25
Nov
07

Makanya jangan ngiler pada volume gede

Begitu gampangnya kini bikin kartu kredit. Keluar dari meja kasir supermarket, todongan formulir aplikasi kartu kredit datang bertubi-tubi. Bukan hanya kartu kredit silver dan gold yang diobral di mal-mal, melainkan juga kelas platinum.
Bank Indonesia (BI) mencatat, hingga Oktober 2007 pertumbuhan kredit bank secara tahunan (year on year) mencapai 23,95%. Adapun nominal kredit baru mencapai Rp 168 triliun.

Direktur Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI Halim Alamsyah menghitung, sampai akhir 2007 pertumbuhan kredit bisa mencapai 24%. Padahal, target awal tahun hanya 22%.

Kredit konsumsi masih merajai penyaluran kredit perbankan. Misalnya kartu kredit, kredit pemilikan rumah (KPR), dan kredit kendaraan bermotor serta multiguna. Hanya, tingginya kucuran kredit konsumsi tersebut berbanding terbalik dengan kualitas kredit. Hasilnya, kredit macet atau non performing loan (NPL) kredit konsumsi membubung tinggi.
Mari membongkar data bank sentral. September 2007, NPL kredit konsumsi tercatat sebesar 3,29%. Juara pertama penyumbang terbesar NPL kredit konsumsi adalah kartu kredit. Besarnya 12,5% atau setara Rp 2,7 triliun. “NPL ini terbilang tinggi. Padahal dari total kredit konsumsi, porsi kartu kredit hanya sebesar 3%,” ujar Halim.

Berikutnya adalah KPR dengan NPL 3,6% atau Rp 3,2 triliun. Lalu kredit kendaraan bermotor dan multiguna dengan NPL 1,8% atau setara dengan Rp 2,9 triliun.

Menurut anggota Dewan Eksekutif Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI), Wiwiko Probojakti, pemicu tingginya NPL kartu kredit adalah Lebaran lalu. Saat itu transaksi begitu tinggi sampai merembet ke kredit macet. 

Menurut data AKKI, pada bulan September 2007 total outstanding yang tersalur lewat kartu kredit mencapai Rp 25,2 triliun, dengan jumlah pemegang kartu  8,7 juta orang. Sedangkan nilai transaksi kartu kredit sejak awal tahun hingga September 2007 mencapai Rp 57 triliun.

Berdasarkan hasil penelitian BI, dua tahun terakhir ini NPL konsumsi terus mengalami peningkatan. Setelah ditelusuri, sumbangan terbesar memang berasal dari kartu kredit.

Halim mengurai penyebab kredit macet yang betah bertengger di angka cukup tinggi. Pertama, perbankan belum mampu menguraikan NPL warisan yang terjadi saat terjadi kenaikan harga BBM tahun 2005. Kedua, angka kredit macet makin meninggi saat perbankan memberlakukan aturan anyar minimum pembayaran sebesar 10% dari total utang.

Menanti aturan baru
Kendati NPL tinggi, Direktur Akunting dan Sistem Pembayaran BI Dyah Nastiti K. Makhijani melihat pertumbuhan kartu kredit ini tidak menemui kendala. Hanya, selama ini bank penerbit kartu kredit kesulitan menghapus buku (write off) kartu kredit yang telah lama tak tertagih. Bank terkendala berbagai rambu-rambu bank sentral yang ketat. Selain itu, bank sentral juga meminta penagihan terhadap debitur semaksimal mungkin dulu.

Nah, angin segar lagi berembus dari Jalan Thmarin Nomor 2. BI bakal membikin aturan anyar soal hapus buku kartu kredit. Tujuannya, ya, untuk menekan kredit seret. “Meskipun, kenaikan NPL dari kredit baru sangat kecil,” ujar Dyah. Kendati masih gelap, menurut Halim, aturan ini akan membahas soal hapus buku kartu kredit secara luas.

Tapi, BI bakal merilis aturan baru yang berlaku untuk perbankan saja. Meski mengikuti aturan BI, lembaga penerbit kartu non- bank tidak bisa ikut-ikutan menggunakan aturan untuk perbankan ini. Saat ini ada beberapa penerbit kartu kredit non-bank. Sebut saja GE Money. “Kami tidak bisa mengatur write off dari penerbit yang bukan bank,” kata Halim.
Sayang, ia masih enggan membocorkan aturan baru soal hapus buku kartu kredit ini. Alasannya, masih dalam tahap pembicaraan.

Selain itu, muncul pula keberatan dari kantor pajak. Soalnya kalau hapus buku, berarti laba berkurang. Ujungnya, setoran pajak juga menurun.

Ekonom Senior BNI Ryan Kiryanto melihat upaya mengatur hapus buku kartu kredit ini sebagai langkah positif untuk mendisiplinkan pasar. “NPL tinggi ini juga pelajaran bagi perbankan agar jangan ngiler dengan volume nasabah yang tinggi,” katanya. 

Menurutnya, bank harus menggaet nasabah anyar sesuai dengan aturan, tak asal menyodorkan formulir. Bank juga  harus mengedukasi nasabahnya atas penggunaan kartu kredit ini.

Dalam beleid ini, BI juga harus memperhatikan aturan main yang berbeda antara penerbit kartu bank dengan penerbit non-bank. “Jangan sampai perbankan di beresi, tapi nonperbankan tidak diurusi,” cetusnya.

Meski demikian, Halim yakin pertumbuhan kredit bakal lebih ngebut lagi di tahun 2008. Bank sentral memperkirakan, pertumbuhan kredit tahun depan antara 24% sampai 25%.

Hanya, tak mudah untuk mencapai pertumbuhan kredit sebesar itu. Ganjalannya datang dari gejolak harga minyak dunia dan meningkatnya risiko kredit.

Asal tahu saja, saat ini perbankan sulit menyalurkan kredit investasi dan produksi yang justru lebih dibutuhkan untuk pertumbuhan ekonomi. Itu sebabnya, bank menggenjot penyaluran kreditnya untuk kredit konsumsi.

Giliran kredit konsumsi melejit, eh, NPL  ikut naik. Capek, deh!  o


0 Responses to “Makanya jangan ngiler pada volume gede”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


November 2007
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Archives

Flickr Photos

Lago di Braies

Red and Gold

Sol Duc Falls

Wasting Light

Back to forest

Red Lane 3

Prairie Falcon 2016

Suitcases

More Photos

%d bloggers like this: