15
Dec
07

Senang-senang dahulu, sakitnya kemudian

Yang namanya lapar mata, susah mengenyangkannya. Apalagi jika kelaparan itu tiba ketika dompet lagi cemberut alias tanggung bulan. Nah, lo, bisa panjang urusannya. Solusinya adalah puasa belanja hingga masa gajian tiba. Tapi, bila masih tak sabar juga menunggu gajian, ada satu jurus pamungkas: menggesek kartu kredit. 

Sesuai namanya, kartu kredit bisa membawa pulang barang yang Anda idamkan dengan skema cicilan. Mulai dari ponsel, per-kakas dapur, jam tangan, alat kebugaran, hingga kendaraan roda dua.

Tahu sendiri, bank selalu menyelipkan katalog produk-produk seperti itu dalam lembar tagihan bulanan. Para pemilik kartu bisa membeli produk menarik tersebut dengan mencicil mulai dari tiga bulan hingga 12 bulan. Pembayaran cicilan ini tetap setiap bulan dengan bunga yang cukup kompetitif. Bahkan, ada juga yang memberi bunga 0%.

Pelopor cicilan tetap ini ialah Citibank lewat EazyPay sejak tahun 2003. EazyPay menjadi metode pembayaran kegemaran nasabah Citibank lantaran memberikan kemudahan membeli produk melalui cicilan.

Untuk program EazyPay, Citibank menggandeng 900 merchant di seluruh Indonesia. Kalau membeli barang dengan sistem cicilan tetap, jumlah cicilan bulanan terdiri dari cicilan pokok transaksi EazyPay plus bunga. 

Belum lama ini Citibank mengembangkan program lawas tersebut dengan nama EazyPay Loan. “EazyPay Loan dapat dimanfaatkan oleh konsumen yang bukan nasabah kartu kredit Citibank,” ujar Shariq Mukhtar, Country Business Manager Citibank Indonesia.

Nasabah bisa membawa pulang produk yang mereka inginkan dalam bentuk cicilan dengan proses persetujuan selama 60 menit. Caranya sangat mudah, yaitu hanya perlu mengajukan aplikasi, memperoleh persetujuan secara instan, dan dapat langsung pulang membawa barang idaman.

Kelebihan produk ini adalah pemegang kartu yang telah memperoleh fasilitas pinjaman dapat terus menggunakannya berulang kali tanpa harus mengajukan aplikasi ulang.

Awas, ada duri di balik cicilan tetap
Bank lain yang juga menerbitkan kartu sejenis adalah ABN Amro. Bank asal Belanda ini meluncurkan iPay Card yang merupakan kartu kredit otomatis cicilan tetap. Jadi, seluruh transaksi ritel maupun tunai otomatis menjadi transaksi cicilan tetap. Asyiknya lagi, tanpa iuran tahunan.

Pokoknya, berapa pun transaksi Anda, langsung dibagi 10 lalu dibayar selama 12 bulan. Jadi kalau Anda membeli barang seharga Rp 6 juta, Anda harus mencicil Rp 600.000 selama setahun penuh.

Direktur Perbankan Konsumsi ABN Amro, Darmadi Sutanto, menjelaskan suku bunga cicilan di bank ini cukup rendah, hanya 1,67% per bulan atau 20% per tahun. Sementara itu, limit kartu kredit untuk transaksi ritel maupun tarik tunai adalah antara Rp 2 juta sampai Rp 200 juta.

Selain Citibank dan ABN Amro, ANZ Panin Bank menyeser pula ceruk yang sama. Bank kawin campur ini merilis produk bernama Kartu Cicilan dengan sistem cicilan tetap untuk semua pembelanjaan minimum Rp 300.000.

Dengan Kartu Cicilan, untuk cicilan tetap 3 bulan terkena bunga 0%, cicilan 6 bulan kena getok bunga 2,65%, dan 9 bulan tersengat bunga 2,75%. ANZ Panin menawarkan limit kredit antara Rp 1 juta hingga Rp10 juta, dengan iuran tahunan Rp 100.000.

S. Budisuharto, Ketua Asosiasi Perencana Keuangan Indonesia, melihat skema cicilan tetap ini sangat membantu nasabah yang tengah kepepet tapi membutuhkan barang tersebut. “Misalnya, laptop sangat dibutuhkan segera, skema ini cukup memudahkan nasabah,” katanya. Adapun Eko Endarto, perencana keuangan dari Safir Senduk & Rekan, bilang bahwa bank senang dengan skema ini karena ada kepastian pembayaran oleh nasabah.

Ini terbukti dari hitungan Citibank saat mengeluarkan EazyPay Loan. “Nasabah merasa bahwa membeli barang melalui cicilan mempermudah mereka dalam mengatur anggaran keuangan,” kata Sally Taher, Wakil Presiden Kepala Pengembangan Bisnis dan Pinjaman EazyPay Citibank.

Darmadi menghitung, potensi pasar kartu kredit di Indonesia masih cukup besar. Saat ini saja penetrasinya ke pasar baru mencapai 45%.

Coba hitung saja, kartu kredit yang diterbitkan baru sebanyak 9 juta dan jumlah pemegang kartu sebanyak 7,2 juta jiwa. Padahal, jumlah penduduk yang memenuhi syarat untuk memiliki kartu kredit mencapai 16 juta orang. “Potensi pasar yang bisa digarap cukup besar. Oleh sebab itu, kami ingin menggapai pasar tersebut dengan layanan yang memenuhi kebutuhan finansial nasabah kami,” kata Darmadi.

Oke, Anda tertarik pada salah satu skema cicilan tetap ini? Tunggu dulu. Dengarkan nasihat para perencana keuangan.
Eko mengingatkan soal pemilihan skema cicilan tetap ini. Menurutnya, karena tetap utang, jadi tidak ada yang namanya keuntungan atau kerugian. “Yang ada adalah kelebihan dan kekurangan skema ini,” celetuknya.

Kelebihan membeli barang dengan skema cicilan ini, di antaranya, bunga lebih kecil dari bunga rata-rata. “Kalau ada kelebihan duit, sih, lebih baik beli secara tunai saja karena tidak ada beban bunga,” imbuhnya.

Jangan lupa, nasabah juga wajib memperhatikan soal suku bunga. Ponsel seharga Rp 2,5 juta dicicil dengan bunga 1,5%-2% per bulan. Padahal, jika duit ini Anda tabung, bank hanya mengganjar bunga  sebesar 2% setahun . “Hitungannya tidak riil,” kata Budi. Celakanya lagi, jika Anda melunasi cicilan tetap ini lebih awal, pemegang kartu kredit dikutip biaya pembatalan sebesar Rp 200.000.

Memang, banyak nasabah yang tidak rasional saat berbelanja, dan justru mengedepankan emosional. Karenanya, pastikan barang tersebut penting dan mendesak untuk dibeli. “Kalau bisa beli tunai, ya beli tunai saja,” kata Budi.

Memang sih, jika dibandingkan membeli barang dengan kartu kredit biasa tanpa skema mencicil, jelas skema cicilan tetap ini lebih menarik. Soalnya, bunganya lebih kecil dan nasabah akan terlatih disiplin membayar.

Tapi jangan lupa, ujung-ujungnya, cicilan tetap ini harus Anda hitung sebagai utang. Kredit ini berlawanan dengan menabung. Kalau menabung, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. “Sebaliknya, utang ini, bersenang-senang dahulu, bersakit-sakit kemudian,” tutur Budi.

Jadi, sesuai pesan perencana keuangan, cermatlah memilih barang. Sesuaikan dengan tujuan. 


0 Responses to “Senang-senang dahulu, sakitnya kemudian”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


December 2007
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Archives

Flickr Photos

Lago di Braies

Red and Gold

Sol Duc Falls

Wasting Light

Back to forest

Red Lane 3

Prairie Falcon 2016

Suitcases

More Photos

%d bloggers like this: