21
Jan
08

Produk-produk reksadana baru bermunculan di awal tahun

Tahun 2008 tampaknya akan menjadi tahun reksadana. Ya, ini mengingat betapa indah ukiran prestasi industri reksadana di 2007. Hingga akhir tahun lalu, jumlah dana yang ngendon di reksadana mencapai angka Rp 91,15 triliun.
Luruhnya tingkat suku bunga membuat para deposan ramai-ramai bersorak adios pada produk-produk perbankan.

Maklum, patokan suku bunga acuan alias BI rate yang sekarang ini sudah menjadi 8% membuat tingkat suku bunga deposito pun kembali loyo, rata-rata berkisar 5%-7% per tahun.

Jangan lupa, hasil itu masih harus kena sunat aparat pajak. Sehingga, kalau sudah kena pisau pajak, hasil yang diperoleh para investor dari instrumen perbankan itu kian mengkerut.

Tidak perlu heran kalau investor langsung mengarahkan pandangan mereka ke produk-produk reksadana yang hasilnya jelas lebih mak nyus ketimbang produk perbankan. Ambil contoh produk reksadana pendapatan tetap. Lima reksadana pendapatan tetap dengan imbal hasil tertinggi saja bisa memberikan tingkat keuntungan riil satu tahun antara 14,04% hingga 21,68% (lihat KONTAN Minggu I Januari 2008, edisi 2-10 Januari 2008).

Apalagi kalau kita lihat prestasi yang diraih reksadana saham. Dari lima produk terbaik tahun lalu, produk ini bisa memberikan tingkat imbal hasil riil satu tahun antara 61,18% hingga 96,74%. Dahsyat banget, bukan?

Bahkan, produk reksadana yang sekarang ini ibarat anak bawang lantaran imbal hasil yang diberikan paling kerdil, yakni reksadana pasar uang, masih lebih tambun keuntungannya ketimbang produk perbankan. Lima produk reksadana pasar uang terbaik bisa memberikan tingkat keuntungan (return) 8,9%-12,36% sepanjang tahun lalu.

Reksadana memang produk yang ciamik untuk para investor. Terlebih banyaknya jenis produk reksadana yang beredar bisa memberi pilihan yang menarik bagi para investor. Mau yang potensial dapat untung gede, bisa pilih reksadana saham. Atau, mau yang untungnya biasa-biasa saja tapi tingkat risikonya sebanding, bisa menaruh ke keranjang reksadana terproteksi atau reksadana pasar uang.

Sudah ada 24 proposal reksadana anyar

Bagi para perusahaan manajer investasi, adanya celah bisnis yang menganga begini pasti tidak mereka lewatkan begitu saja. Maka, mereka pun berencana meluncurkan serombongan produk reksadana baru.

Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) mencatat, hingga 4 Januari lalu, ada 24 proposal reksadana dalam proses perizinan. Perinciannya, lima reksadana pendapatan tetap, tiga reksadana saham, dua reksadana pasar uang, tiga reksadana campuran, dan 11 reksadana terproteksi.

Bagi investor, semakin banyaknya produk reksadana yang bakal beredar jelas merupakan kabar bagus. Mereka bisa memilih mana produk-produk reksadana yang baik dan tentunya sesuai dengan karakter mereka. “Semakin banyak produk reksadana membuat investor diuntungkan,” kata Ruddy Raharjo, Direktur Batavia Prosperindo Asset Management.

Sambil menunggu ketukan palu Bapepam-LK sebagai pertanda keluarnya pelbagai produk reksadana paling gres, mari mengintip dulu jeroan produk-produk reksadana yang baru saja terbit dan bakal meramaikan industri reksadana tanah air. Kami menyarikannya untuk Anda.

Inilah produk reksadana pertama yang melenggang di 2008. Produk keluaran Mandiri Manajemen Investasi ini merupakan reksadana saham, spesies yang sekarang menjadi buah bibir di kalangan investor lantaran imbal hasilnya sangat montok.

Melirik dari namanya, Anda pasti mafhum kalau reksadana ini bakal menempatkan sebagian besar dana investor ke saham-saham syariah. Direktur Utama Mandiri Manajemen Investasi Abiprayadi Riyanto memberi alasan pilihannya. Dia bilang, kinerja Jakarta Islamic Index (JII) selama tahun 2007 tumbuh hingga 60,27%.

Bandingkan dengan pertumbuhan indeks Bursa Efek Indonesia (BEI) yang hanya mencapai 52,08%. Malah, tingkat pertumbuhan indeks LQ 45 di tahun 2007 saja cuma mencapai 54,48%. “Ini artinya produk reksadana syariah juga bisa memberikan return yang tinggi,” kata dia.

Apalagi saat ini sudah banyak saham unggulan yang masuk dalam JII. Entah itu sektor perkebunan atau telekomunikasi yang sebagian besar merupakan saham unggulan pasar modal.

Mandiri bakal membenamkan antara 80%-98% dana investor ke saham-saham yang masuk dalam daftar JII. Selain itu, untuk berjaga-jaga, mereka pun bakal menganggarkan antara 0% sampai 18% pada efek syariah bersifat utang. Atau, bisa juga menempatkan pada instrumen pasar uang yang sesuai dengan syariah Islam. Komposisinya antara 2%-20%. Asalkan, instrumen ini jangka waktunya kurang dari satu tahun.

Produk ini sudah bisa Anda beli pada 25 Januari di kantor Mandiri Manajemen Investasi atau di agen penjual seperti ABN Amro Bank, HSBC, Bank Mandiri, Bank Niaga, dan Bank Syariah Mandiri. Berapa modal untuk membeli produk ini? “Itu tergantung kebijakan masing-masing agen penjual,” kata Abi. Yang pasti, setiap investor bisa membeli produk ini minimal Rp 1 juta.

Laiknya produk reksadana lain, Mandiri Investasi juga menggetok berbagai biaya. Ada biaya pembelian (subscription fee) yang rentangnya antara 0,5%-1,25%. Lantas, ada biaya penjualan kembali (redemption fee) di kisaran 0,25%-1%. Dan, biaya pengalihan investasi (switching fee) antara 0,15% sampai 1,25%.

Tatkala disinggung perkiraan return produk syariah ini, Abiprayadi hanya memberi ancar-ancar pencapaian produk sejenis sebelumnya. Yakni, antara 15% hingga 18% setahun.

Mandiri Protected Regular Income Fund

Mandiri Manajemen Investasi juga bakal meluncurkan satu produk reksadana terproteksi, yakni Mandiri Protected Income Fund seri ke-4. Ini merupakan sekuel dari produk sebelumnya. “Tinggal menunggu persetujuan dari Bapepam-LK,” kata Andreas M. Gunawidjaja, Direktur Mandiri Manajemen Investasi.

Produk ini nantinya sebagian besar bakal berkubang ke dalam surat utang negara atau korporasi. Untuk sisanya, Mandiri berencana bakal menggunakan investasi opsi. “Selama ini kita alokasikan ke bursa indeks di China,” ungkap dia.

Sama seperti produk sebelumnya, investor yang kepincut Mandiri Protected Income Fund seri ke-4 bisa membeli di kantor Mandiri Manajemen Investasi dan agen penjual. Andreas memprediksi, yield produk ini berada di kisaran 8% per tahun.

Jumat ini Bahana Global Protected Fund seri 2 tutup buku. Komposisi penempatan dananya adalah 75% di obligasi negara. Sedangkan sisanya lewat carry trade. “Jadi, investasinya ke valas,” ungkap Direktur Bahana TCW Investment Management Edward Lubis

Carry trade yang dimaksud Edward adalah membeli mata uang berbunga rendah seperti yen dan membeli mata uang berbunga relatif tinggi seperti dolar Australia. Ini bisa memberikan selisih bunga yang cukup menjanjikan.

Malah, Bahana punya rencana untuk membenamkan dana dari carry trade ini untuk membeli saham di bursa China. “Pertumbuhan industri obligasi di sana bisa mencapai 9%,” katanya.

Wah, telat, dong? Jangan mewek dulu. Bahana bakal mengeluarkan seri berikutnya yang kini sedang dalam masa penawaran (book building) hingga akhir Januari ini. Yakni, Global Protected Fund seri 3 dan seri 4.

Untuk seri empat, Bahana bakal menempatkan antara 80%-90% dana mereka di obligasi negara. Sedangkan sisanya bakal mereka tempatkan di saham-saham yang diuntungkan dari perubahan iklim serta saham-saham pelayaran (shipping).

Kemudian, untuk seri tiga, sebagian besar penempatan dana masih sama dengan seri empat. Cuma, untuk sebagian kecil dana sisanya, Bahana bakal menempatkannya di bursa China.

Kedua produk ini masih dalam masa penawaran hingga akhir bulan ini. Jika tertarik, siapkan dana investasi untuk membeli produk ini antara Rp 25 juta hingga Rp 50 juta, untuk jangka waktu selama 3,7 tahun.

Untuk prediksi tingkat imbal hasilnya, Bahana masih memakai patokan hasil tahun lalu. Yakni, sebesar 15%-18% per tahun.
Lautandhana UGM Fund

Jika tidak ada aral melintang, reksadana campuran dari Lautandhana Investment Management bakal meluncur paling cepat akhir Januari ini. Namanya Lautandhana UGM Fund.

Adanya embel-embel nama Universitas Gadjah Mada (UGM) ini ternyata ada misi sosialnya. Lautandhana akan memberikan management fee sebesar 1% dari total fee sejumlah 2% kepada UGM. “Ini ditujukan untuk pengembangan kampus UGM,” kata Direktur Utama Lautandhana Investment Management Harry Prasetyo.

Seperi apa profil dari produk ini? Produk ini bakal menempatkan dana antara 0% -70% di saham kategori LQ 45. Saham-saham yang dilirik kebanyakan adalah saham blue chips.

Kemudian, antara 0%-78% dana ngendon di obligasi korporasi dengan rating minimal BBB+. Atau bisa juga dana pihak ketiga mereka tempatkan antara 0%-15% di pasar uang. “Komposisi ini membuat kami sangat fleksibel dalam mengelola dana,” kata Harry.

Melihat komposisi dana tersebut, Harry memperkirakan imbal hasil dari produk bertema kampus biru ini relatif tinggi, yakni antara 30% -50% dalam satu tahun. Berarti imbal hasil tersebut melampaui prediksi pertumbuhan indeks tahun ini yang 20% saja.

Anda pun pasti kepincut mendengar investasi awalnya, yakni hanya sebesar Rp 200.000 doang. Nah, produk ini hanya dapat Anda beli di Lautandhana. Layaknya produk reksadana lain, Lautandhana juga mematok beberapa biaya. Seperti, biaya pembelian dan penjualan maksimal sebesar 1%. Sedangkan biaya pengalihan 0,5% saja.

Cuma, Anda harus sabar. Soalnya untuk tahap perdana Lautandhana bakal mempromosikan produk ini kepada kolega-kolega UGM, termasuk para mahasiswa. “Baru setelah itu kita tawarkan kepada masyarakat umum,” timpal Harry. Ia yakin produk ini bakal mengumpulkan dana hingga Rp 200 miliar di akhir tahun.

Si Dana Batavia Agro

Reksadana saham masih jadi andalan para manajer investasi untuk menjaring pasar. Batavia Prosperindo Aset Manajemen hakul yakin akan hal tersebut. Makanya menurut rencana, dalam bulan depan, Batavia bakal meluncurkan reksadana saham bertajuk Si Dana Batavia Agro.

Melirik namanya, Batavia akan mengedepankan saham-saham andalan di bidang agro. “Tepatnya saham perkebunan serta komoditas lainnya seperi tambang,” kata Ruddy Raharjo.

Tanpa tedeng aling-aling, Ruddy langsung menyebut saham-saham yang menjadi target buruannya, yakni Astra Agro (AALI), Lonsum (LSIP), Bakrie Plantation (UNSP), Sampoerna Agro (SGRO). Lalu ada Medco (MEDC), Perusahaan Gas Negara (PGAS). Bisa juga saham mineral seperti Timah (TINS), Antam (ANTM), Inco (INCO), serta Bumi Resources (BUMI).

“Kita bermain di seputar saham itu,” katanya. Kalau terjadi goncangan harga di komoditas tersebut, Batavia sebisa mungkin akan bertahan. Jika tidak, mereka mencari sektor lain namun masih di tema yang sama.

Pemilihan saham-saham tersebut, menurut Ruddy, lantaran sektor ini jauh dari imbas guncangan pasar global. Malah, sektor ini masih dibutuhkan.

Nantinya Batavia menempatkan antara 80% sampai 100% dana investor di saham. Sisanya, hingga mencapai 20% bakal dibiakkan di pasar uang atau bisa juga di obligasi korporasi berperingkat A.

Makanya, Batavia yakin dengan perkembangan harga di komoditas itu, sehingga membuat kinerja dari Batavia Agro bakal tetap menjanjikan. Ia memperkirakan target return dari Batavia Agro berkisar 10%-30% per tahun.

“Itu target konservatif,” katanya. Batavia menargetkan bisa meraup dana hingga Rp 300 miliar di akhir tahun. Kalau Anda tertarik, siapkan doku minimal sebesar Rp 10 juta.

Sebetulnya, Batavia Prosperindo Aset Manajemen masih mempunyai mainan baru lagi berjenis terproteksi. Hanya, Rudy belum mau membocorkan nama produk yang juga bakal meluncur bulan depan itu.

Yang rada unik, produk terproteksi ini bakal punya payung pelindung lain, yakni asuransi jiwa. “Kita kerjasama dengan sebuah asuransi asing,” bebernya. Sayang, ia enggan menyebutkan nama perusahaan asuransi ini.

Lantas, untuk penempatan dananya sami mawon dengan handai taulannya. Sebesar 80% bakal ditempatkan di obligasi negara yang punya jangka waktu lima tahun. Maklum, usia produk ini adalah lima tahun.

Sisanya, Batavia akan menempatkan dalam bentuk opsi di indeks saham Rusia. “Indeks di sana masih murah dan ada potensi tumbuh,” begitu dalihnya.

Memang, bisa saja Batavia membeli opsi indeks Asia yang banyak diminati manajer investasi lain. Tapi, Ruddy beralasan bahwa secara valuasi, indeks saham di Asia, seperti di China atau Korea Selatan, relatif sudah mahal. Ruddy sendiri berharap bisa meraup dana hingga Rp 300 miliar untuk produk reksadana ini.

Dengan racikan sedap tersebut, Ruddy menargetkan bisa mendapatkan imbal hasil antara 10% sampai 15% per tahun. Tertarik? Siapkan dana Rp 100 juta untuk mengempit produk ini.


0 Responses to “Produk-produk reksadana baru bermunculan di awal tahun”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


January 2008
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Archives

Flickr Photos

Chin Scratching Short-eared Owl

Making A Splash

Chouette épervière -  Northern hawk owl - Surnia ulula

Trillium Lake Alpine Glow

Pierless

A Candlelight Dinner

friend and foe

Ice Age Arrows.

More Photos

%d bloggers like this: