22
Sep
07

Perusahaan asuransi joint venture memamerkan rapor biru

Anda punya polis asuransi? Sebagian dari Anda tentu saja menganggukkan kepala. Memang, sih, zaman telah berubah. Semakin banyak masyarakat yang melek akan pentingnya asuransi.

Namun, hal tersebut tak membuat para pemain industri asuransi puas. “Semester pertama tahun ini baru 37,6 juta orang Indonesia yang mengasuransikan dirinya,” cetus Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Eddy K.A. Berutu. Angka itu 3,24% dari total penduduk negeri ini yang berjumlah 220 juta jiwa.

Memang, ketimbang tahun lalu ada peningkatan 31%. Semester pertama 2006 jumlah pemegang polis tercatat 28,7 juta orang. Adapun pendapatan premi pada semester pertama tahun ini sekitar Rp 11,871 triliun. Angka ini naik melonjak 85% dibanding dengan periode sama tahun lalu yang mencapai Rp 6,418 triliun.

Puas? Tentu saja industri asuransi bakal bilang belum. Bandingkan dengan dana pihak ketiga perbankan yang semester pertama ini yang totalnya mencapai Rp 1.503,2 triliun.

Wajar sajalah kalau perbankan lebih memikat nasabah. Kendati sudah jor-joran berpromosi, toh masih cukup banyak masyarakat yang apriori terhadap industry asuransi.

Namun, industri asuransi jiwa terus tumbuh. Saat ini ada 43 perusahaan asuransi jiwa yang berlaga.

Jumlah itu terdiri atas 1 perusahaan milik BUMN, 27 asuransi jiwa nasional dan 15 asuransi jiwa patungan dengan asing (joint venture).

Kendati jumlahnya lebih sedikit, namun perusahaan joint venture terus mencatatkan rapor gemilang. Motornya adalah produk bernama unitlink.

Bahkan, kini sudah ada perusahaan asuransi yang menembus pendapatan premi di atas Rp 1 triliun. Misalnya saja Asuransi Jiwa Manulife Indonesia. Perusahaan ini sepanjang semester I 2007 meraup total premi Rp 1,013 triliun atau tumbuh 30,88% dibanding dengan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 774 miliar.

Dari angka premi itu, sebanyak 50% merupakan donasi dari unitlink. Menurut hitungan Wakil Presdir Manulife Adi Purnomo, meroketnya premi dari unitlink itu karena produk ini dapat menjadi salah satu opsi media investasi.

“Pasar semakin kritis dan cerdas sehingga diperlukan system yang baik,” imbuhnya. Penopang PT AIG Life juga unitlink. Sepanjang periode Januari- Mei 2007, produk unitlink telah menyumbangkan pendapatan premi perusahaannya Rp 450 miliar. Ini merupakan 70% dari total pendapatan premi mereka.

Memaksimalkan lubang

Tahun lalu, unitlink pun menyodok PT Allianz Life. Premi tahun lalu terkumpul Rp 1,3 triliun.

Jumlah ini naik drastis ketimbang pendapatan premi 2005 yang mencapai Rp 829 miliar. Lagi-lagi motornya adalah produk-produk unitlink. Tahun ini, Allianz menargetkan pendapatan premi sebesar Rp 1,5 trilliun.

Perusahaan asuransi patungan gencar pula meluncurkan produk baru. Misalnya, baru-baru ini AIG meluncurkan program proteksi kesehatan kumpulan untuk pelaku bisnis usaha kecil dan menengah (UKM) bernama MediPro.

Wakil Presdir & Chief Marketing Offi cer AIG Life S. Budisuharto bilang paket ini dapat menjadi solusi semakin mahalnya biaya kesehatan yang dihadapi UKM. “Program ini lengkap dan terjangkau. Dengan minimal 10 karyawan, satu unit usaha bisa meraih manfaat perawatan kesehatan yang optimal,” ujar Budi.

Sementara itu, Allianz Life Indonesia tahun ini mengeluarkan produk asuransi kesehatan syariah. “Indonesia merupakan Negara pertama yang menjadi pilot project bagi peluncuran produk asuransi syariah dari Allianz di Asia,” kata Presiden Direktur Allianz Life Indonesia, Jens Reisch.

Rasa pede Reisch ini ada buktinya. April lalu, asuransi Syariah Allianz membukukan premi Rp 15,8 miliar dari 2.230 polis. Angka ini melebihi target Allianz yang menargetkan sekitar 1.000 polis asuransi dengan premi baru sekitar Rp 5 miliar.

Untuk mengejar target penerimaan, asuransi melewati kanal bancassurance. Tengok saja, Manulife Indonesia yang sudah menggandeng 9 bank. Di antaranya Standard Chartered Bank, Bank Niaga, Bank Danamon, DBS, Citibank, dan HSBC. Rencananya akhir tahun ini Manulife akan mengandeng BCA. “Saat ini komposisi distribusi terbesar masih dipegang keagenan, 70%. Tapi, tiga-lima tahun ke depan, kami harap komposisi distribusi Manulife bisa tercapai 50:50,” ujar Adi.

Bagaimana dengan asuransi lokal? “Kalau lokal enggak bergerak dan menyusun strategi, akan ketinggalan,” kata Ketua Umum AAJI, Eveline Pitruschka.

Para pemain joint venture merasa tidak menyodok perusahaan asuransi lokal. “Bukannya perusahaan join venture ini mau memonopoli, hanya saja perusahaan local yang tidak punya modal dan infrastruktur sekuat joint venture,” kata dia.

Jadi, pemain lokal modalnya juga harus kuat, ya.

Semuanya “Asli” Perusahaan Indonesia

Bagi Kepala Biro Perasuransian Bapepam LK, Isa Rchmatarwata, tidak ada pemisahan antara perusahaan asuransi asing maupun lokal di Indonesia. “Di perasuransian tidak ada perusahaan asing. Yang ada kan perusahaan joint venture, berbadan hukum Indonesia, membayar pajak ke Indonesia,” kata dia. Inilah yang membuat perusahaan asuransi seperti Manulife, Prudential, Allianz, AIG, sama layaknya perusahaan asuransi lain yang lahir dari rahim Indonesia.

“Saya lebih senang melihatnya ada kelompok perusahaan yang sudah berprestasi baik, kemudian ada lagi kelompok perusahaan yang berprestasi belum baik,” dalih Isa. Ia berharap asuransi yang belum baik ini bisa memacu kinerjanya; sehingga muncul rasa percaya diri masyarakat akan perusahaan tersebut.

Kebanggaan itu datang bukan saja karena permodalannya yang cukup, tapi juga karena kemampuan agen asuransi menjual produknya ke masyarakat. Dus, memiliki produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Isa menegaskan, dalam menjalankan bisnis asuransi, intinya adalah kepercayaan. “Mampukah pada saatnya nanti mereka akan menepati janjinya?” kata Isa.

Dalam kondisi demikian, imbuhnya, permodalan itu menjadi elemenpenting. “Orang melihat, perusahaan yang bermodal gede lebih diuntungkan posisinya dibandingkan dengan perusahaan bermodal kecil,” tambahnya.

Dengan begitu, semua perusahaan asuransi itu bersaing secara bebas dan sehat. Sepanjang setiap pemain itu bermain sesuai dengan aturan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Di lapangan yang bernama Indonesia itu, kata Isa, baik perusahaan joint venture maupun perusahaan lokal berkompetisi bersama-sama.


0 Responses to “Perusahaan asuransi joint venture memamerkan rapor biru”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


September 2007
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Archives

Flickr Photos

Chin Scratching Short-eared Owl

Making A Splash

Chouette épervière -  Northern hawk owl - Surnia ulula

Trillium Lake Alpine Glow

Pierless

A Candlelight Dinner

friend and foe

Ice Age Arrows.

More Photos

%d bloggers like this: