: