12
Jan
08

Menelisik kondisi bisnis ritel di tahun 2008

No. 14, Tahun XII, Minggu I Januari 2008
Bisnis

Bisnis ritel di Indonesia memang gurih. Bagaimana tidak? Lihat saja pertumbuhan pasokan ritel sepanjang tahun 2007. Di Jakarta saja ada beberapa pusat perbelanjaan atawa mal baru yang buka. Sebutlah One Pacific Place di Sudirman, Summarecon Mal Serpong, dan Mal Kelapa Gading (MKG) 5.

Dus, menurut riset Jones Lang Lasalle, pasar sewa ritel di Jakarta hingga tahun 2009 bakal bertambah sekitar 800.000 m2. Pertambahan itu didapat dari pembangunan 16 proyek. Dari total pasokan tersebut, sekitar 56% membidik kategori A, sementara sisanya berada di kategori B.

Selain itu, gerai-gerai peritel pun terus bermunculan, baik itu gerai ritel lokal maupun gerai ritel asing. Untuk gerai bikinan lokal yang sudah mulai beroperasi, sebut saja Star Department Store yang membuka gerainya di mal-mal yang dikelola oleh Summarecon Agung, misalnya MKG dan juga Summarecon Mal Serpong (SMS). Kebetulan, pemilik Star Department Store adalah salah satu pemegang saham di Summarecon.

Sementara itu, untuk gerai asing muncul nama The Parisian Stores. Gerai ritel asal Negeri Uwak Sam ini menggandeng Matahari Putra Prima, perusahaan pemilik gerai Matahari. Oleh Matahari, Parisian dijadikan pengganti gerai-gerai Galeria milik mereka.

Di tahun 2008, Indonesia juga masih bakal kedatangan peritel asing yang lain. Harvey Nichols, peritel dari Inggris, bakal menyusul ritel-ritel asing lain yang sudah masuk ke Indonesia, seperti Zara, Tumi, Mashimo Dutti, atau Debenhams. Untuk itu, Harvey Nichols telah meneken kerjasama dengan Mitra Adi Perkasa. “Kami akan buka tahun 2008,” ujar Ratih D. Gianda, Kepala Grup Hubungan Investor Mitra Adi Perkasa.

Masuknya ritel asing ke Indonesia tentu saja bakal membuat persaingan di pasar ini semakin ketat. Namun, di lain pihak, hal itu juga bisa dilihat sebagai indikator bahwa pasar ritel di Indonesia masih prospektif dan bisa tumbuh. “Asing pasti sudah berhitung sebelum masuk, dan mereka melihat pasar ritel di Indonesia masih menarik,” ujar Tutum Rahanta, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo).

Bakal bikin persaingan tidak sehat?

Berkaca dari situ, para peritel yakin prospek bisnis di tahun 2008 masih cerah. Apalagi pertumbuhan ritel selama tahun 2007 juga tidak jelek. “Grafik pertumbuhannya naik,” ujar Tutum. Berdasarkan hitungan Aprindo, pertumbuhan ritel selama tahun 2007 mencapai 15%-17%.

Untuk tahun 2008, peritel kembali memasang target pertumbuhan minimal 15%. Memang, kenaikan harga barang di tahun tikus ini tidak bisa dihindari. Tapi, paling tidak para peritel bakal terbantu dengan kenaikan upah minimum regional (UMR) dan juga kenaikan gaji pegawai negeri. Apalagi, pasar ritel di Indonesia sangat luas, yaitu penduduk Indonesia yang jumlahnya mencapai 230 juta jiwa.

Jadi, jangan heran kalau para peritel jauh-jauh hari sudah memasang target untuk melakukan ekspansi. Ramayana, misalnya.

Peritel yang bermain di pasar menengah ke bawah ini mengaku telah siap membuka gerai baru. “Kami rencanakan tahun ini ada 10 outlet baru di luar Jawa,” beber Setiadi Surya, Direktur Hubungan Masyarakat PT Ramayana Lestari Sentosa. Matahari, pemilik gerai-gerai Hypermart, Timezone, dan Matahari Department Stores, bahkan menargetkan menambah 15 gerai Hypermart dan 10 department store, tahun ini.

Maklum, Matahari menargetkan memiliki 90 gerai hipermarket sampai tahun 2010.

Pemain lain di pasar hipermarket, Carefour, juga menargetkan bakal menambah gerai di tahun 2008. Sayangnya, Irawan D. Kadarman, Direktur Urusan Korporasi Carrefour Indonesia, menolak mengungkapkan target pertambahan gerai mereka. “Saya enggak bisa share itu,” elaknya. Sampai tahun 2007, Carrefour telah memiliki 37 gerai. Yang jelas, tahun ini Carrefour bakal segera bersanding dengan Alfa Retailindo.

Sebagaimana ditulis KONTAN, perusahaan asal Prancis ini berencana mengakuisisi sekitar 75% saham Alfa dari Sigmantara Alfindo dan Prime Horizon Pte Ltd, atau setara dengan 351 juta saham. Konon, kedua penjual tadi menawarkan harga Rp 1.800 per saham.

Targetnya, bulan Januari 2008 ini akuisisi sudah rampung. “Saat ini masih negosiasi, belum selesai,” ujar Irawan, tanpa mau memerinci lebih lanjut. Irawan hanya menyebutkan, ada banyak persyaratan yang harus dibahas. Salah satunya soal jangka waktu pemakaian nama Alfa setelah akuisisi rampung.

Hanya, pilihan Carrefour untuk mengakuisisi Alfa tak urung mengundang tanda tanya. Seorang sumber yang mengamati pasar ritel bertutur kepada KONTAN, tindakan Carrefour mengakuisisi Alfa adalah sebagai antisipasi diberlakukannya Peraturan Presiden No. 112 Tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern (Lihat boks: Tinggal Menanti Implementasi).

Dus, menurut sumber tersebut, setelah menguasai segmen pasar hipermarket, Carrefour juga bakal masuk ke segmen supermarket. Masalahnya, masuknya Carrefour ke bisnis supermarket bakal membuat daya saing di segmen tersebut menjadi tidak sehat.

Harapan serupa diungkapkan Tutum. Katanya, sebaiknya Carrefour tak mengalihkan bisnisnya setelah mengakuisisi Alfa. “Saya harap Carrefour tetap bermain di hipermarket,” kata dia.

Namun, Irawan menyangkal kalau akuisisi yang dilakukan Carrefour bakal menyebabkan persaingan menjadi tidak sehat. Persaingan memang bakal tambah ketat. Tapi, “Segala hal sudah kami kaji, dan kami punya optimisme terhadap prospek usaha mereka,” ujar Irawan.

+++++
Tinggal Menanti Implementasi

Setelah tertunda selama 3,5 tahun, Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2007 mengenai Penataan dan Pembinaan Pasar tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern akhirnya terbit juga. Pemerintah sendiri sampai empat kali menjanjikan penerbitan aturan ini, selama tahun 2007. Namun, akhirnya peraturan ini baru diteken oleh Presiden SBY pada tanggal 27 Desember 2007 lalu.

Salah satu aturan yang penting dari perpres ini adalah masalah pengaturan zonasi, alias pengaturan peruntukan wilayah untuk pendirian pasar tradisional, pusat perbelanjaan, dan toko modern. Asal tahu saja, perpres ini dulu muncul karena ada tudingan bahwa peritel besar macam hipermarket telah mematikan bisnis peritel kecil.

Pada intinya, perpres ini mengacu pada peraturan tata ruang, dan implementasinya akan diterapkan oleh masing-masing pemerintah daerah. Misalnya, tentang pengaturan jarak pendirian toko modern dengan pasar tradisional.

Misalnya, Pasal 5 Perpres Pasar itu menyebutkan, hipermarket dan pusat perbelanjaan hanya boleh didirikan pada jalan arteri atau jalan kolektor, namun tidak boleh berada dalam kawasan pelayanan lokal atau lingkungan di dalam kota/perkotaan.

Beleid ini memang tidak menyebut secara spesifik berapa batas jaraknya. Pasalnya, “Nanti kalau ditetapkan secara spesifik, ya jadi repot. Tipologi tiap daerah kan enggak sama,” kata Direktur Bina Pasar dan Distribusi Departemen Perdagangan Gunaryo. Dus, saat ini pemerintah, termasuk pemerintah daerah, masih akan menggodok aturan pelaksanaannya.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta mengatakan para peritel mendukung perpres ini. “Ini jalan tengah yang baik,” ungkap Tutum. Karena implementasi di daerah bisa berbeda-beda, Aprindo bakal ikut mengawasi penerapan aturan baru ini.


0 Responses to “Menelisik kondisi bisnis ritel di tahun 2008”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


January 2008
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Archives

Flickr Photos

Chin Scratching Short-eared Owl

Making A Splash

Chouette épervière -  Northern hawk owl - Surnia ulula

Trillium Lake Alpine Glow

Pierless

A Candlelight Dinner

friend and foe

Ice Age Arrows.

More Photos

%d bloggers like this: