25
Feb
08

Membangun Hutan Kota di Tengah Hutan Beton

Punya hunian tempat beristirahat nan hijau asri. Jelas, itu impian banyak orang. Siapa, sih, yang tak ingin bisa menghirup udara bersih dan segar di rumah sendiri? Sayang, ruang terbuka nan hijau dengan udara-nya yang bersih merupakan hal langka di Ibukota RI ini. Sebaliknya, langit biru Jakarta lebih banyak berselimut kabut abu-abu dari asap kendaraan bermotor atau pabrik-pabrik.

Padahal, dengan lahan seluas 65.000 hektare, idealnya Jakarta memiliki luas ruang terbuka hijau minimal 30% atau 10.500 hektare. Dulu, Gubernur Ali Sadikin dalam Rencana Induk Jakarta tahun 1965-1985 pernah mengalokasikan ruang terbuka hijau seluas 37,2%. Hanya, penyakit ganti gubernur ganti kebijakan telah memangkas kebutuhan ruang terbuka hijau di Jakarta.

Makanya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2006 menyebutkan, kualitas udara di Jakarta menduduki peringkat ketiga terburuk di dunia setelah Bandar Meksiko dan Bangkok. Udara di Jakarta disesaki racun yang berasal dari asap kendaraan bermotor, industri, dan lainnya.

Kalau memang pemerintah daerah serius menggarap ruang terbuka hijau, mestinya data WHO bisa menjadi pemecut untuk menciptakan ruang publik atau hutan kota yang berperan sebagai paru-paru kota.

Apalagi di beberapa kota besar di dunia taman-taman kota bisa menjadi meeting point dan arena rekreasi. Sebut saja New York dengan Central Park-nya. Taman kota ini memiliki luas 3,41 kilometer persegi. Namun, sejauh ini belum ada yang bisa menandingi Kota London yang kaya dengan taman kotanya. Sampai-sampai London mendapat julukan The Green City.

Gandeng pengembang ciptakan ruang hijau

Untung sajalah, makin meningginya kesadaran akan kebutuhan ruang hijau membuat Pemerintah Daerah (Pemda) Jakarta bergegas menggandeng pengembang. Salah satunya di Jakarta Utara.

Bekerjasama dengan PT Summarecon Agung Tbk, Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Utara pun kelar mengubah lahan pembibitan di Kelapa Gading menjadi taman joging yang indah. Akhir pekan lalu, taman kota ini bahkan sudah resmi bisa dipakai publik.

Taman ini mejeng di lahan seluas 1,6 hektare di kawasan properti kelolaan PT Summarecon Agung. Kata Johannes Mardjuki, Direktur Utama PT Summarecon Agung Tbk, sebetulnya lahan ruang hijau adalah milik pemkot; sementara perusahaan yang di bursa dikenal dengan kode saham SMRA ini membangun dan merawat taman itu. “Kami akan bertanggungjawab atas taman tersebut,” ujar Johanes.

Lanskap taman ini berkontur dengan jogging track sepanjang 500 meter. Agar bisa digunakan hingga larut malam, perusahaan milik Sutjipto Nagaria ini sengaja memasang 138 unit lampu di taman tersebut. Paling malam, Taman Jogging bisa dipakai hingga pukul 21.00 pada hari biasa dan pukul 22.00 pada akhir pekan.

Jenis tumbuhan yang merimbun di taman itu beragam. Mulai pinus, kelapa gading, kamboja, palem, sawit, mahoni, hingga semak perdu. Taman ini juga semakin komplet dengan area bermain anak-anak, toilet, pergola, gazebo, dan plaza terbuka.

Tak lama lagi, pohon-pohon di kawasan ini bakal menghijau lebih segar di kanan-kiri lintasan joging selebar 1,2 meter-2,4 meter ini. Dus, suasana asri bakal kontras dengan kemacetan di bundaran La Piazza di kawasan yang juga milik Summarecon ini.

Mau memanjakan telapak kaki? Taman ini punya jalur khusus untuk refleksi sedang dan refleksi keras. Rasakan bedanya menjejak bumi di atas sepatu empuk dengan di atas bebatuan yang melancarkan peredaran darah.

Kawasan Kelapa Gading yang lekat dengan ikon gaya hidup kini semakin komplet dengan adanya lahan olahraga. “Kami harap, life-style seperti ini terus ada,” ujar Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, akhir pekan lalu.

Namun, Taman Jogging ini hanya secuil ruang terbuka hijau di Jakarta Utara. Di kawasan ini, total jenderal ruang terbuka hijau baru 6,8% dari luas Jakarta Utara. “Setelah ini, kami rencananya juga akan membereskan Taman BMW Sunter,” kata Effendi Anas, Walikota Jakarta Utara.

Taman Bersih Manusiawi dan Berwibawa atau BMW di bilangan Sunter memang berantakan. Taman yang yang berdiri sejak zaman Gubernur Wiyogo Atmodarminto tahun 1987-1992 ini memiliki luas 26,5 hektare. Letaknya di Kelurahan Papanggo dan Sunter Agung, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Lahan Taman BMW ini kini dikuasai warga secara liar. Hitungan di atas kertas, ada 1.146 keluarga yang menghuni taman ini. Padahal di taman terluas se-Jakarta ini sempat berdiri pepohonan yang indah dan rindang.

Lahan BMW seluas 6 hektare saat ini dalam pengawasan Dinas Kebersihan DKI Jakarta untuk pembangunan tempat penampungan sampah sementara. Sisanya, seluas 20,5 hektare untuk taman dan hutan kota. Rencananya bangunan liar di atas lahan itu bakal digusur awal Februari ini.

Effendi mengakui, taman BMW itu dipromosikan menjadi kawasan sport center yang dilengkapi stadion sepakbola internasional. Untuk itu, sebelum membangun stadion tersebut, “Pemkot Jakarta Utara akan memperlombakan desain bangunan tersebut,” kata Effendi. Untuk membangunnya, lagi-lagi, pemkot akan bekerjasama dengan pengembang.

Di dalam kota, gunakan anggaran sendiri

Tak hanya di Kelapa Gading, Summarecon juga membangun ruang hijau di kawasan properti miliknya di kawasan Serpong. “Luasnya 2,6 hektare lo,” ujar Johannes bangga.

Tak jauh dari Gading Serpong milik Summarecon, Sinar Mas Group telah membangun taman kota di Bumi Serpong Damai (BSD). Bekerjasama dengan Pemerintah Tangerang, Sinar Mas telah mendirikan beberapa taman kota. Antara lain: Taman Kota 1 yang menempati lahan seluas 2,5 hektare, Taman Kota 2 seluas 10 hektare, dan tahun ini bakal ditambah lagi dengan Taman Kota 3 di dekat German Center.

Lebih dari sekadar paru-paru kota, Sinar Mas juga membikin 11 danau buatan dengan total luas 23 hektare di kawasan BSD.

Pemerintah Kota Jakarta Selatan kini juga sibuk berbenah ruang terbuka hijau. Saat ini mereka telah selesai mengusir para pedagang di Pasar Barito. Mereka dipaksa pindahan ke Pasar Pondok Indah dan Pasar Radio Dalam. Di lokasi bekas mereka berdagang, Pemkot Jakarta Selatan akan membangun taman untuk daerah resapan air. Pemkot juga akan menata kembali Taman Ayodya yang terletak di kawasan itu agar kembali asri.

“Setelah Pasar Barito dikosongkan atau disterilkan, barulah pemerintah menata seluruhnya,” ujar Kepala Dinas Pertamanan DKI Jakarta, Sarwo Handayani.

Untuk membenahi bekas Pasar Barito dengan area luas 7.000 m2 itu menjadi daerah resapan air dan taman bagi warga Jakarta berinteraksi, butuh anggaran sebanyak Rp 1,5 miliar. Adapun total anggaran pengadaan dan pembenahan ruang hijau di dalam Kota Jakarta mencapai Rp 40 miliar.

Sebelumnya, Pemda DKI sudah membangun pula Taman Menteng beserta gedung parkirnya. Saat membangun Taman Menteng dua tahun silam, DKI pun sempat kebanjiran protes dari berbagai pihak. Mulai pengurus klub Persija, pakar perkotaan, sejarawan, aktivis lingkungan, dan warga setempat. DKI dianggap merusak cagar budaya serta melanggar peruntukan ruang terbuka hijau.

Taman ini dulunya memang merupakan Stadion Persija yang menjadi salah satu kebanggaan warga Jakarta. Keberadaan stadion ini juga mempunyai sejarah tersendiri. Nyatanya, pemda tetap menggarap proyek yang meludeskan dana sekitar Rp 30 miliar. DKI berharap Taman Menteng bakal menjadi Monas kedua bagi warga Jakarta.

Selain fasilitas bangku taman dan lapangan sepakbola, Taman Menteng juga menyediakan tempat parkir yang terbuka untuk umum. Tidak hanya pengunjung taman yang dapat memarkirkan kendaraannya, tapi juga orang-orang kantor yang bekerja di sekitar taman, serta pengunjung hotel yang letaknya tepat di samping Taman Menteng. “Ke depan, kami akan berupaya terus memperbesar ruang hijau,” ujar Sarwo.

Dalam hitungan Sarwo, ruang terbuka hijau terluas saat ini adalah hutan kota Universitas Indonesia (UI), dengan luas 100 hektare. Hutan kota UI kini menjadi tempat rekreasi alam yang menyenangkan. Selain memiliki jogging track sepanjang 2,5 km, hutan kota UI ini juga dilengkapi enam danau buatan.

Agar biaya pembangunan kawasan hijau ini tak membebani anggarannya, pemda dan pemkot akan terus menggandeng pengembang membangun taman-taman itu. Bagi pengembang ini juga menguntungkan, sebab keberadaan taman kota bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi properti-properti yang mereka jajakan.

+++++
Warga Jakarta Makin Mendamba Taman Kota

Impian Jakarta punya ruang terbuka hijau yang luas memang masih jauh dari fakta. Tapi, kita bisa berharap, kelak kota ini hijau dengan tumbuhan merimbun di banyak tempat. Jakarta boleh mencontek dari banyak negara maju. Mereka kini sadar betul kalau kemajuan sebuah negara tak melulu disimbolkan dengan tingginya gedung pencakar langit dan kemajuan angkutan publik yang tertata rapi. Tapi, juga bisa lewat banyaknya ruang terbuka hijau di dalam sebuah kota.

Sekali waktu jika berpelesiran ke negara-negara Eropa, pastikan Anda berjalan kaki sembari menikmati udara segar di dalam kota. Di Amsterdam, misalnya, trotoar di sepanjang jalan enak disusuri karena rindang dan adem. Bahkan, para pejalan kaki yang mencoba menyusuri sepanjang kanal di kota itu juga masih bisa menjumpai aneka burung yang terbang bebas di sekitar trotoar dan kanal.

Pemerintah setempat sengaja menanam pohon berlapis-lapis dan memberikan ruang yang cukup lega bagi pejalan kaki.

Begitu juga Venezia, kota air di Italia yang menghadap Laut Adriatika. Di kota ini kita bisa berlarian kecil di pagi hari di sepanjang Canal Grande dan melintasi Ponte Di Rialto yang segar. Kita bakal bisa sekaligus berkejaran dengan burung-burung dara. Meski tak ada jogging track yang sengaja dibikin di kota yang tenggelam 6 sentimeter setiap 10 tahun sekali ini, pengunjung bebas menghirup udara segar. Kalau mau, Anda bisa sangat leluasa berlarian di sepanjang gang-gang kecil.

Di Jerman banyak taman dan kebun terbuka untuk umum. Ada taman bergaya Baroque, gedung memelihara pohon sitrus dan taman mawar. Ada yang berciri khas, seperti Furstenlager di daerah Bergstrasse atau taman spektakuler seperti Schlosspark di Schwetzingen.

Memang, kurang adil jika membandingkan Jakarta yang sesak hutan beton dengan kota-kota di belahan Eropa yang sangat lega. Tapi, mimpi untuk memiliki hutan kota atau ruang terbuka hijau bukanlah tidak mungkin, kan?

Di taman kota, masyarakat yang ingin menghabiskan sore tak harus berebut lahan dengan penjual gorengan, tanaman, maupun pedagang teh botol. Belum lagi kalau ada copet yang mengincar dompet mereka.

Jika populasi Kota Jakarta kian menyesak dan lahan ruang terbuka makin kritis, pemerintah daerah mutlak membangun taman kota, area joging dan hutan kota yang mampu mengurangi polusi di Ibukota. Atau, hal yang lebih sederhana lagi, soal trotoar kota.

Trotoar Jakarta sungguh memelas karena harus berbagi dengan para pengendara sepeda motor yang suka balapan di situ. Di kawasan Senayan, areal pejalan kaki bahkan direbut tuntas oleh para penjual kembang.

Padahal, di Roma, trotoar di kota itu berfungsi sebagai rantai sehingga hampir seluruh penjuru kota itu tersambung trotoar. Trotoar di Roma cukup mini, hanya satu setengah meter saja lebarnya. Tapi, dari trotoar itu pejalan kaki bisa mencermati setiap detail bangunan yang usianya mencapai ribuan tahun.

Mimpi indah seperti ini kini milik banyak orang di Jakarta dan sekitarnya. Harapannya, Gubernur DKI bisa mewujudkannya.


8 Responses to “Membangun Hutan Kota di Tengah Hutan Beton”


  1. April 14, 2008 at 11:14 am

    taman bisa menghijau bila ada sponsornya. ironi memang. tapi bila berpangku tangan pada pemerintah kota yang kacau balau… ya baguslah.

  2. 2 cyn
    April 25, 2008 at 2:34 pm

    bener banget fe, abis dari jakarta pasti gw ga enak badan… pengep banget udaranya😦

  3. May 27, 2008 at 3:09 pm

    jakarta udah gak bisa di apa2in lagi, tinggal jadi sincity, bagusnya buat ibukota baru jadi 20 tahun lagi bisa dipake, jangan kalah sama malay……….

  4. May 29, 2008 at 12:34 pm

    Kalo sudah tidak bisa membuat taman kota mungkin setiap rumah penduduk harus punya minimal 10 tanaman baik itu dalam pot atau yang ditaman. pasti Jakarta bisa hijau🙂

  5. June 3, 2008 at 12:59 pm

    seharusnya kita lebih ramah pada alam
    seharusnya kita berbagi degan tumbuhan

  6. June 9, 2008 at 7:31 pm

    senang mampir disini….

    Barter banner yuk, “Banner Exchange”
    Buat blogger lainnya juga boleh ikut.
    Berikut infonya : http://www.resep.web.id/kirim-resep/banner-exchange

  7. 7 aeyi
    May 2, 2009 at 12:58 pm

    jakarta kpn tdk padat?
    tambah hutan kota dong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Archives

Flickr Photos

Chin Scratching Short-eared Owl

Making A Splash

Chouette épervière -  Northern hawk owl - Surnia ulula

Trillium Lake Alpine Glow

Pierless

A Candlelight Dinner

friend and foe

Ice Age Arrows.

More Photos

%d bloggers like this: