17
Feb
08

Ogah Terlena Pasar Ekspor, Essenza Pulang Kandang

Kalau Anda penonton sepakbola Liga Italia di televisi di era 1990-an, tentulah Anda akrab iklan produk ini. Bidak catur raksasa, yang untuk menggerakkannya saja butuh puluhan orang pendorong, tiba-tiba terjatuh. Eh, ternyata bidak catur itu yang hancur. Sedangkan keramik yang terkena benturan tetap utuh, dan tetap kinclong. Begitulah pencitraan yang ditanamkan keramik bermerek Essenza. Slogannya pun kuat dan melekat di benak, “No tile like it.”

Nyaris satu dasawarsa berlalu, ketika Liga Italia tak lagi menjadi favorit pemirsa, nama Essenza agak meredup dari pasaran. Tapi jangan lantas berpikir yang aneh-aneh dan mengira merek ini tinggal nama. Mereka tetap eksis.

Rupanya, selama ini Essenza lebih aktif meladeni pasar ekspor. Penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah krisis ekonomi tahun 1997. Seperti halnya para koruptor yang banyak kabur ke luar negeri, Essenza juga melakukannya. Tapi, bukan dalam arti negatif, lo. Soalnya, “Penjualan di pasar dalam negeri runtuh hingga 50%,” kata Budi Djunaedy, Direktur Penjualan dan Pemasaran PT Intikeramik Alamasri Tbk. Intikeramik ini adalah perusahaan pemegang merek Essenza

Efek turunnya penjualan ini tentu tak hanya menimpa Essenza. Para pelaku industri ini juga merasakan. Mereka bahkan sempat bingung dan gamang untuk terus melangkah di bisnis ini. Supaya selamat, mereka harus menata bisnis secepat mungkin.

PT Intikeramik Alamasri mengambil langkah drastis. Dia memutuskan mengalihkan pasar ke luar negeri. Tak tanggung-tanggung, Essenza mengincar pasar Singapura, Amerika, dan Australia sebagai target. Kantor cabang sekaligus pusat pemasaran yang pertama berada di Singapura, dan disusul di Amerika Serikat.

Masuk ke pasar global tentulah tidak gampang. Setiap produk kudu mengantongi standar mutu sesuai negara tujuan. Masing-masing negara berbeda. Satu demi satu, Essenza memenuhi rangkaian persyaratan dan standar mutu tersebut. Saat ini dia sudah memegang sertifikat sebagai brand berkualitas internasional lewat ISO 9001: 2000.

Untuk meraih kepercayaan pasar, mereka harus dikenal dan memang punya kualitas yang bagus. PT Intikeramik Alamsari melakukan kampanye dengan cara mengundang profesional properti tingkat dunia untuk membahas secara ilmiah produk Essenza. “Kami minta ahli keramik dan porselen menguji mutunya secara ilmiah,” kata Budi.

Hasil pertemuan dengan para profesional itu bisa menjaring keinginan dan selera pasar dari konsumen negara tujuan. Dari situ pula dia mengetahui selera dan kualitas produk yang diinginkan konsumen. Jadinya Essenza bisa menawarkan produk sesuai keinginan dan kebutuhan pasar.

Dari satu negara ke negara lain, Essenza berhasil meluaskan jangkauan ekspornya. Usai menaklukkan Singapura dan Amerika Serikat, ekspor dia arahkan ke negara-negara Asia seperti Korea Selatan, Taiwan, Thailand, India, Brunei Darussalam, dan Jepang. Pada tahun 2001, perluasan pasar Essenza telah memasuki kawasan Eropa, Afrika, dan Timur Tengah.

Kembali masuk ke pasar domestik

Hingga akhir 2007, Essenza telah memiliki distributor resmi di 25 negara, termasuk Italia yang merupakan negara produsen keramik terbesar dan berkualitas tinggi di dunia. Bagaimana cerita nya Essenza bisa masuk ke Italia? “Awalnya, kami ikut pameran saja ke Italia, tapi responsnya ternyata bagus,” kenang Budi.

Setelah menjelajah ke berbagai negara, realisasi ekspor Essenza pun terus menanjak. Tercatat sewaktu awal produksi, yakni tahun 1993, nilai ekspor Essenza hanya Rp 4 miliar. Angka ekspor ini terus meningkat menjadi Rp 59 miliar pada tahun 2002.

Tahun-tahun berikutnya ekspornya melonjak kencang menjadi Rp 83 miliar dan Rp 116 miliar. Hingga tahun 2005, realisasi ekspor keramik Essenza menyentuh angka Rp 130 miliar.

Sayang, di tahun 2006 laju kenaikan ekspor Essenza terhadang kenaikan harga energi yang kemudian memangkas nilai ekspornya menjadi Rp 109 miliar. “Persoalan pada masa itu adalah kenaikan harga karena sedikitnya pasokan gas,” katanya.

Sementara itu, realisasi ekspor tahun 2007 yang sudah dibukukan baru US$ 8,5 juta atau senilai Rp 79 miliar. Budi memprediksi nilai ekspor sementara ini tidak jauh beda dengan tahun 2006.

Kejadian pahit selama dua tahun terakhir itu pun membuat mereka sadar tak bisa lagi melulu mengandalkan pasar luar negeri. Apalagi, deraan krisis energi belum berakhir, bahkan dunia tengah dihantui gejala krisis ekonomi yang bermula dari Amerika. Pada saat sama, “Kok, kebetulan kami melihat pasar properti di Indonesia tahun ini justru akan membaik,” katanya.

Kondisi itu membuat PT Intikeramik segera mengoreksi target alokasi penjualan tahun ini. Awalnya, dia mengalokasikan 60% penjualan berasal dari ekspor dan sisanya dari penjualan di dalam negeri. Target terbaru, ekspor dia turunkan menjadi 45% dan penjualan dalam negeri meningkat menjadi 55%.

Meski begitu, Essenza tetap menaikkan target produksinya. Total target produksi tahun 2008 bakal naik menjadi 4 juta m2, dari 2,5 juta m2 pada 2007. Adapun jatah penjualan keramik di pasar internasional tetap mereka pertahankan pada angka 1,8 juta m2.

Budi optimistis target itu tercapai. Sebab, dia yakin bahwa pada tahun ini ekonomi Indonesia akan terus bertumbuh. Dus, akan banyak proyek properti kelas premium yang membutuhkan keramik buatan Essenza. Dia mencontohkan maraknya proyek pembangunan gedung komersial dan rumah mewah.

Dengan kualitas keramik Essenza yang terjaga, PT Intikeramik yakin akan mendapatkan pangsa pasar di sektor properti kelas premium. “Selain itu, kami tak ingin terlena dengan pasar ekspor saja,” kata Budi.

Saat ini terdapat sembilan jenis produk Essenza yang dipasarkan di dalam dan luar negeri: graniti imperali, mountain peak, somus, lavagna, zenith, travertine, marble look, uniclor, dan salt paper. “Setiap jenis berbeda harganya, tapi yang jelas harga sesuai dengan kualitasnya,” katanya.

+++++
Menjaga Kualitas lewat Pakar Italia

Jika berani main air, maka harus rela basah. Setidaknya, itulah langkah PT Intikeramik Alamasri Tbk yang tidak main-main dalam meningkatkan produk porselennya. Yang namanya keramik, hampir pasti membawa imaji kuat tentang Italia. Tak terkecuali keramik bermerek Essenza ini. Maka, janganlah heran, dia menyewa pakar keramik langsung dari Italia untuk menjaga kualitas sekaligus melakukan riset untuk produk barunya.

Tak hanya menjaga standar mutu dan melakukan riset, para ahli dari Negeri Spageti ini juga membuat desain baru hingga mengaplikasikan teknologi terbaru dalam proses produksi keramik Essenza. Tim ini juga memperkuat jaringan kerjasama terutama persoalan teknologi dengan produsen keramik dunia lain. “Kami berkonsentrasi menciptakan teknologi baru yang bisa membuat produk porselen yang mirip dengan produk natural,” ungkap Budi.

Berdasarkan riset yang dilakukan Essenza, tren penggunaan lantai memang mengarah kepada produk yang tampak natural. Walaupun produk alam tetap menjadi idaman karena kualitasnya memang lebih baik, “Tapi lantai keramik dari porselen yang kami produksi juga sudah bisa dibuat mirip dengan batu natural,” katanya.

Belakangan ini perkembangan ubin di dunia sedang mengarah ke porselen. Bahan ini memiliki kekuatan yang lebih tinggi dan daya serap air yang lebih rendah dari keramik. Untuk Indonesia, tinggal 30% bahan baku yang berasal dari luar negeri, seperti pigmenAdapun pasir silika dan tanah liat berasal dari dalam negeri.

Tentu Essenza mengalami banyak suka-duka saat menggempur pasar dunia. Mereka terkendala adanya imaji negatif terhadap produk Indonesia. Orang asing banyak menilai produk Indonesia ini berkualitas rendah. “Tapi, imaji negatif ini yang menjadi tantangan bagi kami,” kata Budi.


1 Response to “Ogah Terlena Pasar Ekspor, Essenza Pulang Kandang”


  1. 1 Abdul Basit
    May 10, 2015 at 6:55 pm

    Esenzza memang memiliki kualitas produk yg bagus sejak berdiri.. Tetapi tertinggal dengan ketertarikan konsumen memakai product yg kini sudah memakai lapisan lilin untuk meminimalkan penyerapan air.. Dan penambah kilap pada product..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Archives

Flickr Photos

Chin Scratching Short-eared Owl

Making A Splash

Chouette épervière -  Northern hawk owl - Surnia ulula

Trillium Lake Alpine Glow

Pierless

A Candlelight Dinner

friend and foe

Ice Age Arrows.

More Photos

%d bloggers like this: