09
Jan
08

Mekar Kuncupnya si Bunga Sesuai Kelakuan Nasabah

Tak bosan-bosannya Bank Indonesia (BI) mengimbau bank agar menurunkan suku bunga kartu kredit yang petantang-petenteng pada angka 3%- 4% sebulan. Tapi, selama ini, bank terkesan cuek bebek. Alasan mereka: bisnis kartu kredit berisiko tinggi. Jadi, sudah sewajarnya berbunga tinggi pula.

Tapi, agaknya perbankan sadar, suku bunga tinggi membuat risiko seret alias non-performing loan (NPL) melejit. Makanya, Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI) bersepakat akan menerapkan pembedaan dalam menentukan bunga pinjaman mulai tahun ini.

Sistem ini menggunakan metode risk based pricing. Nantinya, penerbit kartu akan mengenakan suku bunga berbeda kepada tiap pemegang kartu.

“Suku bunganya berdasarkan risiko yang bakal menjadi beban penerbit kartu,” kata Lani Darmawan, anggota Dewan Eksekutif AKKI. Jika sistem ini berjalan, suku bunga nasabah yang hobinya ngemplang dan yang rajin membayar tagihan bakal berbeda.

Menyitir istilah Rico Usthavia Frans, Country Marketing Director Citibank, kartu kredit di Indonesia bakal tailor made atau sangat personal dan berbeda pada setiap nasabah.

Eh, tapi penerbit kartu yang bakal menerapkan sistem ini tak sembarang berhitung, lo. Setidaknya mereka menimbang tiga faktor. Pertama, berdasarkan reputasi pemilik kartu kredit. Semakin baik track record pembayaran tagihan, bunganya semakin kecil.

Kedua, atas dasar loyalitas pemilik kartu. Nasabah setia akan mendapat prioritas dalam mendapatkan bunga yang lebih rendah ketimbang yang baru.

Ketiga, profitabilitas pemakaian. Makin sering memakai kartu kredit dan memberi keuntungan dalam transaksi, bakal mendapatkan bunga yang lebih rendah. Sejumlah bank sudah menjajal metode risk based pricing. Sebut saja Citibank, Standard Chartered Bank (Stanchart), dan Bank Mandiri. Tentu saja ketiganya tak asal menerapkan RBP.

Citibank, misalnya. Bank asing ini sudah punya program untuk nasabah yang mengantongi track record yang baik. Dengan jenis kartu yang beragam, Citibank memberlakukan bunga dan iuran tahunan yang berbeda pula.

Untuk penggunaan metode risk based pricing, Citibank mengawali dengan mengelompokkan berdasarkan risiko, pembayaran, dan transaksi. “Jadi, nanti ada yang kelompok A, B, C, dan seterusnya,” kata Rico.

Di atas kertas, metode ini memberikan keuntungan sekaligus menjadi alat promosi yang ampuh bagi penerbit kartu. “Kalau dengan satu bunga saja, nanti kecenderungannya bisa merugikan nasabah,” imbuh Rico.

Hanya, tak sembarang bank bakal bisa menerapkan risk based pricing. Sebab, penerapan metode ini menuntut dukungan sistem teknologi informasi (TI) yang kuat.

Maklum, untuk mengambil keputusan, bank perlu meneliti semua data dan profil transaksi nasabah cukup jauh ke belakang.

Mereduksi kredit macet

Lalu, berapa besaran bunga bagi nasabah rajin dan yang bandel? Sayang, para bankir terkesan menyelotip mulutnya.

“Tapi, bagi nasabah bandel, bunga pinjaman tidak akan lebih besar dari ada selama ini,” kata Rico. Setidaknya, bank akan membikin program untuk mereduksi kredit macet nasabah nakal ini. “Kalau dibungain lebih besar, semakin tidak bisa membayar,” imbuhnya.

Salah satu bank yang juga tengah menyiapkan penerapan sistem ini ialah Bank Bukopin. “Namun belum bisa terlaksana dalam waktu dekat,” ujar Sapti M. Wahyudi, General Manager Kartu Kredit Bank Bukopin.

Bank Central Asia (BCA) juga pasang kuda-kuda untuk menjalankan metode ini. “Kami memang akan menyiapkan, tapi sejauh ini masih memberlakukan bunga yang sama untuk semua nasabah,” ujar Susanti Nurmalawati, Deputi Manajer Promosi dan Komunikasi Card Centre BCA.

Memang, perbankan mau tidak mau harus membenahi bisnis kartu kredit mereka. Soalnya, salah satu penopang tingginya kredit adalah kredit konsumsi.

Data BI hingga Oktober 2007 mencatat, pertumbuhan kredit bank tahunan (year on year) 23,95%, dengan nominal kredit baru Rp 168 triliun. Padahal, awal tahun 2007 BI memprediksikan pertumbuhan kredit sebesar 22%.

Direktur Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI Halim Alamsyah yakin, pertumbuhan kredit bank bakal lebih kencang lagi tahun 2008. Bank sentral memperkirakan kredit bank tahun 2008 bisa tumbuh antara 24% sampai 25%.

Sayang, tingginya kucuran kredit konsumsi tersebut tidak diiringi perbaikan kualitas kredit. Akibatnya, tingkat NPL kredit konsumsi cenderung meningkat.

NPL kredit konsumsi paling gemuk datang dari kartu kredit. Data BI sampai September 2007 menyebutkan, NPL kredit konsumsi tercatat sebesar 3,29%. Dari angka tersebut, NPL kartu kredit mendonasikan sebesar 12,5% atau setara Rp 2,7 triliun.

Oh ya, selain itu masalah bunga, AKKI juga bakal meminta perubahan pembayaran minimal dari 10% menjadi 7,5%. Kini, saatnya Anda memelototi tagihan kartu kredit bulanan. Apakah termasuk nasabah yang bakal mendapat bunga spesial dari penerbit kartu. Kalau tidak, ada baiknya ubah-lah perilaku berutang Anda. Kalkulasikan utang dengan kemampuan membayar, agar tidak macet di kemudian hari.

+++++
Semakin Semok pada Tahun Tikus

Saat Bank Indonesia (BI) berupaya memangkas kredit macet atau NPL, bank-bank justru terlihat bergairah menggemukkan jumlah nasabah kartu kreditnya. Bank Mega, contohnya. Bank milik Chairul Tanjung ini mematok pertumbuhan kartu kredit sebesar 100% atau menjadi 600.000 anggota pada 2008.

Direktur Utama Bank Mega Yungky Setyawan bilang, per Oktober 2007 jumlah kartu kredit Bank Mega mencapai 280.000 dengan transaksi Rp 1,3 triliun.

“Hingga akhir 2007 tumbuh menjadi 300.000 dengan jumlah transaksi Rp 1,5 triliun,” ujarnya. Tahun ini diharapkan bisa memenuhi target transaksi sebesar Rp 4 triliun-Rp 5 triliun atau tumbuh sekitar 300% dari tahun lalu.

Sementara itu, Bank Bukopin menargetkan pemegang kartu kreditnya naik 80% pada 2008. Caranya, dengan menaikkan kelas nasabah gold menjadi platinum. Kalau sudah naik kelas begini, total pemegang kartu kredit platinum mencapai 2.000 nasabah.

Sampai saat ini pemegang kartu kredit Bukopin sekitar 40.000. Direktur Konsumen Bank Bukopin Lamira Septini Parwedi menghitung, Bukopin bakal menjaring pemegang kartu kredit Visa Platinum sebanyak 10.000 kartu tahun ini.

Anehnya, Bank Central Asia (BCA) terkesan sangat moderat. Bisa jadi, karena nama besarnya, bank yang kini jadi milik Grup Djarum ini tak terlalu agresif memontokkan pemegang kartu kredit tahun 2008. Dari total kucuran kredit konsumsi, perseroan hanya menargetkan pertumbuhan 20%.

Sebagai catatan, tahun lalu total kredit konsumsi BCA hanya Rp 13 triliun dari total kredit perseroan Rp 75 triliun. Adapun tahun lalu pertumbuhan kredit konsumsi hanya setinggi 17,5%.

Tahun 2008 BCA bakal menggenjot kredit konsumsi. Untuk kartu kredit yang tahun lalu Rp 2 triliun, di tahun tikus ini dipatok pendapatan bertambah Rp 700 miliar.


0 Responses to “Mekar Kuncupnya si Bunga Sesuai Kelakuan Nasabah”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


January 2008
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Archives

Flickr Photos

Chin Scratching Short-eared Owl

Making A Splash

Chouette épervière -  Northern hawk owl - Surnia ulula

Trillium Lake Alpine Glow

Pierless

A Candlelight Dinner

friend and foe

Ice Age Arrows.

More Photos

%d bloggers like this: