15
Jan
08

Bursa Amerika terkapar

Umpamanya bos Anda datang ke kantor dengan muka cemberut dan marah-marah seharian, bisa jadi suasana seisi kantor jadi tak enak. Atau, malah Anda juga ikut terserang virus bete. Seperti itulah gambaran yang terjadi Rabu (16/1) lalu. Si bos, yakni bursa Amerika, terkapar. Akibatnya, seluruh bursa global porak poranda bak habis terlanda angin puting beliung.

Indeks Dow Jones tumbang 277,04 poin ke 12.501,11 akibat pasar membaca tanda-tanda ekonomi Amerika Serikat memasuki resesi semakin jelas. Penyebabnya, data penjualan ritel bulan Desember anjlok 0,4%, pencapaian terburuk sejak 2002. Padahal, di masa liburan seperti itu harusnya masyarakat AS demam belanja.

Pasar tambah panik saat Citigroup mencatat kerugian kuartal keempatnya senilai US$ 9,8 miliar. Nilai aset berbau kredit subprime-nya menyusut US$ 18,1 miliar. Institusi keuangan paling bohai di AS ini juga akan memotong dividen sebesar 41% dan memecat 4.200 karyawannya. Kalau sudah begini, pasar makin takut menanti kabar buruk dari lembaga finansial dunia lain di akhir bulan ini, seperti Merril Lynch dan Bank of America.

Saham di bursa AS juga berdarah menyusul laporan keuangan dan outlook Intel Corp yang di bawah perkiraan pasar. Intel membukukan pendapatan US$ 10,71 miliar, di bawah estimasi para analis sebesar US$ 10,84 miliar. Namun, yang bikin pasar kecewa adalah prediksi penjualan Intel kuartal ini cuma US$ 9,7 miliar, padahal pasar berharap penjualannya bisa mencapai US$ 9,97 miliar.

Apa mau dikata, bursa AS ke depan tampaknya bakal kelabu. “Baru di awal-awal saja hasilnya sudah begini, wajar kalau market enggak pede,” ujar Felix Sindhunata, Kepala Riset Mega Capital Indonesia.

Dan, Bursa Efek Indonesia sangat cepat bereaksi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang beberapa hari sebelumnya mengukir rekor tertinggi sepanjang sejarah di 2.830,26 (9/1) seketika kelelap ke 2.592,31 (16/1). IHSG terjun 137,72 atau 5,04% dari hari sebelumnya, nomor dua terparah di Asia setelah Hang Seng yang minus 5,37%. Investor membuang saham-saham kelas berat seperti Telkom, Bumi, dan Aneka Tambang. “Asing yang memulai profit taking. Karena mereka jarang pegang saham kelas tiga, ya otomatis jadinya begini kalau saham yang market cap-nya gede dibuang,” keluh Felix.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menilai, turunnya IHSG merupakan dampak gejala pelemahan dunia. “Perekonomian di dunia sedang menghadapi turbulensi,” katanya.

Namun, Felix menilai reaksi bursa berlebihan, sebab fundamental ekonomi kita masih bagus. Malahan, secara teknikal ini mirip apa yang terjadi di Agustus silam. Ia menilai kenaikan IHSG selama ini semu. “Kemarin kita naik luar biasa, tapi nilai transaksinya minim,” kata dia

Masih muncul badai hingga akhir bulan

Sekarang semua mata tertuju ke Amerika. Sebenarnya, berita positif dari sono bukannya tak ada. Rabu malam, inflasi AS hanya 0,4%, turun dari November lalu yang 0,8%.

Dalam beige book-nya, Bank Sentral AS menyatakan ekonomi melambat di November dan Desember dengan laporan penjualan ritel yang mengecewakan. Pasar pun berekspektasi The Fed bakal menurunkan suku bunga lagi antara 0,25%-0,75% pada rapat di akhir bulan ini. “Pertanda lainnya, The Fed melelang obligasi dolar dengan bunga 3,85%,” kata Kepala Riset Recapital Securities Poltak Hotradero.

Pemerintah AS juga sedang menggodok paket stimulus ekonomi yang akan selesai dalam 30 hari. Ekonomi memang jadi topik utama Negeri Uwak Sam. Pada debat pemilihan presiden, topik ini mengalahkan masalah Irak.

+++++
Sang Rupiah Masih Saja Bertapa

Pasar yang makin jeri terhadap ancaman resesi Amerika membikin dolar kian lunglai. Akibatnya, beberapa mata uang berkibar di atas terpuruknya dolar. Salah satu yang paling mencolok adalah yen Jepang.

Sesaat setelah keluar data yang membuat bursa rontok, yen perkasa di 106,78 (15/1) terhadap dolar. Maklumlah, makin besar ketakutan pasar akan resesi, makin banyak dana carry trade yang mudik ke Jepang. Singkat kata, para investor kembali berburu yen karena takut akan risiko investasi di tengah pasar global yang gonjang-ganjing ini.

Sayang, bagi Jepang ini justru senjata makan tuan. ”Kuatnya yen akan membuat ekspor mereka mahal,” ujar Farial Anwar, pengamat pasar uang. Padahal, pendapatan ekspor selama ini menopang ekonomi Jepang yang melambat.

Berbeda dengan yen dan mata uang lain yang menguat, kelakuan rupiah masih tetap nyeleneh. Rupiah masih saja tersangkut di kurs Rp 9.450 per US$ pada Kamis (17/1) siang. “Dengan merahnya bursa, ada capital outflow,” ujar Suriyanto Chang, Kepala Tresuri Bank NISP. Namun, menurut Suriyanto, keluarnya dana asing ini tidaklah besar. “Mau ke mana lagi? Kondisinya semua sama jelek,” katanya.

Seperti biasa, ”BI intervensi dengan menyuplai dolar ke pasar uang,” kata Frans Darwin Sinurat, dealer valas Bank Century. Dan, menurut Farial, BI suka dengan rupiah di level Rp 9.400. “Mereka akan menjaga wibawa dengan tidak membiarkan rupiah tembus Rp 9.500,” ucap Farial.

Inflasi yang tinggi memang mengancam, makanya para analis yakin BI masih akan menahan suku bunga. “Setidaknya sampai semester satu,” kata Farial. Harga minyak juga diperkirakan masih melemah.

Meski bursa masih bakal terus merah, para analis percaya pekan depan rupiah bisa bertahan pada Rp 9.400-Rp 9.480 per US$. Tapi, pasar kudu waspada kalau bursa terus longsor. ”Panic selling saham bisa berakibat panic buying dolar,” kata Farial. Pasalnya, spekulan valas yang takut terjadi capital outflow akan berspekulasi dengan memborong dolar.


0 Responses to “Bursa Amerika terkapar”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


January 2008
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Archives

Flickr Photos

Lago di Braies

Red and Gold

Sol Duc Falls

Wasting Light

Back to forest

Red Lane 3

Prairie Falcon 2016

Suitcases

More Photos

%d bloggers like this: