04
Feb
08

Dandan yang Cantik Menjelang Paparan Kinerja

Upaya keras bank-bank berlabel badan usaha milik negara (BUMN) membuahkan hasil. Para bankir bank-bank pelat merah itu pun sudah bersiap-siap menyunggingkan senyum manis. Sebab, laporan keuangan mereka untuk tahun 2007 dipastikan bakal memuaskan.

Salah satu yang paling kentara adalah hilangnya lemak-lemak jahat yang dulu bergelambir di perutnya, yakni kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL). Bank Mandiri, misalnya, hingga akhir tahun 2007 jumlah kredit seretnya tinggal Rp 9 triliun. Kalau ditimbang dengan kredit yang mengalir, NPL kotor atau gross Mandiri sudah di bawah 10%. Bahkan, NPL bersih atau neto cuma tinggal 2,9%.

Padahal, pada September 2007, NPL bank dengan aset terbesar di Indonesia ini masih Rp 14,87 triliun. Artinya, hanya dalam tempo satu kuartal, bank yang baru berganti logo menjadi pita emas ini mampu mengurangi NPL sebesar Rp 5,87 triliun. Walhasil, NPL kotor Mandiri pun turun dari 12,2% pada September 2007 menjadi 3,4% pada akhir 2007.

Direktur Asset Management Bank Mandiri, Riswinandi, bilang bahwa total NPL sebesar Rp 9 triliun itu sudah termasuk kredit seret dari 30 debitur besar Bank Mandiri. “Hingga akhir tahun 2007, kredit macet mereka yang tersisa hanya tinggal Rp 4 triliun,” ujar Riswinandi.

Restrukturisasi, pailitkan, atau lelang agunan

Tak mau kalah, Bank BNI mengaku berhasil membereskan debitur bermasalahnya. Menutup ujung tahun 2007, BNI berhasil menciutkan kredit macetnya di bawah batas maksimal ketentuan BI sebesar 5%. Tepatnya, akhir 2007 NPL neto BNI tinggal 3,7%. “Ini turun dari posisi September 2007, ketika NPL kami masih di 4,7%,” ujar Sigit Pramono, Direktur Utama Bank BNI.

Makanya, sejak 17 Januari lalu BNI telah mengantongi surat dari bank sentral yang isinya mengeluarkan BNI dari status pengawasan khusus BI. Itu lantaran bank berlogo 46 ini berhasil menangani kredit macetnya yang sempat membengkak hingga 11,58%.

Proses restrukturisasi kredit macet debitur-debitur besar BNI juga telah membuahkan hasil. Banyak debitur kakap sepakat dengan pola restrukturisasi yang diajukan BNI. Di antaranya PT Garuda Indonesia, dua perusahaan milik Raja Garuda Mas, serta Semen Bosowa. “Mereka terbilang debitur dengan pinjaman besar. Sekarang yang tersisa tinggal utang yang kecil-kecil,” ujar Sigit.

Sukses ini tentu saja mengempiskan NPL BNI. Maklum, dalam setahun BNI telah berhasil mere-strukturisasi kredit macet sebesar Rp 1,2 triliun.Selain itu, BNI diam-diam telah menindak keras debitur-debitur bandelnya. BNI melakukan proses litigasi terhadap debitur bermasalah dengan melakukan penjualan atau lelang agunan kredit macet.

Sebut saja lelang agunan atas tiga perusahaan Kang Group, yakni PT Delta Barito, PT Kalimas Baru, dan Sinar Mas Fajar, PT Zidon Indonesia. Begitu pula dua perusahaan Masindo Group, yakni PT Hatada dan PT Menser. BNI pun melelang tanah Pakuwon Jati. “Karena tak kooperatif, kami harus melelangnya,” ujar Sigit.

Langkah serupa dilakukan Bank Mandiri. Kesal pada ulah debitur bandel, bank ini akhirnya berencana memailitkan Suba Indah dan menjual agunan milik Great River dan Gunung Meranti. Kata Riswinandi, Mandiri kini tengah berupaya mendapatkan aset-aset perusahaan debitur lain. Mandiri menempuh cara ini lantaran perusahaan tersebut sudah tak beroperasi lagi. Dalam penyelesaian kredit bermasalah, selain akan terus melakukan penagihan, Mandiri juga mencari investor lain yang bersedia mengambil alih utang macet debitur bermasalah.

Sukses menciutkan kredit bermasalah dicapai Bank Tabungan Negara (BTN) pula. Sampai akhir tahun 2007, BTN sukses menekan NPL kotor hingga 4,5% dan NPL bersih 3%. Sayang, Direktur Utama BTN Iqbal Latanro ogah bicara banyak soal ini.

+++++
BNI Melenggang, yang Lain Menunggu

Bank BNI langsung tancap gas dalam upaya restrukturisasi kredit macet usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang jumlahnya mencapai Rp 2,21 triliun untuk 24.000 debitur. BNI memberikan potongan kepada debitur yang punya utang di bawah Rp 5 miliar yang macet sejak 31 Desember 2005.

Mulai Desember 2007, para debitur BNI itu bisa mendapatkan haircut atau diskon 50% bila menyelesaikan kewajibannya pada enam bulan pertama, sejak restrukturisasi berlaku. Untuk nasabah yang baru bisa menyelesaikan kewajiban mereka pada enam bulan berikutnya, mereka hanya dapat diskon utang pokok sebesar 40%.

Hasilnya, hingga saat ini, “Kami sudah menerima pengembalian sebesar Rp 30 miliar,” ujar Sigit Pramono, Direktur Utama Bank BNI. Dalam enam bulan ke depan, BNI berani memprediksi akan menerima pelunasan utang debitur UMKM-nya hingga Rp 198 miliar.

Kata Sigit, melenggangnya BNI bukan tanpa alasan. Pemerintah sudah memberikan lampu hijau bagi bank BUMN melakukan restrukturisasi. Keluarnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 33 Tahun 2006 sudah cukup bagi BNI merestrukturisasi kredit macet itu.

Bila ada debitur protes lantaran tak masuk restrukturisasi, “Kami akan diskusi dengan pemerintah untuk meminta kembali debitur yang telah kami serahkan ke DJPLN (Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang Negara). Toh, itu dimungkinkan,” ujar Sigit beralasan.

Langkah ini jelas berbeda dengan rekan-rekannya. Hingga saat ini bank-bank pemerintah, seperti Bank Mandiri, Bank Tabungan Negara (BTN), serta Bank Rakyat Indonesia (BRI) tak kunjung bernyali melakukan upaya restrukturisasi kredit macet UMKM-nya. Padahal, banyak nasabah kecil bergantung nasib kepada keputusan mereka.

Di Mandiri, misalnya, ada 88.000 debitur dengan nilai kredit macet Rp 6,747 triliun. Di BRI jumlahnya Rp 7,94 triliun, yang berasal dari 796.000 debitur. Sementara, di BTN ada Rp 1,29 triliun dari 138.000 debitur. Total utang macet UMKM keempat bank milik negara itu mencapai Rp 17,8 triliun untuk 1,4 juta debitur UMKM.

Haryanto Budiman, Koordinator Perubahan Manajemen Mandiri, bilang bahwa Bank Mandiri kini tengah menelisik lebih dalam pola restrukturisasi yang dilakukan BNI. “Kami tak menutup mata bisa melakukannya,” ujar Haryanto. Termasuk, aturan yang bisa meminta kembali debitur macet yang telah bank serahkan ke DJPLN.

Haryanto bilang, macetnya upaya restrukturisasi kredit macet UMKM di bank karena bank ingin restrukturisasi seragam, antara debitur yang masih di bank maupun yang ada di tangan DJPLN. “Aneh rasanya kalau aturan membedakan satu dengan lainnya,” ujarnya. Makanya, tergabung dalam Perhimpunan Bank-Bank Negara (Himbara), bank-bank sepakat mengajukan permintaan ke pemerintah.

Dengan hanya bersenjatakan PP 33/2006, mereka memang bisa melakukan restrukturisasi. Namun, upaya itu tak bisa dilakukan untuk debitur yang ada di tangan DJPLN. Sebab, tak satu pun debitur yang tahu kalau kreditnya sudah diserahkan ke pemerintah. “Lagi pula, kami tak bisa menjawab kalau debitur bertanya kenapa mendapatkan perlakukan beda,” imbuh Leny Sugihat, Direktur Administrasi Kredit dan Analisis Risiko Kredit BRI.

Selain itu, total utang macet UMKM kini telah menyusut menjadi Rp 11,9 triliun dari sebanyak 783.000 debitur. Jumlah ini bisa turun karena bank-bank itu sudah membersihkan kredit dari kredit konsumsi dan mengganti cut off date-nya dari 31 Desember 2006 menjadi 31 Desember 2005.


3 Responses to “Dandan yang Cantik Menjelang Paparan Kinerja”


  1. January 20, 2016 at 7:39 am

    My brother suggested I would possibly like this blog. He was
    totally right. This publish truly made my day.
    You can not imagine just how much time I had spent for this info!
    Thanks!

  2. January 23, 2016 at 9:01 am

    Wonderful, what a blog it is! This blog provides valuable facts to us,
    krep it up.

  3. February 2, 2016 at 6:47 am

    If you are going for finest contents like myself,
    simply pay a visit this site every dday since it presents
    quality contents, thanks


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Archives

Flickr Photos

Chin Scratching Short-eared Owl

Making A Splash

Chouette épervière -  Northern hawk owl - Surnia ulula

Trillium Lake Alpine Glow

Pierless

A Candlelight Dinner

friend and foe

Ice Age Arrows.

More Photos

%d bloggers like this: