05
Feb
08

Menonton Aksi Lativi Mengubah Diri

Wanita berpenampilan anggun itu keluar dari mobil mewah. Ia melangkah masuk ke bangunan rumah bergaya Spanyol nan megah dan langsung berteriak memanggil si bibi. Nyonya besar tadi menaruh tasnya yang dilabeli merek terkenal, lalu menghempaskan diri di sofa yang empuk. Hmmm….

Itu adalah cuplikan sinetron yang muncul di layar kaca milik kita. Serbamakmur, kaya raya, berlimpah harta merupakan potret yang diusung banyak stasiun televisi dalam sinetron mereka. Ironis, karena kehidupan nyata tidaklah seperti itu.

Persis, kehidupan stasiun televisi pun tidak melulu berlimpah uang. Persaingan antarstasiun televisi terbilang sengit. Nah, salah satu televisi yang tersisih dari persaingan ini adalah Lativi. Televisi berumur lima tahun ini masih merugi dengan pendapatan tahun 2007 sekitar Rp 180 miliar. Kita tahu, stasiun televisi yang didirikan oleh pengusaha yang juga mantan Menteri Tenaga Kerja Abdul Latief ini megap-megap. Lativi dibelit utang pada beberapa rumah produksi serta pemasok berita, seperti Reuters dan ATPN. Belum lagi kredit dari Bank Mandiri sebesar Rp 350 miliar yang macet.

Tapi, itu cerita lama. Pada April 2007, konsorsium Anindya Bakrie, Erick Thohir, dan Rosan Perkasa Roeslani membeli seluruh kepemilikan Lativi Mediakarya. Konsorsium ini menggelontorkan modal Rp 1,3 triliun. “Itu termasuk merampungkan masalah dengan bank,” ujar Erick, yang didapuk menjadi Direktur Utama Lativi.

Tanpa layar tancap

Menurut Erick, masing-masing dari anggota konsorsium bertindak secara pribadi; kendati mereka semua sudah memiliki kelompok usaha media massa, kecuali Rosan. Anindya adalah Presiden Direktur Star-ANTV, sedangkan Erick merupakan bos Grup Mahaka Media yang mengelola Jaktivi, Harian Republika, Harian Indonesia, Radio Gen FM. “Jadi, enggak ada nama Rupert Murdoch di sini,” katanya.

Jelas saja, sebagai pemilik baru Lativi, konsorsium ini tidak mau merugi. Karena itulah mereka berusaha mendandani penampilan Lativi. Misalnya, nama Lativi akan diganti menjadi TVOne, mulai 14 Februari 2008. “Kami juga menggeser target pasar, dari ABC menjadi CDE,” kata Erick.

Dengan perubahan ini, Erick berharap bisa meraup pendapatan Rp 305 miliar setahun dan mempertahankan rating di angka 5-6. Dalam tiga tahun ke depan, Erick berharap TVOne sudah bisa untung dan tidak rugi lagi. Perubahan target pasar, sudah pasti, membawa perubahan konsep pula. Menurut Erick, mereka sudah menyusun program siaran yang sebanyak 55%-nya berupa informasi, baik hard news, talkshow, atau TV magazine. Untuk memperkuat barisan berita, mereka menggandeng Karni Ilyas, yang selama ini bekerja di ANTV.

Selain berita, kata Erick, TVOne juga menawarkan program olahraga. Ia menunjuk program Liga Inggris, Liga Spanyol, Copa Indonesia, Indonesian Basketball League, Pro Liga Voli, dan tinju yang bakal menjadi andalan. Sementara, 15% program akan diisi dengan hiburan berupa kuis, film Indonesia, film asing, dan musik. Nantinya, “Kami enggak akan menayangkan sinetron,” ujar Erick.

Perubahan konsep tersebut, kata Erick, sudah dilakukan secara bertahap dan diterapkan radikal pada saat peluncuran. “Jadi, nanti enggak ada lagi program semacam Layar Tancap malam-malam itu,” lanjut Erick. Tapi, TVOne juga tidak akan menjagokan program anak-anak yang pernah mengangkat nama Lativi, seperti Spongebob dan Dora The Explorer. Erick bilang, stasiun teve ini menyasar kalangan berusia 15 tahun ke atas. “Kami berusaha menciptakan pasar sendiri,” ujarnya lagi.

Porsi berita di TVOne memang cukup besar, tapi Erick menolak jika dibilang menjadi stasiun televisi berita, seperti MetroTV.

Meski, menurut Usman K.S., Koordinator Liputan Metro TV, pasar televisi berita di Indonesia cukup bagus, terutama jika ada peristiwa istimewa. “Memang bergantung pada peristiwa, seperti meninggalnya Soeharto kemarin,” katanya. Saat begitu, acara breaking news di Metro TV mendapat rating cukup besar.

Hanya, untuk mendapat pasar yang lebih baik, televisi saluran berita masih harus membuat agenda publik dan penyajian berita tanpa bergantung pada suatu peristiwa tertentu saja.

Lebih kuat dengan grup

Meski secara resmi tidak punya koneksi dengan media cetak atau stasiun televisi lain, namunTVOne diuntungkan dengan latar belakang pemiliknya yang mempunyai jenis media lain. Hal ini menyerupai Media Nusantara Citra (MNC) dengan RCTI, TPI, dan Global TV, juga konsolidasi Trans TV dan Trans 7. Ini dipercaya memperkuat posisi stasiun televisi.

Tahun lalu, sampai bulan September 2007, MNC membukukan pendapatan hingga Rp 2,21 triliun. Dari total pendapatan itu sekitar 94,68% atau sebesar Rp 2,09 triliun merupakan pendapatan dari segmen televisi. Sisanya kontribusi dari media cetak dan radio. “Harus ada konsolidasi di industri ini, artinya harus ada grup-grup media,” kata David Fernando Audy, Kepala Hubungan Investor MNC.

Konsolidasi ini menguntungkan, karena biaya operasional televisi relatif besar, sementara pertumbuhan iklan terbatas. Misalnya, satu peliputan berita bisa menutup untuk tiga stasiun televisi, sehingga bisa menghemat biaya operasional. “Kalau kita lihat lima tahun ke depan, hanya ada tiga atau empat grup yang bisa bertahan,” ramal David.

Menurut AC Nielsen, pertumbuhan belanja iklan di televisi dua tahun belakangan sekitar 17%. Perhitungan kotornya sekitar Rp 35 triliun untuk semua media tahun lalu. “Kalau dihitung dengan diskon, kira-kira jadi Rp 10 triliun,” kata David.  Terang saja, persaingannya sangat sengit. Sampai September 2007, Indosiar membukukan pendapatan Rp 444,11 miliar dengan rugi bersih Rp 108,99 miliar. Sementara Surya Citra Media, induk perusahaan yang punya 99,99% saham SCTV, mencatat pendapatan Rp 947,1 miliar dengan laba bersih Rp 120,1 miliar.

Dapatkah TVOne bertahan? Kita tunggu saja aksinya!

Siapa yang Tidak Bergabung?

Konsolidasi stasiun televisi terjadi sejak beberapa tahun lalu. Salah satu grup yang gencar melakukan konsolidasi media adalah Media Nusantara Citra (MNC) milik taipan Hary Tanoesoedibjo, yang mengelola RCTI, TPI, dan Global. “Kami percaya televisi harus melakukan segmentasi karena enggak bisa dapat semua pasar,” kata David Fernando Audy, Kepala Hubungan Investor MNC. Mereka memosisikan RCTI membidik kalangan menengah ke atas dan TPI untuk menengah ke bawah.

Lantas, ada Trans Corporation milik Chairul Tandjung. Ia memulai dengan Trans TV tahun 2001. Setelah membeli sebagian saham TV7 milik Kelompok Kompas Gramedia tahun 2006, ia mengganti nama TV7 jadi Trans7.

Konsolidasi stasiun televisi terbaru terjadi antara Lativi, yang segera berganti nama menjadi TVOne, dengan ANTV dan Jaktivi. Nah, konsolidasi tersebut dilatarbelakangi bisnis anggota konsorsium pemilik TVOne. “Sinergi itu memang bisa terjadi,” kata Erick Thohir, Dirut TVOne.

Beberapa waktu lalu, juga santer terdengar bahwa Indosiar dan SCTV akan menjalin hubungan yang romantis. Kabar ini menggelegak ketika Indofood Agri, perusahaan perkebunan sawit Keluarga Salim, membeli saham London Sumatra Indonesia milik Keluarga Sariaatmadja.

Apa hubungan televisi dan kebun kelapa sawit? Seiring akuisisi itu, muncul kabar pengambilalihan Indosiar oleh SCTV. Indosiar merupakan televisi milik keluarga Salim, dan keluarga Sariaatmadja memiliki saham SCTV sebesar 78,69% lewat PT Abhimata Mediatama.  Tapi, hingga saat ini belum ada kabar pasti tentang hal tersebut.

Dengan peta konsolidasi seperti itu, masih tersisa satu pemain televisi yang membujang, yakni Metro TV. Meski begitu, Metro TV berhubungan erat dengan koran Media Indonesia yang memang sama-sama milik Surya Paloh.


0 Responses to “Menonton Aksi Lativi Mengubah Diri”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Archives

Flickr Photos

Chin Scratching Short-eared Owl

Making A Splash

Chouette épervière -  Northern hawk owl - Surnia ulula

Trillium Lake Alpine Glow

Pierless

A Candlelight Dinner

friend and foe

Ice Age Arrows.

More Photos

%d bloggers like this: