26
Nov
07

Melongok pasar produk asuransi dengan mata uang dolar Amerika

Geliat perusahaan asuransi kian panas saja. Produk unitlink yang mengawinkan asuransi dengan investasi mampu mengisi pundi-pundi perusahaan asuransi. Salah satu penyumbang premi ini adalah produk asuransi dengan mata uang dolar AS.

Memang, bisnis perusahaan asuransi tak melulu menguprek premi saja. Produk turunan mereka mampu berlaga di kancah yang ceruknya kian sempit. Kendati tak segemilang asuransi rupiah, sekitar 50% perusahaan asuransi umum maupun asuransi jiwa memiliki produk dalam dolar.

Menurut pengamat asuransi Munir Sjamsoeddin, potensi pasar asuransi dengan mata uang asing ini masih terbuka. “Penetrasinya saja baru 5%-6%, masih sangat kecil. Ini bisa berkembang,” kata Munir. Apalagi hampir semua perusahaan asuransi hanya terkonsentrasi di kota-kota besar.

Hitungan Munir ini sejalan dengan sodoran angka perusahaan asuransi. Di AIG Life, asuransi dolar hanya terserap 5%. “Di mana-mana, orang masih memilih rupiah ketimbang dolar,” kata S. Budisuharto, Deputi Presiden Direktur AIG Life. Di sini, unitlink dolarnya bernama AIG Life Money USD Market Fund dan AIG Life USD Fixed Income Fund.

Tapi, itu berbeda dengan Manulife Financial yang mempunyai produk Manulife Pendapatan Tetap Dolar. Asal tahu saja, sebanyak 40% polis Manulife Indonesia saat ini ada dalam dolar. Sedangkan untuk polis baru yang masuk, 90% dalam rupiah dan sisanya dalam bentuk dolar.

Allianz Life yang mengibarkan Smart Link & New Flexy Account memiliki pasar asuransi dolar sebanyak 10%-15%. Menurut Handojo G. Kusuma, Direktur Allianz Life Indonesia, mungilnya pasar ini lantaran masyarakat masih suka dengan rupiah.

Tapi, asuransi dolar punya keunggulan. “Salah satunya, hasil investasi yang lebih baik daripada bunga deposito,” imbuh Nella Simanjuntak, Komunikasi Pemasaran Allianz Life.

Meski emoh memamerkan jumlah pemegang polis di sini, Sequislife juga mengiyakan ujaran Munir.

“Masih banyak kue yang bisa diperebutkan,” kata Dini Indriani, Kepala Pemasaran dan Komunikasi Perusahaan Asuransi Jiwa Sequis Life. Itu sebabnya, Sequis- Life tetap pede memasang pertumbuhan yang tinggi.

Sequislife punya unitlink USD Stable Fund yang sudah beredar sejak tiga tahun silam. Setahun terakhir ini imbal hasil investasi sekitar 6,5%. Bandingkan dengan maksimum penjaminan deposito dolar yang hanya 4,5% per tahun.

Menurut Maryoso Sumaryono, Direktur AJB Bumiputera, imbal hasil asuransi dolar tahun lalu bervariasi antara 3,45% sampai 3,5%. Jika dibandingkan dengan asuransi rupiah yang 9%-10%, memang masih ketinggalan jauh.

“Mereka yang beli produk asuransi dolar ini biasanya punya kaitan dengan luar negeri,” ujar Budi. Misalnya saja, bisnis di luar negeri, anaknya sekolah di luar negeri, bakal tinggal di luar negeri, dan sering ke luar negeri.

Sequislife sendiri membidik orang lokal maupun bule yang tinggal di Indonesia. “Kelas menengah atas yang biasa berinvestasi di mata uang dolar untuk tujuan jangka panjang,” kata Dini.

Biar pasarnya seret dan perusahaan asuransi seperti menganaktirikan produk ini, toh mereka tak membubarkan produk ini. “Kami melihat pasar yang terus bergerak dan kami tetap menyediakannya di gerai asuransi,” kata Handojo.

Tak rugi selisih kurs

Mari kita jenguk perusahaan lain juga punya produk asuransi dalam mata uang dolar. Jiwasraya, misalnya, punya JS Plan Dollar.

Sun Life punya Essential Value US Dollar. “Produk seperti ini belum didistribusikan lewat kanal bancassurance. Soalnya bank belum melihat potensi pasar ini,” kata Handojo.

Kalau sudah begini, maka greget persaingan sudah terkikis. Meski Dini bilang persaingan masih ketat, itu hanya terjadi di kota besar.

Dalam asuransi dengan mata uang asing seperti ini, potensi selisih kurs itu ada. Malah, perusahaan asuransi jiwa cukup potensial mengalami rugi selisih kurs. Apalagi kalau modalnya kecil dan tak piawai mengelola dana.

Kalau sudah begini, maka perusahaan asuransi yang menerbitkan polis dalam dolar harus menanggung rugi, baik pada investasi maupun perolehan laba bersihnya.

Soalnya, nasabah membayar dalam dolar, dan mendapatkan kembali investasinya dalam bentuk dolar juga.

Awal tahun ini, penguatan rupiah adalah kado cantik. Kurs rupiah pun kembali menguat di bawah Rp 9.100 per dolar. Sebelumnya, nilai tukar rupiah dan mata uang Asia lainnya sempat terperosok dalam, akibat kebijakan kontrol devisa Thailand.

Kalau selisih kurs ini dihitung sebagai sebuah kerugian, maka perusahaan asuransi bisa saja mengalihkan polis yang menggunakan mata uang dolar ke rupiah.

Namun, hal itu hanya bisa dilakukan perusahaan bermodal besar, karena akan menekan rasio risk based capital (RBC).

Tapi, perusahaan asuransi emoh dibikin pusing dengan selisih kurs ini. Allianz, contohnya, untuk menekan risiko ini cukup sederhana. Saat menggelontorkan produk asuransi bermata uang dolar, maka Allianz juga harus mempunyai aset dalam bentuk dolar. Jadi, setiap fl uktuasi nilai dolar selalu diimbangi asetnya.

Strategi Sequislife lain lagi. Asuransi dolar mereka investasikan ke obligasi pemerintah dan korporasi.

Dengan demikian, tingkat risikonya menjadi lebih rendah. Masih bisa ngelaba, kan?

+++++
Rupiah Stabil, buat Apa Beli Polis Dolar?

Dolar Amerika saat ini nilainya berbeda dengan sepuluh tahun silam. Dulu, orang-orang membeli produk asuransi dalam mata uang dolar lantaran mata uang dari negeri BigMac ini kian menguat.

Maka, rupiah yang lemah memicu orang-orang berbondong-bondong berinvestasi dalam mata uang ini. Tapi, tidak saat ini. “Belakangan rupiah cukup stabil, ya buat apa beli asuransi dolar?” cetus Munir Sjamsoeddin, pengamat asuransi. Salah-salah, nilai dolar malah bakal makin menurun.

Bahkan, Bank Indonesia (BI) sudah memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di angka 8,25% yang membikin rupiah ikut terkerek naik. Tentu saja, butuh keoptimisan bahwa rupiah bakal terus stabil terhadap dolar.

Ancaman kestabilan rupiah ini datang dari infl asi akibat tingginya harga minyak bumi. Tahu sendiri, infl asi punya sumbangan negatif bagi perekonomian. Ekonom Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan bahkan meramalkan, gejolak ini belum berhenti hingga akhir tahun 2007 ini.

Lalu, Munir malah sempat berseloroh, bila perlu, beli saja polis dalam mata uang euro. “Masalahnya, berat bayar euro kalau pendapatannya masih dalam rupiah,” katanya.

Pekan lalu dolar mencatatkan rekor terendah atas euro. Lembaran hijau ini tertekan oleh banyaknya masalah bank yang terlilit kreditnya dan laba perseroan yang menciut, sekaligus harapan pemotongan bunga The Federal Reserve pada Desember nanti.

Lima tahun terakhir, inilah titik terendah dolar atas euro. Berdasarkan data Dow Jones Interbank, dolar anjlok hingga US$ 1,4528 per euro, sebelum akhirnya ditutup pada US$ 1,4502 per euro.

Nah, mulailah berhitung dan mantap akan rupiah. Jadi, tak perlu beli polis dolar atau euro kan?


0 Responses to “Melongok pasar produk asuransi dengan mata uang dolar Amerika”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


November 2007
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Archives

Flickr Photos

Lago di Braies

Red and Gold

Sol Duc Falls

Wasting Light

Back to forest

Red Lane 3

Prairie Falcon 2016

Suitcases

More Photos

%d bloggers like this: