11
Oct
07

Seiring Bank Tergelak,Asuransi pun Terbahak

Benar juga kata pepatah, kalau bersatu bikin kita teguh. Contohnya saja kerjasama antara bank dengan perusahaan asuransi yang dikenal dengan sebutan bancassurance. Ini adalah kongsian kedua lembaga keuangan tersebut untuk memasarkan produk-produk asuransi, atau gabungan produk asuransi.

Sebutlah asuransi pendidikan, asuransi berjangka, asuransi rawat inap, maupun unitlink. Bagi perusahaan asuransi, jelas bancassurance merupakan cara ampuh untuk memasarkan produk dengan memanfaatkan jaringan perbankan. Tentu saja, di samping dengan menggunakan sepasukan agen asuransi.

Saat ini, jumlah nasabah bank di Indonesia antara 40 juta sampai 45 juta. Inilah pangsa pasar potensial bagi perusahaan asuransi melalui bisnis bancassurance.

Sementara, bagi perbankan, dengan menjadi agen penjual asuransi ada imbalannya. Dan, tentu saja ini bisa menambah pendapatan non-bunga alias fee based income perbankan.

Itu sebabnya, boleh dibilang, bisnis bancassurance adalah keran pendapatan, baik bagi perbankan maupun perusahaan asuransi.

Apalagi, total premi bancassurance di Indonesia juga naik 11,6%, dari Rp 2,3 triliun pada semester pertama 2006 menjadi Rp 5 triliun di paruh pertama tahun 2007. Sedangkan pasar bancassurance saban tahun tumbuh 30%.

Jangan heran kalau hari berganti hari, ada saja kerjasama bancassurance yang baru. Bulan lalu misalnya, Great Eastern Life Indonesia (GeLindo) gandengan dengan Bank NISP. Mereka meluncurkan produk yang bernama Prima NISP.

Ini memang bukan perkawinan mereka yang pertama. Sebelumnya, NISP dan GeLindo sudah berkongsi untuk membikin Maksima$ NISP, Entreprenuer NISP, dan Perdana NISP.

Berkat beberapa kerjasama tersebut, perolehan premi produk bancassurance keduanya pada semester pertama 2007 naik 400%, menjadi Rp 157 miliar. “Jumlah premi terus membaik. Pada Agustus lalu total premi sudah meningkat menjadi Rp 178 miliar, dengan rasio kecukupan modal mencapai 284%,” kata Direktur GeLindo Walter Lumban Gaol. Jumlah nasabah bancassurance NISP kini mencapai 60.000-an.

Sementara, Asuransi Jiwa Manulife hingga akhir Agustus lalu mencatat pendapatan premi Rp 1,4 triliun. Total premi tersebut sebanyak 16% merupakan donasi dari bancassurance. Sebanyak 9% dari premi kumpulan dan 75% dari asuransi individu. “Hingga akhir 2007, kami menargetkan pertumbuhan premi mencapai 20%-28%,” ujar Wakil Presiden Direktur Manulife Indonesia Adi Purnomo.

Salah satu gandengan Manulife adalah Bank Niaga. Bank yang saham mayoritasnya milik Bumiputra- Commerce Holdings Berhad (BCHB) Malaysia itu menargetkan, tahun ini hasil penjualan bancassurance meningkat 45%. “Kami menawarkan produk bancassurance yang bervariasi,” ujar Carolina Dina, Kepala Grup Produk Ritel dan Pengembangan Layanan Bank Niaga. Mulai dari asuransi jiwa, asuransi kesehatan atau santunan rawat inap, unitlink, hingga produk asuransi kerugian atau asuransi umum.

Niaga juga bekerjasama dengan Asuransi Cigna, Sequis Life, dan AIA. Sedangkan untuk asuransi umum, Niaga berkongsi dengan Asuransi Wahana Tata, Tri Pakarta, Raksa Pratikara, Asuransi Sinar Mas, dan Asuransi Bintang.

Terus bertambah gemuk

Yang tak kalah agresif adalah Asuransi Takaful Keluarga. Perusahaan asuransi syariah ini mematok laba bersih Rp 10 miliar pada akhir 2007. Andalannya adalah dengan meningkatkan distribusi melalui bancassurance.

Direktur Utama Asuransi Takaful Keluarga Agus Edi Sumanto berhitung, tahun ini perusahaan yang ia komandani bakal menggendutkan penerimaan premi asuransi dari kanal bancassurance menjadi 40%. Sebelumnya sumbangan premi bancassurance baru sebesar 24%.

“Kami bakal bekerjasama dengan bank umum syariah dan unit usaha syariah bank umum konvensional,” kata Agus. Takaful juga tengah merintis kerja sama bancassurance dengan 40 bank perkreditan rakyat syariah (BPRS) dan baitulmal wattamwil (BMT).

Penetrasi asuransi di Indonesia memang masih imut. Hanya 0,8% dari Produk Domestik Bruto. Di negara-negara lainnya seperti Malaysia, Singapura, Thailand penetrasi asuransi masih jauh lebih tinggi. Persentase masing-masing sebesar 3,2%, 5,4%, dan 1,9%.

Tapi, dengan mengandalkan bancassurance, industri optimistis penetrasi asuransi di negeri ini bakal meningkat. Apalagi saat ini program penjaminan pemerintah di perbankan hanya untuk simpanan sebesar Rp 100 juta. “Jadi, sebenarnya banyak potensi yang dapat ditangkap dari pengalihan dana para deposan, salah satunya ke bancassurance,” ujar Evelina F. Pietruschka, Ketua Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia.

Perbankan pun siap menangkap peluang ini. Memang, fee yang bank peroleh bervariasi. Ada yang mendapat fee 5% jika berhasil mengumpulkan premi bancassurance Rp 5 miliar. Dan, kalau di atas itu bisa mendapat fee 12,5%.

Mari ambil contoh Manulife. Pendapatan premi bancassurance- nya per Agustus lalu adalah Rp 224 miliar. Katakan saja perbankan yang bekerjasama dengan perusahaan asuransi campuran itu bakal mendapatkan fee 12,5%. Artinya, brankas bank bakal bertambah gendut menjadi sekitar Rp 28 miliar. Hmm…, cihuy, kan?

+++++
Terus Memecut Produk Kongsian

Mari kita tengok ke belakang. Pelopor bancassurance adalah Eropa. Di sana, bancassurance tumbuh begitu pesat.

Tahun 2000 saja, perusahaan asuransi di Prancis dan Portugal mencatat, 70% pendapatan premi baru mereka berasal dari bancassurance. Sementara, donasi bancassurance di Belgia sebesar 62%, Swedia 30%, dan Australia 50%. Di tahun yang sama, perkembangan di Asia tidak kalah menarik.

Di Malaysia, kanal ini menghasilkan premi bisnis baru asuransi jiwa sebesar 6,6 miliar ringgit.

Jumlah tersebut merupakan 48% dari total premi baru. Adapun di Singapura berkisar 20%-30%, dan di China sebesar 28%.

Di Indonesia, bancassurance mulai diperkenalkan pada pertengahan tahun 1990-an oleh Bank Lippo. Pelopornya adalah Lippo Life lewat produk Warisan.

Produk Warisan ini dinilai sukses. Maka produk-produk lain pun mengekor. Sebut saja Tabungan Pendidikan Bank Niaga-Cigna, dan berbagai produk asuransi kesehatan seperti dari Bank Danamon dan bank-bank besar lain.

Meski agen asuransi tetap menjadi kanal distribusi andalan dalam memasarkan produk asuransi jiwa di Indonesia, bancassurance pelan tapi pasti juga menggeliat. Hasilnya, kanal ini menyumbangkan sedikitnya 10% dari pendapatan premi bisnis baru atau Rp 1 triliun pada semester pertama tahun ini.

Kerjasama bank dan asuransi meliputi asuransi jiwa, kecelakaan, asuransi kesehatan, unitlink, hingga asuransi kerugian. Dulunya, yang berkongsi hanya antara bank dan asuransi satu grup. Namun, tiga tahun belakangan ini terlihat banyak bank yang menjalin kerjasama dengan banyak perusahaan asuransi.
 


0 Responses to “Seiring Bank Tergelak,Asuransi pun Terbahak”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


October 2007
M T W T F S S
« Sep   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Archives

Flickr Photos

Lago di Braies

Red and Gold

Sol Duc Falls

Wasting Light

Back to forest

Red Lane 3

Prairie Falcon 2016

Suitcases

More Photos

%d bloggers like this: