04
Jan
08

Wah, Pasar Cuek sama Bos

Ada persamaan antara pasar dengan para pendemo. Pasar belakangan berteriak: “Turunkan bunga. Turunkan bunga!” Bank Sentral Amerika Serikat alias The Federal Reserves (The Fed) akhirnya menuruti keinginan pasar fi nansial dan global. Dalam pertemuan The Federal Open Market Committee (FOMC) Rabu malam (30/1) di Washington DC, bos The Fed Ben B. Bernanke dan koleganya kembali memangkas acuan tingkat suku bunga AS (The Fed funds rate) sebesar 50 basis poin. Keputusan itu diambil lewat voting dengan skor 9-1. Hanya Kepala Bank Sentral Dallas Richard Fisser yang memilih tidak menurunkan suku bunga.

Ini artinya, dalam sembilan hari terakhir, The Fed telah mencukur tingkat suku bunga sebesar 125 basis poin. Kini jadi tinggal 3%.

Para pengamat fi nansial dan ekonomi global telah menduga langkah The Fed ini. Adalah sang biang kerok krisis subprime mortage yang membuat sendi-sendi perekonomian AS tersungkur. Bahkan, banyak pengamat ekonomi dan fi nansial global yang menduga AS akan kembali mengalami resesi ekonomi untuk kesekian kalinya jika tidak segera mengambil langkah serupa.

Saat pengumuman suku bunga Rabu kemarin, The Fed mengatakan bahwa mereka siap untuk kembali menurunkan suku bunga jika hal itu diperlukan untuk memompa pergerakan ekonomi yang sedang lesu darah. “Kami siap beraksi jika memang dibutuhkan,” kata The Fed seperti dilansir Bloomberg.

Lemotnya ekonomi Amrik makin dekat

Mereka melihat ekonomi Amerika ternyata masih ada pertumbuhan di masa tren penurunan suku bunga The Fed. Departemen Perdagangan AS dalam laporannya menyebutkan, selama kuartal keempat tahun 2007 kemarin, Produk Domestik Bruto atau GDP AS ternyata meraih pertumbuhan 0,6%. “The Fed tampaknya sudah punya acuan dan siap melaksanakan apa yang mereka maui,” ujar Mark Vitner, ekonom senior Wachovia Corporation, seperti dikutip Bloomberg.

Memang, pasar tidak menggubris kebijakan ekonomi Presiden George W. Bush yang bakal menggelontorkan dana hingga sebesar US$ 150 miliar. “Pengaruhnya baru dirasakan sekitar 6 bulan-9 bulan ke depan,” ucap Nico Omer Jonckheere, Wakil Kepala Riset dan Analis Valbury Asia Securities.

Namun, kebijakan The Fed itu bagai menjual es krim pada orang Eskimo. Bukannya pulih, pascapenurunan suku bunga itu, bursa malah mengalami koreksi. Indeks Dow Jones Industrial Index (DJIA) Rabu kemarin justru ditutup melemah 37,47 poin (0,3%) menjadi 12.443,83. Begitu pula indeks Standard and Poor’s 500 (S&P 500) anjlok 6,49 poin (0,48%) jadi 1.355,81. Tidak ketinggalan, Nasdaq Composite Index pun tergerus 9,06 poin (0,38%) menjadi 2.349.

Pasar rupanya menilai penurunan pertumbuhan ekonomi di Amerika ini sudah tidak dapat ditutupi dengan penurunan suku bunga The Fed.

Harga minyak yang mengalami penurunan dari US$ 92.33 per barel menjadi US$ 91.15 per barel ternyata tidak berdampak bagus. Pasar malah menilai, penurunan itu karena lesunya permintaan dari Amerika. Ini merupakan makin kencangnya sinyal lemotnya ekonomi Amerika.

Sudah begitu, gelombang subprime kembali memakan korban. Salah satunya UBS AG. Bank Eropa terbesar asal Swiss ini mengumumkan kerugian yang teramat besar di kuartal keempat 2007 kemarin, yakni mencapai 12,5 miliar franc Swiss (CHF) yang setara dengan US$ 11,5 miliar (Rp 107 triliun). Keuntungan BNP Paribas pun amblas 42% menjadi 1 miliar euro.

Kondisi ini semakin diperparah dengan kejatuhan saham-saham perusahaan fi – nansial global. Sebut saja Citigroup, JP Morgan, Morgan Stanley, dan Merril Lynch, setelah Fitch Ratings memangkas peringkat mereka. Bahkan, harga saham Ambac Financial Group dan MBIA Inc, perusahaan asuransi obligasi terbesar, juga terpuruk setelah Fitch mencabut peringkat jaminan asuransinya (fi nancial guarantee insurance).

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun sempat ajrut-ajrutan dalam beberapa hari terakhir ini. Bukan lantaran Soeharto mangkat. “Pasar mengalami ketidakpastian,” kata Poltak Hotradero, Kepala Riset Recapital Securities. “Masih menunggu laporan kinerja perusahaan Amerika,” tambah Pardomuan Sihombing, Kepala Riset Paramitra Alfa Securities ini.

Jangan lupa, pasar masih menunggu data infl asi bulan Januari. Mereka yakin, kenaikan harga- harga komoditas dan adanya pelbagai bencana alam dalam satu bulan ini bakal memicu infl asi. “Bisa di atas 1%,” duga Poltak.

Tapi, Kepala Riset Mega Capital Indonesia Felix Sindunatha bilang, pasar tidak perlu khawatir akan setan infl asi ini. Harga minyak bisa makin tertekan turun,” kata Felix. Alasannya, ya, konsumsi di Amerika makin berkurang.

Walau begitu, pengamat pasar modal memperkirakan pergerakan IHSG masih condong fl uktuatif. Hijaunya angka indeks, yang sempat menguat 0,13% menjadi 2.613 pada Kamis siang (31/1), bisa saja berbalik arah. “Pasar masih gugup,” kata Nico.

Maka, pekan depan para analis memperkirakan, IHSG bakal berada pada rentangan lebar: 2.500-2.680.

+++++
Lembar Merah Putih Berkibar Kembali

Sentimen penurunan suku bunga The Fed ternyata malah memberi aura positif bagi mata uang rupiah. Mata uang negeri kepulauan ini langsung gagah perkasa. Kamis siang (31/1), sesuai perkiraan KONTAN pekan lalu, rupiah berada pada posisi Rp 9.285 per dolar AS. Artinya, ambang garis psikologis sebesar Rp 9.300-an per US$ sudah terlewati.

Di saat bursa sempat terjerembab hingga mengalami rebound pada minggu lalu, para pengamat pasar melihat telah terjadi capital infl ow ke pasar modal dalam negeri lewat aksi penjualan dolar dan masuk bursa dengan mata uang rupiah. “Ada dolar masuk ke pasar,” kata Farial Anwar, seorang pengamat pasar uang.

Kabar positif lain, perbedaan tingkat suku bunga rupiah dengan dolar Amerika Serikat kembali melebar, yakni menjadi 5%. Pasar pun melihat kemungkinan patokan suku bunga rupiah alias BI rate bakal kembali terpangkas. “Arah ke sana bisa saja terjadi,” kata Nico Omer Jonckheree, Kepala Riset dan Analis Valbury Asia Securities. “Kondisi itu bisa terjadi di semester pertama tahun ini,” timpal Pardomuan Sihombing, Kepala Riset Paramitra Alfa Securities.

Para pengamat pasar uang dan pasar modal menilai posisi suku bunga rupiah yang sebesar 8% sudah cukup bagus. Ini terkait dengan sandungan angka infl asi yang diperkirakan bakal tinggi di bulan Januari ini.

Sementara itu, Farial berhitung, jika pemerintah dan Bank Indonesia (BI) punya patokan angka infl asi 6,5% per tahun, maka patokan suku bunga yang riil harus berada di atasnya. Pada BI rate 8%, ia menilai masih ada potensi keuntungan riil sekitar 1,5%. “Suku bunga riil harus tetap ada,” katanya. Inilah yang membuat pasar semakin yakin bahwa rupiah masih punya harapan untuk terus memperlihatkan ototnya.

“Apalagi penurunan suku bunga Amerika bisa memberi stimulus bagi pasar global,” kata Suriyanto Chang, Kepala Tresuri Bank NISP.

Untuk pekan depan, para pengamat menaksir rupiah bakal berlari kecil di angka Rp 9.250-Rp 9.350 per dolar AS


0 Responses to “Wah, Pasar Cuek sama Bos”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


January 2008
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Archives

Flickr Photos

Lago di Braies

Red and Gold

Sol Duc Falls

Wasting Light

Back to forest

Red Lane 3

Prairie Falcon 2016

Suitcases

More Photos

%d bloggers like this: