23
Jan
08

Halo, Saham Sektor Ini sedang Mati Suri

Sejumlah investor di Bursa Efek Indonesia (BEI) bingung. Sejak awal tahun ini saham-saham emiten telekomunikasi yang biasanya gagah perkasa malah makin terpuruk.

Usut punya usut, ternyata kabar kabur soal rencana penurunan tarif interkoneksi membuat mereka memilih melepas saham-saham emiten telekomunikasi yang dimilikinya. Alhasil, harga saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT Indosat Tbk (ISAT), PT Excelcomindo Pratama Tbk (EXCL), PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), dan PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN) pun berguguran.

Tengoklah saham TLKM yang sejak awal tahun ini rontok Rp 850 atau 8,37%. Saham EXCL anjlok 8,05%, BTEL turun 5,95%, dan FREN yang tergelincir 11,54%. Namun, yang longsor paling dalam adalah ISAT, yang sejak awal tahun ini harga sahamnya sudah ambles Rp 1.250 atau 14,45%.Margin bakal tergerus
Asal tahu saja, sejak pertengahan tahun 2007 Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi (Ditjen Postel) sudah menabuh genderang penurunan tarif interkoneksi ini. Besaran penurunan tarifnya berkisar 10%-30%. Tadinya, peraturan baru itu bakal muncul awal tahun ini. Tetapi, sepertinya para operator mesti bersabar menanti kepastian. “Rencananya akan kami finalisasi pada Januari tapi mundur jadi Februari,” kata Gatot S. Dewa Broto, juru bicara Ditjen Postel.

Para analis sepakat meminta investor menjauhi saham-saham sektor telekomunikasi untuk sementara waktu. “Sampai pemerintah jelas menentukan berapa penurunan tarif interkoneksi, saham telekomunikasi akan terus gonjang-ganjing,” kata Ari Pitoyo, Kepala Riset Bahana Securities.

Dia memperkirakan, penurunan tarif interkoneksi tersebut bakal memangkas margin keuntungan para operator telekomunikasi. Hal senada diungkapkan Wakil Presiden Riset dan Analis Valbury Asia Securities Nico Omer Jonckheere.

Dia bilang, dampak penurunan tarif interkoneksi ini akan terasa dalam jangka menengah. Tapi, seberapa jauh dampak penurunan tarif tersebut belum bisa diukur selama waktu dan besarannya belum bisa dipastikan.

Padahal, sebenarnya secara fundamental kinerja emiten-emiten sektor telekomunikasi ini cukup solid. Namun, ternyata sentimen negatif di pasar jauh lebih kuat, sehingga saham-saham itu ambruk.

Bagaimana sebenarnya peluang saham-saham telekomunikasi ini? Investor sebenarnya tak perlu cemas. Justru saat harga saham-saham telekomunikasi rontok, investor bisa membelinya di harga murah. Setelah harganya naik, investor bisa melepasnya.

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM)

Saham TLKM adalah saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di BEI, yaitu mencapai Rp 189,5 triliun. Belum lama ini TLKM melalui anak perusahaannya, PT Multimedia Nusantara, mengakuisisi perusahaan teknologi informasi Sigma Cipta Caraka. Akuisisi ini bakal rampung bulan depan.

Menilik kinerjanya, tahun lalu emiten pelat merah ini mampu membukukan pendapatan sebesar Rp 45,29 triliun. Angka ini naik 21,7% dibanding dengan periode yang sama 2006 sebesar Rp 37,2 triliun. Laba bersihnya juga naik 6,47% dari Rp 9,22 triliun menjadi Rp 9,82 triliun.

Nico menilai, harga saham TLKM saat ini sudah terbilang mahal. “Kalau harganya bisa turun ke posisi Rp 8.500 per saham, investor bisa mulai beli kembali,” tuturnya. Selain terombang-ambing isu penurunan tarif interkoneksi ini, posisi TLKM juga jadi sulit akibat keputusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) terhadap Temasek, pemilik sebagian saham PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel), anak perusahaan TLKM.

“Sebagai pemilik pangsa pasar terbesar, saya rasa TLKM yang paling terkena dampak penurunan tarif interkoneksi,” kata Felix Sindhunata, Kepala Riset Mega Capital Indonesia. Oleh karena itu, dia merekomendasikan investor membeli saham TLKM di saat melemah.

Felix mematok target harga TLKM bisa mencapai Rp 11.800 hingga rentang waktu 12 bulan ke depan.

PT Indosat Tbk (ISAT)

Saham ISAT memang sudah longsor paling dalam. Tetapi, kalau dihitung total keuntungan (return) saham ini dalam setahun terakhir, ternyata masih positif 23,64%. Tahun ini ISAT juga mulai menggenjot lagi kinerja fixed wireless access (FWA) StarOne dengan meluncurkan program Ngobrol Irit (Ngorbit). Kinerja ISAT per 30 September 2007 bisa dibilang kinclong.

Pendapatan ISAT melejit 33,9% menjadi Rp 11,88 triliun dari Rp 8,87 triliun pada periode yang sama 2006. Laba bersihnya juga melambung 53,96% menjadi Rp 1,47 triliun dari Rp 956,69 miliar per 30 September 2006.

Felix merekomendasikan agar investor membeli saham ISAT di saat harganya turun. Target harga ISAT versi Felix adalah Rp 8.500 per saham. Adapun Farash Farich, Analis Mandiri Sekuritas menyebutkan rekomendasinya terhadap ISAT masih netral dengan target Rp 8.200 per saham.

PT Excelcomindo Pratama ( EXCL)

Isu penurunan tarif interkoneksi ini sepertinya tidak akan terlalu berpengaruh pada saham EXCL. Justru tarif panggilan ke operator lain bakal makin murah. “Jika biaya turun, tarif pun bisa turun,” kata Hasnul Suhaimi, Presiden Direktur EXCL.

Kabar baik lainnya, dalam waktu dekat EXCL juga berniat memisahkan divisi menaranya menjadi anak perusahaan. Proses ini akan tuntas pada semester I 2008. Setelah itu, EXCL akan menjual sebagian sahamnya di anak perusahaan yang akan mengelola 8.000 menara tersebut.

Riset terbaru dari Kelvin Goh, Analis CIMB, bilang aksi korporasi EXCL itu akan memacu kompetisi di antara operator telekomunikasi Indonesia. Sayang, belum ada analis yang memberikan rekomendasinya untuk saham ini.

PT Bakrie Telecom (BTEL)

Saham operator telekomunikasi dari Grup Bakrie ini tahun lalu mampu memberikan keuntungan sebesar 71,43%. Sejak awal tahun ini, BTEL masih minus 5,95%. Tapi, selama setahun terakhir BTEL masih mampu memberikan total keuntungan sebesar 58%.

Setelah melebarkan jangkauannya ke-34 kota di Indonesia, BTEL juga segera meluncurkan layanan sambungan langsung internasional (SLI). Farash merekomendasikan beli saham BTEL dengan target harga Rp 500 per saham.

PT Mobile Telecom Tbk (FREN)

Tahun ini, FREN menargetkan jumlah pelanggannya bakal menggemuk jadi 5 juta pelanggan. Untuk mencapai target tersebut, FREN bakal makin rajin menjelajah ke luar Jawa.

“Kami akan ekspansi ke Sumatra, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, dan menjangkau seluruh Jawa,” kata Merza Fachys, Direktur Komunikasi Perusahaan FREN. CIMB memberikan peringkat underperform pada FREN, dengan target Rp 260 per saham.

Halo, yang manakah saham pilihan Anda?


0 Responses to “Halo, Saham Sektor Ini sedang Mati Suri”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


January 2008
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Archives

Flickr Photos

Lago di Braies

Red and Gold

Sol Duc Falls

Wasting Light

Back to forest

Red Lane 3

Prairie Falcon 2016

Suitcases

More Photos

%d bloggers like this: