10
Sep
07

Tinggal Kita Tenteng,Terus Gesek, Beres, dah

Kalau Anda termasuk susah mengontrol nafsu belanja, sebaiknya hindarilah memakai kartu kredit. Maklum, bila tagihan membengkak dan tak bisa melunasi seluruhnya, Anda bakal kena getok bunga yang sangat mencekik leher. Bila tak sanggup bayar, bersiaplah menerima telepon atau kedatangan penagih utang penerbit kartu kredit yang terkenal sangar-sangar.

Maka, ada orang yang lebih nyaman berbelanja atau bertransaksi keuangan lainnya dengan kartu debet. Jaringan bank untuk debet pun sudah semakin luas dan merajalela. Mulai dari hipermarket, kedai kecil, sampai pedagang di stan pameran sudah menyediakan electronic data capture (EDC) atau mesin gesek untuk melakukan transaksi debet. Jawara di bisnis kartu debet ini adalah Bank Central Asia (BCA).

vBank milik Kelompok Djarum itu sudah menjaring 24.000 pedagang alias merchant di 40.000 gerai yang tersebar di seluruh Indonesia. “Mesin EDC kami sudah mencapai 50.000,” ujar Laksono, Manajer Kepala Divisi Perbankan Konsumen BCA.

Sementara itu, Bank Mandiri juga kian gencar melakukan berbagai promo dengan kartu debetnya.

“Kami sudah punya 21.000 EDC. Transaksi debet kami sekitar 700-an sebulan,” ujar Direktur Mikro dan Ritel Bank Mandiri Budi Gunadi Sadikin. EDC itu tersebar di 110.000 merchant di seluruh Indonesia, serta 21 juta merchant di seluruh dunia.

Tak usah kaget melihat ekspansi yang begitu cepat, karena Bank Mandiri menggandeng Visa Internasional untuk kartu debetnya.

Jadi, asal menemukan toko yang berlogo Visa, kartu debet Mandiri bisa langsung Anda gesek. Akan halnya para nasabah Bank BNI bisa berbelanja dengan transaksi debet di 9.300 merchant.

Para nasabah bank berlogo 46 ini hanya perlu mencari jaringan Bank BNI atau Master Card untuk bisa menggesek kartu debetnya. BCA tahun lalu menguasai 82% transaksi debet dan membukukan transaksi senilai Rp 18 triliun.

Memasuki semester pertama 2007, transaksi debet BCA mencapai Rp 7 triliun atau tumbuh 40% ketimbang periode yang sama. Adapun nilai transaksi debet di Mandiri tahun lalu tumbuh 30%.

Sampai Maret lalu, transaksi debet dari 5,5 juta pemegang kartu Mandiri sudah menjadi Rp 585 miliar.

Di Bank BNI, pertumbuhan volume transaksi debet lebih dahsyat lagi. Volume transaksi belanja di BNI hingga April 2007 mencapai Rp 350 miliar. Artinya, dibanding dengan tahun lalu, volume transaksi tumbuh 90%.

Untuk kartu debet, umumnya bank tidak membebankan fee ke nasabah. Bank mengenakan biaya bulanan ke merchant untuk perawatan mesin EDC.

Tak tergantung telepon, memanfaatkan GPRS

Rupanya, Artajasa tertarik juga untuk menekuni bisnis kartu debet. Rencananya, September ini si operator ATM Bersama bakal terjun berbisnis kartu debet. Pihak Artajasa sadar betul kalau persaingan di kartu debet begitu ketat. “Maka, kami menawarkan teknologi EDC yang lebih canggih,” ujar Kepala Grup Pengembangan Korporat Artajasa Aries Barkah.

Ia menjelaskan, EDC yang ada sekarang masih memakai saluran telepon, sehingga harus mengulurkan kabel dulu. Dan, kalau salurannya sibuk, maka transaksi tidak bisa dilakukan.

Nah, Artajasa bakal menawarkan EDC yang mengaplikasikan teknologi GPRS. “Jadi, tak perlu colokan sana-sini, yang penting ada sinyal, maka EDC bisa digunakan,” kata Aries. EDC tersebut tinggal tenteng saja ke sana-ke mari. Kalau ada nasabah yang berminat transaksi, tinggal gesek.

“Agar bisa bersaing, pada awalnya kami mengejar pasar yang belum digarap kartu debet lain,” ungkap Aries. Maka, Artajasa bakal mengejar merchant-merchant milik bank perkreditan rakyat (BPR) dan bank pembangunan daerah (BPD). “BPD itu kan merchant- nya ada, seperti Pasar Jaya dan rumahsakit daerah,” ujar Aries lagi.

Untuk tahap awal, Artajasa memberikan layanan pembayaran kredit sepeda motor dan pembelian pulsa telepon seluler. Setelah itu, barulah pemegang kartu debet Artajasa bisa belanja di berbagai merchant.

Bank yang pertama kali bekerjasama untuk kartu debet Artajasa ini adalah BPD Sumatra Selatan (Sumsel). “Akan kita siapkan 300 mesin EDC di wilayah Sumsel dan Bangka Belitung,” tutur Manajer Pengembangan ATM BPD Sumsel Bambang Wahyunugroho.

BPD Sumsel bakal menyebarkan EDC di mal-mal kecil pada dua provinsi tersebut. Selain itu, “Banyak sekali hotel serta restoran yang belum pakai EDC,” kata Bambang.

Setelah BPD Sumsel, rencananya Artajasa bakal menggandeng Bank Muamalat. “Betul itu. Soalnya, untuk jaringan ATM Bersama, kami paling banyak transaksinya,” kata Hermansyah, dari Bisnis Inovasi Bank Muamalat.

Setelah itu, Artajasa bakal mengajak seluruh anggota ATM Bersama yang berjumlah 67 bank untuk bergabung. Termasuk, Bank Mandiri yang juga sudah memiliki Debet Mandiri.

Apa bank segede Mandiri mau ikut? “Mandiri kan sudah gabung dengan Artajasa sejak tahun lalu. Bukannya itu otomatis akan bisa EDC debet,” cetus Budi.Nah, akur, kan?

Loyal pada Satu EDC demi Iming-Iming?

Kartu debet sebenarnya adalah kartu plastik untuk menarik uang tunai, baik melalui teller, ATM, atau tempat lain yang ditentukan.

Kartu debet juga merupakan instrumen pembayaran dengan jumlah maksimal sesuai dengan uang yang Anda miliki di bank. Misalnya, untuk belanja dan pembayaran berbagai tagihan.

Jika Anda perhatikan, terkadang seorang kasir loyal menggesekkan kartu — entah itu kartu debet atau kartu kredit — hanya pada EDC salah satu bank. Kadang terjadi juga, Anda terpaksa menunggu lama karena kasir tak kunjung selesai menggesek kartu karena EDC ngadat. Mengapa kasir enggan menggesek ke EDC bank lain di sebelahnya?

Soalnya, si kasir memang sudah loyal pada pemilik mesin tertentu. Bukan apa-apa, biasanya bank memberikan iming-iming atas seringnya pemakaian sebuah EDC.

Misalnya, jika digunakan lebih dari 100 kali transaksi dalam sehari, si kasir akan mendapat pulsa isi ulang senilai Rp 100.000 atau hadiah lainnya. Lumayan, kan?

Perilaku demikian memang tidak merugikan konsumen secara material. Namun, kalau mesin EDC dari suatu bank lagi macet, dan kasir enggak pindah ke yang lain, kan jelas menghabiskan waktu.

Lalu, kok bank mau-maunya memberikan pemanis ke kasir?

“Kan, merchant bayar 1%-2% dari jumlah transaksi,” ujar sebuah sumber KONTAN. Merchant bersedia membayar, karena menganggap bank mendatangkan konsumen. Dari situlah sumber dana pemanis tersebut.

Namun, pihak bank membantah kalau mereka “berkongkalikong” dengan kasir. “Kami tidak pernah memberikan bonus atau semacam sogokan kepada merchant,” kata AVP Kartu Debet Bank BNI Ade Satrio.

Ia membenarkan kalau merchant diuntungkan jika bekerjasama dengan bank. “Kita kan punya jutaan nasabah. Kalau bekerjasama dengan BNI, sama saja dengan membawa jutaan nasabah ke merchant dan jadi loyal, ” kata Ade.

Selain itu, kalau ada promosi, bank juga mengikutsertakan merchant mereka.


1 Response to “Tinggal Kita Tenteng,Terus Gesek, Beres, dah”


  1. October 11, 2014 at 2:53 pm

    Hello would you mind letting me know which hosting company you’re working with?
    I’ve loaded your blog in 3 different browsers and I must say this blog loads a lot
    quicker then most. Can you suggest a good hosting provider at a fair
    price? Thanks a lot, I appreciate it!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


September 2007
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Archives

Flickr Photos

Chin Scratching Short-eared Owl

Making A Splash

Chouette épervière -  Northern hawk owl - Surnia ulula

Trillium Lake Alpine Glow

Pierless

A Candlelight Dinner

friend and foe

Ice Age Arrows.

More Photos

%d bloggers like this: