16
Jan
08

Pemilik Bank Girang, Karyawan Bisa Berang

Masa manis profesi bankir boleh jadi mulai berakhir. Tak hanya bankir di Indonesia, tapi juga bankir di seluruh dunia. Cuma, pemicunya berbeda. Bankir luar negeri harus rela menerima pemutusan hubungan kerja lantaran perusahaan terkena sawab krisis kredit perumahan atau subprime mortgage.

Adapun pemecatan bankir lokal terpicu deadline kebijakan kepemilikan tunggal atau single presence policy Bank Indonesia (BI). Untuk memenuhi aturan ini, bank-bank yang pemiliknya sama harus bergabung. Nah, merger antarbank yang punya juragan sama itu kini tinggal tunggu waktu saja. Sesuai Peraturan BI Nomor 8/16/PBI/2006, merger paling lambat harus selesai pada tahun 2010.

Mungkin para pemilik bank bisa bersorak riang. Sebab, dengan merger, mereka bisa menekan biaya sekaligus bisa menyusutkan pegawai. Sebaliknya nasib karyawan justru menjadi taruhan.

Rencana penggabungan Bank Niaga dan Bank Lippo oleh pemiliknya, Khazanah Nasional Berhard, misalnya. Ini sudah pasti akan membawa korban bagi karyawan. Begitu pula dengan rencana penggabungan Bank Danamon dan Bank Internasional Indonesia (BII) yang ada di bawah kendali mesin investasi Pemerintah Singapura, Temasek Holdings.

Sekadar mengingatkan saja, akhir 2007 lalu Temasek telah menyerahkan opsi pilihannya ke BI atas kebijakan tunggal. Dari tiga pilihan, yakni merger, pembentukan induk usaha atau holding company, serta menjual saham, Temasek memilih merger.

Tidak berbeda, Khazanah yang memiliki 93% saham LippoBank melalui Santubong Investments BV dan Greatville Pte Ltd, serta punya 64% saham Bank Niaga Tbk melalui Bumiputera-Commerce Holdings Berhard (BCHB), juga memilih opsi merger. Maklum, kalau membentuk holding, prosesnya rumit. Belum lagi soal pajaknya bakal bikin pusing.

Nah, sudah rahasia umum, prinsip merger dalam dunia bisnis yakni dua ditambah dua hasilnya bukan empat, tapi bisa lima atawa lebih. Artinya, merger merupakan suatu sinergi yang bakal mendongkrak kinerja perusahaan. Tak heran, “Pemilik girang dengan kebijakan single presence policy ini,” kata Aviliani, pengamat perbankan yang juga

Komisaris Bank Rakyat Indonesia (BRI).Rasa girang pemilik bank justru awal dari kekhawatiran karyawan dari level bawah hingga direksi. Sebab, merger sering berimbas pemutusan hubungan kerja atau PHK. Apalagi Bank Danamon dan BII sebelumnya sudah memecat karyawan dengan alasan optimalisasi. Sebagai hasil merger dengan tujuh bank take over (BTO), manajemen Danamon menilai banyak cabangnya terlalu dekat sehingga harus ada yang tutup. Jika itu terulang lagi, otomatis akan ada karyawan yang tersingkir.

Karyawan masih tunggu keputusan pemilik

Asal tahu saja, Danamon dan anak usahanya merupakan bank penyedia lapangan kerja terbesar pertama di Indonesia. Bank ini mempekerjakan lebih dari 31.000 orang. Sementara, BII ada 6.500 karyawan, Bank Niaga punya 6.095 karyawan, dan LippoBank sekitar 5.000 karyawan. Dari total empat bank itu, jumlah karyawannya sudah sekitar 50.000 orang.

Padahal, merger bank bisa menggerus 30% atawa lebih dari 15.000 orang di empat bank itu. Jumlah itu belum seberapa, karena total bank besar yang kena aturan BI soal single presence policy ada 12 bank. Dus, jumlah karyawan bank yang kemungkinan kena PHK bakal membeludak.

Jumlah korban yang kena pecat di setiap bank pasti berbeda, tergantung dari sumber daya manusia (SDM) dan negosiasi karyawan atau serikat karyawan. Biasanya, karyawan yang kompeten mendapat tawaran pindah ke tempat lain, sedangkan yang loyo kudu mengundurkan diri. Celakanya, kalau SDM-nya lemah dan serikat pekerjanya mandul, nasib karyawan bisa mengenaskan.

Mantan Ketua Serikat Kerja Karyawan LippoBank (SKKBL) Zulkifli menilai, andaikan merger Niaga dan Lippo terealisasi, PHK mungkin jauh lebih banyak menggerus karyawan LippoBank. Sebab, dia menilai Lippo selama ini jarang mendongkrak kemampuan karyawannya.

Sialnya lagi, kata dia, serikat pekerja Lippo tak aktif. Selain itu, gaji karyawan Bank Lippo di level menengah-bawah lebih rendah ketimbang Niaga. Dengan begitu, pemilik pasti lebih mudah dan memecat karyawan Lippo.

Tapi, Iwan Djatmika, karyawan Bank Lippo, mengaku tetap optimistis. Dia menilai merger justru mempercepat ambisi manajemen meraih posisi tiga besar bank nasional. “Dari segi SDM, kami siap bersaing dengan karyawan Niaga,” katanya.

Ketua Serikat Karyawan Danamon Gatot Hendro juga tak terlalu khawatir. Pasalnya, Danamon akan terus memperluas jaringan bisnisnya. Apalagi Danamon dari dulu sudah biasa merger. “Sebagai karyawan, kami akan berbicara dengan manajemen untuk mengambil jalan terbaik,” katanya.

Bagaimana dengan Niaga? Wakil Presiden Eksekutif Kepala Teknologi Informasi dan Sistem Bank Niaga Paul S. Hasjim menyatakan, tahun ini Niaga akan menambah 30 kantor cabang. “Walau investasinya mahal, penambahan kantor cabang harus tetap jalan karena usaha berkembang,” katanya. Kalau ekspansi bisnis mulus, merger bisa jadi tidak begitu mengkhawatirkan.

Tapi, kalaupun terpaksa ada PHK, penyelesaiannya kudu berakhir dengan golden handshake alias salam tempel yang besar. Kalau tidak, pemilik girang, karyawan berang.

+++++
Waspada Sebelum Kena Gusur

Kebijakan single presence policy atau kepemilikan tunggal bukan cuma mengancam karyawan di level menengah ke bawah, tapi juga para direksi. Maklum, kalau dua bank bergabung jadi satu, posisi direksi tak berarti bisa tambah. Makanya, bankir papan atas kudu bisa mengukur kekuatannya. Kalau lemah, lebih baik keluar alias cari tempat bernaung di tempat lain.

Apalagi penempatan direksi seringkali tak hanya berdasar kemampuan, tapi juga sarat kepentingan investor atau pemilik bank. Seandainya berbenturan kepentingan, ya, tinggal gusur saja.

Tak aneh, banyak bankir di bank-bank milik Temasek dan Khazanah keluar lebih dulu. Catat saja satu per satu. Ada Peter B. Stok yang mundur dari Bank Niaga, Jos Luhukay dari LippoBank, Armand B. Arief dan Rudy N. Hamdani dari BII, serta Jerry Ng dari Danamon.

Ada empat alasan yang mendasari mundurnya mereka. Yakni, mengantisipasi merger, cari gaji tinggi, tantangan baru, dan menghindari benturan kepentingan. Sayang, bankir-bankir itu enggan mengungkap alasan mundurnya secara terus terang. Semuanya lebih suka beralasan ingin mencari tantangan dan suasana baru.

Misalnya, mantan Wakil Direktur Bank Danamon Jerry Ng beralasan mundur karena sistem di Danamon sudah mumpuni sehingga dia ingin cari suasana baru. Cukup masuk akal, karena dia kemudian pindah ke Texas Pacific Group. Ini adalah perusahaan investasi internasional yang menjadi motor berbagai aksi korporasi di Indonesia seperti pembelian 71,6% saham Bank Tabungan Pensiunan Negara (BTPN).

Sementara itu, direksi bank-bank calon merger juga enggan bicara soal ini. Kepala Perencanaan Strategis Bank Danamon Wicahyo Ratomo enggan berspekulasi tentang masa depan karyawan, termasuk direksi, seandainya merger Danamon dan BII terwujud. Kepastian masalah itu kudu menunggu tuntasnya kajian dan keputusan pemilik.

Wakil Direktur Utama Bank Niaga James Rompas omong senada. Kata dia, Bank Niaga dan LippoBank akan mengevaluasi menyeluruh rencana ini. Prinsipnya, merger harus bermanfaat secara komersial serta memenuhi evaluasi atas aspek legal, operasional, dan keuangan. Makanya, Niaga dan Lippo belum bisa memastikan dampak merger terhadap karyawan, termasuk bagi dirinya.

Walau begitu, mereka mengungkapkan permasalahan di level direksi tak terlalu merisaukan karena jumlahnya sedikit. Artinya, kalau pun ada PHK, korbannya tidak banyak.


2 Responses to “Pemilik Bank Girang, Karyawan Bisa Berang”


  1. 1 dedy
    August 9, 2008 at 4:58 pm

    merger konsekuensinya PHK, makanya pemerintah jangan jual perusahaan nasional ke asing, itu sama artinya jual diri;

  2. 2 dushen
    September 22, 2008 at 10:11 am

    buat dedy,

    jual dan merger perusahaan itu tidak se ‘simpel’ pikiran ada.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


January 2008
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Archives

Flickr Photos

Lago di Braies

Red and Gold

Sol Duc Falls

Wasting Light

Back to forest

Red Lane 3

Prairie Falcon 2016

Suitcases

More Photos

%d bloggers like this: