04
Jan
08

Awan Gelap di Awal Tahun

Suasana murung langsung menyergap hari-hari pertama perdagangan saham di 2008. Kehadiran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membuka perdagangan, 2 Januari 2008, dianggap sepi pasar. Padahal, meski bukan analis, SBY berani meramalkan, di tahun ini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan tumbuh 20%, setelah tumbuh 50% tahun lalu. Nyatanya, hari itu, IHSG malah turun 0,52% ke 2.731,51. Bahkan, Kamis siang, 3 Januari 2008, IHSG sudah turun lagi ke angka 2.713,585.

“Kalau hanya pidato presiden, tak akan direspon pasar,” celetuk Ridwan Novayanto, analis Bumiputera Capital. Apalagi, hari itu Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan kenaikan inflasi. Angka inflasi Desember 2007 melejit menjadi 1,1%, sehingga inflasi sepanjang 2007 menjadi 6,59%. Ini lebih tinggi dari target inflasi pemerintah yang hanya 6%. Tentu ini membawa sentimen buruk bagi bursa.

Berbagai kabar buruk dari eksternal pun tanpa ampun mengguyur bursa global, termasuk bursa Indonesia.

Pertama, harga minyak mentah dunia yang sempat menembus US$ 100 per barel (2/1), sebelum akhirnya Kamis pagi kemarin (3/1) turun ke kisaran US$ 99,3 per barel. Pemicunya kerusuhan di Nigeria, negara penghasil minyak terbesar di Afrika. Selain itu, pasar juga khawatir pada turunnya stok minyak Amerika Serikat (AS).

Kedua, anjloknya manufaktur AS. Ini terlihat dari turunnya indeks ISM (Institute for Supply Management’s Manufactures Index) pada bulan Desember 2007 ke angka 47,7%. Ini terburuk dalam lima tahun terakhir. Anjloknya indeks ISM di bawah angka 50 itu menunjukkan turunnya kegiatan manufaktur akibat melemahnya permintaan.

Buntutnya, pasar semakin khawatir, tren bursa akan berbalik menjadi bearish (cenderung melemah). Kekhawatiran terjadinya resesi ekonomi AS pun semakin membesar. Walhasil, 2 Januari lalu indeks-indeks utama di Wall Street seperti Dow Jones Industrial Average (DJIA) anjlok 1,67%, dan indeks Nasdaq terpuruk 1,61%. Ini performa awal tahun Wall Street terburuk dalam lima tahun terakhir.

Kondisi ekonomi AS memang semakin menggelisahkan. Apalagi dampak krisis subprime tampaknya masih akan berbuntut panjang. Berdasarkan hitungan konservatif, menurut Poltak Hotradero, Kepala Riset Recapital Securities, kerugian perusahaan-perusahaan investasi akibat krisis kredit perumahan berisiko tinggi di AS itu telah mencapai US$ 200 miliar.

Perusahaan-perusahaan besar korban subprime kemudian akan menata kembali asetnya. Untuk itu, sementara waktu mereka tak akan mengucurkan kredit. “Potensi kredit yang tertahan mencapai US$ 2 triliun,” prediksi Poltak. Ini akan membuat biaya modal menjadi mahal, dan belanja modal alias capital expenditure (capex) perusahaan-perusahaan di AS menurun. Ujung-ujungnya, ini akan membuat valuasi harga sahamnya juga merosot. Kalau sudah begini, Wall Street bakal kian terseret dalam. Bursa global, termasuk bursa Indonesia, pun ikut terimbas.

Suka tak suka, inilah dampak globalisasi: satu negara jatuh, yang lain ikut rontok. Tak hanya di pasar keuangan, kekacauan ekonomi AS juga bisa berdampak pada ekonomi sektor riil di negara-negara lain, termasuk Indonesia.

Melemahnya kegiatan manufaktur di AS tadi, misalnya, telah membuat pasar yakin Bank Sentral AS, The Federal Reserve, akan memangkas kembali suku bunganya pada pertemuan rutinnya 30 Januari mendatang. Bahkan, kini pasar berani bertaruh, The Fed akan memangkas suku bunganya hingga 0,5%, menjadi 3,75%.

Seperti terjadi 11 Desember lalu, penurunan suku bunga AS kali nanti ini pun agaknya tak akan membuat Wall Street dan bursa dunia bergairah. Penurunan bunga itu malah membuat pasar semakin ngeri. Sebab, dolar AS akan kian melemah dan harga berbagai komoditas, termasuk bahan makanan, naik lebih tinggi lagi. Inflasi dunia pun akan semakin tinggi, dan ekonomi dunia akan melambat.

Tergantung pola lima hari Wall Street

Penurunan suku bunga AS kian menjepit posisi Eropa. Sebab, pelemahan dolar membuat nilai tukar euro semakin menguat dan melemahkan daya saing ekspornya. Bank Sentral Eropa, European Central Bank (ECB), tak bisa ikut menurunkan suku bunga.

Sebab, saat ini pun inflasi di kawasan Eropa sudah mencapai 3,1%. “Padahal, target inflasi maksimal yang harus dijaga ECB adalah 2%,” ujar Poltak. ECB juga tak bisa menaikkan suku bunganya, sebab hal itu akan menghantam sektor riilnya.

Nah, jika Eropa melemah mengekor pelemahan AS, maka Jepang dan China akan ikut terhantam. Sebab, dua negara itu merupakan tujuan ekspor utama mereka. Indonesia pun akan terkena masalah. Sebab, Jepang, Eropa, dan AS merupakan tiga negara tujuan ekspor utama kita. Jadi, singkatnya, meski pemerintah menyatakan ekonomi Indonesia relatif terisolir dari krisis di AS, tapi sebetulnya kita tidaklah imun dari gejolak ekonomi global.

Nah, di tengah gejolak dan ketidakpastian ini, para analis memperkirakan, sepanjang Januari 2008 ini, bursa Indonesia akan terombang-ambing oleh faktor eksternal. Terlebih, sebulan ini belum ada kabar besar positif dari dalam negeri yang bisa kita harapkan memompa energi baru bagi penguatan IHSG. Meski kemungkinan besar The Fed akan memangkas suku bunganya 30 Januari kelak, kemungkinan besar pada Rapat Dewan Gubernur (RDG), Selasa, 8 Januari nanti, Bank Indonesia (BI) tak akan memangkas BI rate dari angka 8% sekarang ini. Maklum, angka inflasi Januari cenderung tetap tinggi. “Bencana alam seperti banjir akan mendorong inflasi dan faktor ini kan belum masuk dalam inflasi Desember lalu,” ujar Ridwan.

Toh, meski tekanan cukup banyak dan berat, masih ada harapan IHSG tak akan terpuruk habis-habisan dalam waktu dekat. Sebab, masih ada beberapa faktor penopang. Sebut saja semakin banyaknya dana pensiun lokal yang memperbesar alokasi dana kelolaan mereka di saham. “Dana pensiun ini kan biasanya melakukan investasi jangka panjang,” ujar Norico Gaman, Kepala Riset BNI Securities. Justru jika bursa terkoreksi, kata Norico, akan jadi kesempatan dana pensiun mengoleksi saham-saham unggulan. Selain itu, belakangan semakin banyak investor lokal bermain saham, salah satunya lewat reksadana yang sedang tumbuh pesat. “Jadi, kini bursa tak hanya dikuasai pemain asing, tapi juga oleh lokal,” imbuhnya.

Faktor penopang lainnya adalah ekspektasi para pemain saham atas bagusnya laporan keuangan para emiten di tahun 2007 yang mulai akan diumumkan akhir Februari mendatang. Tingginya harga minyak dan komoditas juga membuat para investor terus berburu saham-saham perusahaan yang diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas tersebut. Ini juga bisa menahan kejatuhan indeks, bahkan bisa mengangkatnya, meski mungkin tidak kelewat banyak.

Lantas, berapa besar potensi pergerakan IHSG sepekan ke depan? “Ini akan sangat bergantung pada pergerakan Wall Street dan bursa regional,” ujar Poltak.

Hari-hari ini, para pemain saham dunia memang bakal tekun memelototi pergerakan indeks-indeks penting di Wall Street. Sebab, sejak Perang Dunia II berakhir, ada sebuah pola yang terbentuk di Wall Street. Bila pada lima hari pertama perdagangan saham di pusat bursa saham AS itu menguat, maka sepanjang tahun, secara umum Wall Street akan menguat. Sebaliknya, jika lima hari pertama bursa negatif, maka sepanjang tahun bursa akan melemah pula. “Sejak Perang Dunia II itu, baru lima kali terjadi penyimpangan dari pola ini,” imbuh Poltak. Mengingat begitu besarnya korelasi atau keterkaitan pergerakan IHSG dengan Wall Street dan bursa regional, maka tentu IHSG pun bisa mengekor pola tersebut.


0 Responses to “Awan Gelap di Awal Tahun”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


January 2008
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Archives

Flickr Photos

Chin Scratching Short-eared Owl

Making A Splash

Chouette épervière -  Northern hawk owl - Surnia ulula

Trillium Lake Alpine Glow

Pierless

A Candlelight Dinner

friend and foe

Ice Age Arrows.

More Photos

%d bloggers like this: