23
Oct
07

Memampatkan Lubang agar Tabungan Tak Terbang

Sebenarnya, tren menurunnya suku bunga bukanlah hal baru. Sejak awal tahun ini, perbankan terus menurunkan tingkat suku bunga simpanan. Kebijakan ini seiring dengan turunnya suku bunga acuan bank sentral alias BI rate.

Nah, agar para nasabah tidak berpaling ke portofolio investasi lain dan betah memarkirkan duit mereka, perbankan pun melakukan berbagai cara. Misalnya, dengan membuat produk deposito berbunga selangit (KONTAN Minggu I Oktober 2007).

Tak cukup dengan mengerek bunga deposito, kini perbankan juga getol memberikan iming-iming bunga tinggi untuk tabungan. Bahkan, ada bank yang nekat mengganjar bunga tabungan mereka mendekati BI rate. September kemarin, misalnya, Wealth Management Bank Standard Chartered (Stanchart) membikin Saving Plus. Biasanya, bank asing menawarkan jasa investasi, sementara bank lokal menawarkan jaringan, transaksi, dan deposito. Nah, produk Stanchart ini mengawinkan keduanya.

Sebelum membikin produk ini, bank asal Inggris tersebut membikin daftar kemauan para nasabah mereka terhadap produk dan fasilitas perbankan. Hasilnya, nasabah menginginkan suku bunga bank lebih dari 4,5%, tidak mengantre di mesin ATM, bebas ongkos penarikan tunai di dalam maupun luar negeri, bisa untuk membayar tagihan, dan transfer gratis antarbank.

“Hasil dari daftar kemauan nasabah itulah yang menjadi produk Saving Plus ini,” ujar Kepala Deposit & Treasury Wealth Management Perbankan Konsumer Standard Chartered Aris Budi Santosa. Produk wealth management ini memang bermaksud membuntuti Mega Absolut, produk buatan Bank Mega.

Keduanya dibikin untuk menghadang nasabah yang berniat bermigrasi ke produk investasi lain selain tabungan lantaran suku bunga perbankan yang kian loyo. Bank Mega memberikan bunga 8,5% atau sedikit di atas suku bunga patokan alias BI rate yang kini 8,25% (KONTAN Minggu II Juli 2007).

Bank Mega juga menjanjikan berbagai kenikmatan lain bagi nasabah tabungan premiumnya ini. Misalnya, nasabah memperoleh perlindungan asuransi kecelakaan diri secara cuma-cuma dengan nilai pertanggungan hingga Rp 500 juta.

Apakah semua itu gretong alias gratis? Eh, kali ini pun tak ada segelas wine yang dibagikan dengan gratis. Nasabah harus memenuhi berbagai persyaratan. Misalnya soal permodalan atau saldo yang wajib tertinggal dalam rekening tabungan.

Asal tahu saja, nasabah yang bisa mengusung dua produk ini minimal mengantongi modal Rp 10 juta. Di Stanchart, nasabah ini sudah masuk dalam kategori nasabah tajir alias wealth management.

Di mana-mana, hukumnya sama, yaitu semakin tinggi saldo tabungan, maka semakin tinggi pula bunga yang bisa dipetik. “Produk kami ini akan memberi pengalaman yang berbeda untuk nasabah,” kata Ho Toon Bah, Kepala Perbankan Konsumer Standard Chartered.

Berapa bunganya? Stanchart belum berani memberikan bunga yang lebih tinggi ketimbang BI rate seperti yang dilakukan Bank Mega. Untuk Saving Plus, Stanchart hanya berani menggelontorkan bunga sebesar 4,5% hingga 7% per tahun tergantung dari saldo tabunga. Makin tinggi saldonya, tentu makin mekar bunganya.

Memang, bunga 8,5% pada produk Mega Absolut dan 7% pada produk Saving Plus ini membikin ngiler. Eh, tapi jangan nafsu dengan bunganya doang. Anda juga harus mencermati fasilitas yang ada di dalamnya.

Selain bisa menikmati bunga lebih tinggi dari deposito, nasabah juga bebas melakukan tarik tunai dan melakukan berbagai transaksi seperti halnya tabungan biasa. Percuma saja kalau gratis transaksi tapi jaringannya sempit. Makanya, Stanchart bergandengan dengan Artajasa sebagai penyedia jaringan ATM Bersama. Lewat kerjasama ini, nasabah Stanchart terhubung dengan 60 bank lain dan bisa menarik duitnya di lebih dari 12.000 jaringan ATM Bersama di seluruh Indonesia.

Asyiknya lagi, nasabah juga bisa mendapatkan ongkos jebot jika melakukan penarikan tunai di luar negeri. Syaratnya, harus menemukan mesin ATM yang memiliki logo Cirrus.

Itu saja belum cukup. Demi lebih memanjakan nasabah premiumnya, Stanchart membebaskan nasabahnya melakukan pembayaran telepon, seluler, TV kabel, tagihan kartu kredit, listrik, air, asuransi, maupun pengisian pulsa. Para nasabah bisa mengaksesnya di ATM Bank Permata. Sekadar penyegar ingatan, Stanchart mempunyai kepemilikan di Bank Permata. Sebagai pembanding, mari kita longok Mega Absolut. Anda akan menemui fasilitas serupa dengan Saving Plus.

Nasabah Mega Absolut bisa menarik dana mereka kapan pun. Ini jelas pilihan yang menarik buat nasabah. “Kelebihan produk ini adalah return yang tinggi dan penarikan dananya yang fleksibel,” ujar Cosmas Setiawan, Senior Vice President Liabilities & Fee Based Management Division Bank Mega.

Setiap bulan, nasabah Mega Absolut memperoleh jatah sebanyak empat kali untuk menarik dana simpanannya tanpa dipungut biaya apa pun. Namun, pada penarikan yang kelima, Bank Mega akan mengutip biaya sebesar Rp 100.000 sekali transaksi.

Program layanan serbaluks seolah menjadi senjata andalan perbankan untuk membuat nasabah kakap mereka betah. Ini bisa dimengerti. Para nasabah kelas wahid merupakan penyumbang terbesar dana pihak ketiga perbankan kita.

Cermati penguncian saldo tabungan

Hitungan Aris, “Ada sekitar 500.000 calon nasabah potensial untuk Saving Plus.” Hanya saja, Aris tidak menyebutkan berapa banyaknya nasabah yang bakal mereka gaet dari perkiraan total nasabah potensial tersebut. Ia juga tidak menentukan jenis nasabah yang ingin Stanchart bidik. Asal nasabah memiliki dana nganggur, bisa langsung memiliki produk wealth management ini.

Lain dengan Mega Absolut. Awalnya produk ini menyasar para pengusaha yang sewaktu-waktu membutuhkan dana. Misalnya, pengusaha furnitur yang membutuhkan suntikan dana. Kapan saja mereka butuh bisa mencongkel tabungannya.

Hanya saja, nasabah wajib menjaga agar saldo minimumnya tetap sebesar Rp 500 juta. Ketentuan ini tidak main-main. Sebab, jika menarik dana hingga simpanannya berada di bawah Rp 500 juta, si nasabah mesti menutup rekeningnya itu.

Selain Bank Mega, bank yang mengunci saldo minimal nasabahnya adalah Bank Internasional Indonesia (BII). Produknya merupakan wealth management, yaitu BII Premium Access.

Produk ini mewajibkan nasabahnya meletakkan dananya senilai Rp 1 miliar. “Saat ini kita punya 8.000 nasabah platinum. Jumlah ini meningkat 25% dibandingkan dengan tahun lalu,” ujar Sanjay Kapoor, Direktur Perbankan Konsumer BII.

Berbeda dengan BII, Bank Mega tidak otomatis menyebut nasabahnya sebagai nasabah wealth management. Soalnya, melihat ceruk yang mereka bidik, Mega Absolut memang bukan merupakan produk wealth management. “Nasabah Mega Absolut bisa saja menjadi nasabah wealth management jika mereka mau,” ujar Cosmas.

Aturan main Mega Absolut yang mengunci saldo tabungan berbeda 180 derajat dengan Saving Plus. Stanchart yang memiliki 14 cabang di Indonesia itu tidak mengunci dengan nilai tertentu dalam tabungan si nasabah. Untuk mengawali rekening Saving Plus, nasabah cukup menggudangkan duitnya sebesar Rp 10 juta saja. Mini, kan?

Selanjutnya, Stanchart berharap para nasabahnya memiliki saldo minimal Rp 25 juta. Tujuannya, agar nasabah tak terkena ongkos-ongkos bulanan yang besarnya mencapai Rp 200.000. Hanya saja, duit Rp 25 juta ini tidak harus di rekening Saving Plus saja. Duit tersebut boleh merupakan akumulasi dari beberapa rekening yang ada di Stanchart.

Jadi, misalnya Anda memiliki Rp 15 juta saja di rekening Saving Plus, tapi punya Rp 10 juta di rekening Stanchart lain, Anda tetap bisa melakukan transaksi pembayaran maupun penarikan tunai secara gratis. Anda juga tak perlu khawatir bank bakal menutup rekening Anda.

“Tabungan ini sama tidak di–locked untuk jangka waktu tertentu,” kata Lanny Hendra, GM Wealth Management dan Perbankan Konsumer Standard Chartered. Menurutnya, inilah sisi menarik produk Saving Plus yang berbeda dengan produk serupa dari bank-bank lain.

Meski memasang bunga tinggi dengan iming-iming fasilitas yang bejibun, perbankan mengaku masih bisa membukukan keuntungan bersihnya. Aris membisiki, produk untuk nasabah berkantong tebal ini masih menyisakan untung meski kecil, yaitu 2%.

Tak ada jaminan di atas saldo Rp 100 juta

Sampai di sini, Anda boleh saja tertarik dengan produk perbankan yang memberi fasilitas komplet dengan bunga tinggi. Coba kita tanya pendapat Eko Endarto, perencana keuangan Safir Senduk & Rekan, sebuah perusahaan perencanaan keuangan.

Menurut Eko, di saat suku bunga perbankan terus letoi, produk bank berbunga tinggi ini memang bisa menjadi pilihan mengandangkan duit di brankas bank. Apalagi, bagi nasabah yang memiliki dana nganggur, namun sering membutuhkan dana likuid.

Bagi pengusaha, lebih baik menyimpan duitnya di tabungan berbunga tinggi dan likuid ketimbang menggunakan giro. “Kalau memang tujuannya sebagai dana yang bisa ditarik kapan saja, tidak masalah,” imbuh Eko.

Namun ia mengingatkan, dalam setiap memilih sebuah instrumen keuangan, Anda tetap harus konsisten pada tujuan penggunaan dana. Kata Eko, dana yang akan terpendam di instrumen keuangan ini sebaiknya merupakan dana yang bisa Anda tarik sewaktu-waktu. Tujuannya agar tidak mengganggu investasi jangka panjang Anda.

Besaran bunga juga menjadi faktor penting. Anda harus memfokuskan diri, mau berorientasi pada hasil atau transaksi. Kalau banyak bertransaksi, lebih baik memilih tabungan ini ketimbang giro.

Risza Bambang, Presiden Direktur Padma Radya Consulting, perusahaan perencana keuangan, juga memberikan alarm. Tabungan, termasuk juga tabungan premium, merupakan instrumen keuangan jangka pendek.

Karena itu, pengusaha yang memiliki transaksi bernilai besar dalam waktu satu dua bulan ke depan bisa menaruh dananya sementara waktu di tabungan premium ini. “Selain aman, pemilik dana juga bisa mendapat untung dari bunganya yang tinggi,” saran Risza.

Lantaran produk ini tak lagi dikuasai oleh Bank Mega saja, Eko juga mengingatkan soal pemilihan bank. “Ukuran bank bisa dilihat bagus, bukan hanya beragam transaksinya, tetapi juga lihat pelayanannya,” katanya. Jadi, pilih-lah bank yang benar-benar Anda percaya.

Jangan lupa, pemerintah tak lagi menjamin simpanan di atas Rp 100 juta. Jadi kalau bank Anda tutup, bersiaplah nangis bombai gara-gara duit Anda melayang.

Nah, lo.

+++++
Bunganya Mekar, Penaltinya juga Melar

Melihat suku bunga yang terus luruh, wajar saja kalau nasabah ramai-ramai cabut dari perbankan. Mereka memilih memindahkan brankas mereka ke portofolio investasi yang bisa memberikan imbal hasil (return) yang lebih menjanjikan.

Sadar kalau nasabah tak banyak menaruh minat lagi, perbankan pun mulai memasang berbagai jurus agar produk mereka tetap laku. Salah satunya adalah mematok bunga tinggi. Selain Bank Mega, Standard Chartered, dan Bank Internasional Indonesia (BII), masih ada lagi bank yang hobi mengerek bunga tinggi. Bank itu adalah Bank Bumiputera.

Namun, produk Bank Bumiputera bukan tabungan, melainkan deposito yang bernama Bung Depo Instan. Uniknya, produk ini memberikan fasilitas bunga secara instan dan dibayarkan di depan pada saat nasabah membuka rekening deposito.

Dengan begitu, nasabah tidak perlu menunggu sampai sebulan atau sampai masa jatuh tempo untuk bisa menikmati bunga deposito. “Bunganya bisa didapatkan langsung di depan, satu hari kerja setelah pembukaan deposito,” ujar Direktur Konsumer Bank Bumiputera Dian A. Soerarso.

Selain bisa menggunakan dananya untuk keperluan lain, nasabah juga bisa langsung menginvestasikan kembali dana tersebut ke instrumen lain yang lebih menarik. Tak cuma memberikan bunga di depan (diskonto), Bank Bumiputera juga memberikan pemanis lain, yakni hadiah langsung voucher belanja.

Tapi, itu semua tidak cuma-cuma. Nasabah harus memenuhi segepok persyaratan jika ingin mendapatkan diskonto dan voucher belanja tersebut. Sebut sajalah dalam hal setoran awal. Produk ini mensyaratkan minimal Rp 50 juta untuk jangka waktu penempatan selama 3 bulan, 6 bulan, atau 12 bulan.

Soal tingkat suku bunga Bung Depo Instan, Bank Bumiputera mematok bunga bergantung pada jumlah saldo dan waktu penempatan. Besarnya berkisar antara 7,25% per tahun hingga 8,6% per tahun untuk simpanan mulai dari Rp 50 juta hingga di atas Rp 1 miliar.

Tapi, jangan sampai menarik simpanan Anda sebelum jatuh tempo. Kalau itu Anda lakukan, Anda mesti mengembalikan nilai bunga yang telah dibayarkan dan nilai hadiah alias voucher belanja yang pernah diterima. Tak cukup sampai di situ, Bank Bumiputera juga memberikan penalti yang cukup gede, yakni sebesar 0,5% dari pokok deposito.

“Penalti ini cukup besar, sebab bank lain biasanya hanya memberikan penalti sebesar 0,25% dari pokok deposito,” papar Risza Bambang, Presiden Direktur Padma Radya Aktuaria, sebuah perusahaan perencana keuangan.


1 Response to “Memampatkan Lubang agar Tabungan Tak Terbang”


  1. October 11, 2014 at 6:03 am

    Paragraph writing is also a fun, if you know after that you can write otherwise it is
    complicated to write.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


October 2007
M T W T F S S
« Sep   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Archives

Flickr Photos

Chin Scratching Short-eared Owl

Making A Splash

Chouette épervière -  Northern hawk owl - Surnia ulula

Trillium Lake Alpine Glow

Pierless

A Candlelight Dinner

friend and foe

Ice Age Arrows.

More Photos

%d bloggers like this: