11
Apr
08

meriahnya valas non US$

Siapa bilang, semua orang Indonesia miskin? Lihat saja mobil-mobil keluaran terbaru dari merek-merek terkenal yang berseliweran di jalan-jalan. Lihat pula maraknya pembangunan apartemen mewah yang rata-rata laris manis di pasaran. Ini menunjukkan, ada cukup banyak orang kaya di Indonesia.

Pasar orang kaya inilah yang kini menjadi incaran perbankan. Untuk meladeni mereka, perbankan pun terus menciptakan dan mengkreasikan berbagai produk dan layanan baru. Salah satunya yang lagi marak adalah berbagai produk bermata uang asing atau valuta asing (valas) non-dolar Amerika Serikat (AS).

Veronique Kadharusman, Vice President Segment Marketing Citibank, menganalisis, bank banyak menebar produk deposito valas non-dolar AS lantaran prospek dan minat masyarakat yang makin gede atas simpanan valas selain dolar AS. “Terlebih dalam kondisi gejolak pasar sekarang ini,” ujar Veronique.

Akibat krisis di pasar keuangan yang disusul terus melorotnya suku bunga Amerika serikat (AS) maka kurs dolar AS pun belakangan terus terseret turun. Nah, kaum the have umumnya mencermati betul pergerakan valas itu, dan paham keuntungan apa yang bisa mereka petik dari situ. Seiring melemahnya dolar AS, mereka mencium potensi kekuatan euro ke depan, hingga otot yen Jepang yang terus kelihatan. Wajar bila di keranjang portofolio mereka kini banyak mengeram euro, yen; atau ada juga valas non-dolar AS lainnya, seperti dolar Singapura, Hongkong, Australia, hingga dolar Selandia baru.

Enaknya lagi, nasabah tajir itu tak perlu pusing menempatkan valas non-dolar mereka. Sebab, kini perbankan menyediakan beragam produk valas non-dolar AS. Ada produk deposito, ada juga simpanan berbalut investasi.

Anda berminat? Tak usah keburu keder lantaran Anda merasa nasabah kecil. Sebab, tak semua bank mematok simpanan minimal ratusan juta atau miliaran rupiah seperti dulu. Kini beberapa bank juga siap menampung “recehan” valas non-dolar AS milik Anda. Berikut beberapa pilihannya:

Amanah Term Investment (HSBC Amanah Syariah) Bagi Anda yang bermodal pas-pasan, tawaran produk anyar dari HSBC Amanah Syariah yang bernama Amanah Term Investment bisa jadi salah satu pilihan. Ini adalah deposito berjangka yang menerima valas non-dolar, seperti euro, dolar Australia (AUD), dan dolar Selandia Baru (NZD). Setoran awalnya lumayan kecil, yakni minimal 400 euro, AUD 650, dan NZD 750 (lihat tabel).

Kepala HSBC Amanah Syariah Mahmoud Abushamma menjamin, produk ini memberikan bagi hasil yang kompetitif. Lantaran berdasar syariah, maka HSBC Amanah menggunakan sistem mudharabah atau bagi hasil. Pembagiannya (nisbah) 55% untuk nasabah, dan sisanya untuk bank. Besarnya suku bunga bertingkat setiap satu bulan, 3 bulan dan 6 bulan, antara 2,23% untuk mata uang euro hingga 5,15% untuk NZD.

Adapun pilihan jangka waktunya adalah satu bulan hingga enam bulan. Bila nasabah menarik dana sebelum jatuh tempo, HSBC Amanah akan mengutip penalti sebesar 1% atas. Oh, ya, jika nasabah HSBC Amanah tak mau kena ongkos administrasi, dia harus mempertahankan saldo total di rekening maupun deposito minimal Rp 20 juta. Jika saldo di bawah itu, nasabah harus membayar biaya administrasi Rp 100.000 per bulan.

Deposito Berjangka Valas ?(Bank NISP) Bank NISP sudah jauh-jauh hari menyediakan pilihan simpanan berjangka valas non-dolar AS. “Meskipun pasarnya kecil, tapi kami tetap menawarkan produk ini pada nasabah sejak dulu,” ujar Rudy Hamdani, Direktur Perbankan Konsumen NISP. Bank bekas milik Keluarga Surjaudaja ini memiliki deposito dalam mata uang dolar Hongkong (HKD), yen Jepang (JPY), euro, dan dolar Singapura (SGD).

Setor-an minimalnya beragam. Misalnya, SGD 1.000, € 2.500, JPY 100.000, dan HKD 10.000. Pilihan jangka waktunya beragam dari satu bulan hingga 24 bulan. Sudah begitu, deposito valas NISP ini bukan hanya untuk nasabah perorangan, tetapi juga untuk perusahaan swasta, pemerintah, maupun organisasi.

Syaratnya mudah. Nasabah perorangan cukup membawa identitas diri dan Nomor Pokok Wajib Pajak. Untuk badan usaha swasta wajib menyertakan akta pendirian plus bukti identitas pengurus. Sedangkan untuk instansi pelat merah kudu membawa surat penunjukan yang sah untuk membuka deposito. Soal suku bunga untuk deposito valas, NISP memberi bunga bervariasi. Yang paling rendah adalah 0% untuk yen, hingga yang tertinggi 3% untuk simpanan euro. Sejauh ini, deposito euro dan dolar Singapura merupakan favorit bagi nasabah NISP. 

Citibank Super Switch Valas (Citibank) Citibank menawarkan deposito dalam dolar Australia, dolar Selandia Baru, euro, dolar Kanada, ponsterling, dan yen. Deposito di bank ini tak sekadar deposito biasa saja. Juga ada produk yang sudah dipoles kanan kiri. Namanya Citibank Super Switch. “Produk Citibank Super Switch ini memberi keleluasaan kepada nasabah melakukan peralihan mata uang sesuai kebutuhan nasabah selama jangka waktu deposito,” kata Veronique.

Nasabah Super Switch bisa beralih ke berbagai pilihan mata uang sesuai keinginannya. Pengalihan ini bisa dilakukan maksimal satu kali dalam satu hari, selama hari kerja melalui kantor Citibank, atau Citiphone banking 24 jam, sepanjang jangka waktu deposito. Namun, untuk masuk ke produk ini, Citibank mensyaratkan nasabah harus menyetor minimal US$ 10.000 atau ekuivalen. Namun, pilihan jangka waktunya hanya satu hingga enam bulan. Sudah begitu, Citibank juga membatasi tawaran produk ini untuk nasabah perorangan saja.

“Setiap nasabah yang memiliki rekening bank Citibank dapat membuka Citibank Super Switch Deposit,” ujar Veronique. Besar bunganya berbeda-beda, tergantung mata uang. Untuk mata uang yen, Citibank memberikan bunga 0,1%, flat untuk jangka waktu satu bulan hingga enam bulan. Adapun bunga tertinggi diberikan kepada simpanan dalam NZD, yakni sebesar 5%.

Premium Currency Deposit (Standard Chartered) Standard Chartered Bank (Stanchart) menawarkan produk simpanan dalam beberapa valas non- dolar AS, seperti euro, dolar Australia, dolar Selandia Baru, ponsterling, dolar Singapura, dan dolar Hongkong. Tapi, yang jadi favorit adalah dolar Australia. Setoran awal minimal untuk deposito valas non-dolar di bank asal Inggris ini sebesar US$ 3.000 atau ekuivalen.

Selain deposito biasa, Stanchart juga menawarkan deposito plus transaksi derivatif. “Nasabah yang sudah update dengan instrumen investasi akan mencoba produk Premium Currency Deposit (PCD),” kata Wang Wardhana, Head of CB Treasury Sales Consumer Banking Stanchart. Untuk masuk ke PCD, nasabah harus mencemplungkan duitnya minimal US$ 20.000 atau ekuivalen. PCD merupakan produk multicurrency account.

Nasabah harus memilih dua mata uang dan menebak arah pergerakan kursnya. Lewat produk ini, si nasabah melakukan transaksi derivatif valas, yakni put option dan call option. Put option adalah transaksi dalam posisi nasabah akan menjual suatu mata uang pada kurs yang ditetapkan. Adapun call option adalah transaksi dalam posisi nasabah akan membeli suatu mata uang pada kurs yang sudah ditetapkan sebelumnya. Bila tebakan si nasabah benar, dia akan mengeduk keuntungan yang jauh lebih besar dari deposito dolar biasa. PCD menjanjikan keuntungan hingga 30% per tahun.

Tapi, bila tebakan kurs si nasabah salah, dia akan rugi, bahkan pokok depositonya bisa terkikis. Imbal hasil PCD milik Stanchart mencapai 30%. “Untuk bunga deposito konvensional,” elak Wang. Yang jelas, “Pertumbuhan nasabah yang beralih dari deposito konvensional ke PCD cukup tinggi,” imbuhnya. Ini berkat gelaran wealth session yang sering diadakan Stanchart untuk nasabah-nasabah kaya di banknya.

M. Ikhsan, perencana keuangan Prime Planner Family, bilang bahwa investasi di deposito dalam mata uang asing memang menarik. “Melihat gejolak nilai mata uang lokal, mata uang asing bisa menjadi penahan risiko,” katanya. Pasalnya, mata uang asing umumnya lebih stabil. Namun, tentu saja, nasabah juga harus menyesuaikan dengan kebutuhannya.

Mengingat tingginya risiko bermain valas, khususnya produk yang menggabungkan simpanan dengan derivatif, maka produk ini memang bukan untuk semua orang. Koleksilah mata uang asing lantaran Anda memang membutuhkannya. Dengan begitu, mereka tak rugi kurs pada saat membutuhkan. “Misalnya saja, mereka ada rencana ke Australia, maka mereka punya simpanan,” ujar M. Ikhsan. Atau, mereka punya anak yang sekolah di sana.

Semakin beragamnya pilihan valas menunjukkan bank semakin peka dengan kebutuhan nasabah. “Kalau dulu rujukannya selalu dolar Amerika, sekarang rujukannya sesuai kebutuhan tujuan investasi itu sendiri,” kata Ikhsan. Untuk bisnis di Asia, mata uang dolar Singapura tentunya menjadi pilihan yang layak dipertimbangkan di samping yen Jepang maupun dolar Hong Kong. Jika berniat untuk menyekolahkan anak di luar negeri, dolar Australia kini sama bagusnya dengan euro.

Nah, berapa lama baiknya duit ini terbenam dalam keranjang ini? Pilihannya mulai dari 1 bulan hingga 24 bulan. Adapun kalau mata uang cukup stabil, jangka pendek bisa menjadi pilihan. Sebaliknya, jika nilai tukar tengah naik turun dan tak stabil, “Jangka panjang jauh lebih bagus untuk skema deposito valas non- dolar Amerika ini,” tegas Ikhsan.

Jadi, valas mana yang menjadi pilihan Anda? o


0 Responses to “meriahnya valas non US$”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


April 2008
M T W T F S S
« Mar   May »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Archives

Flickr Photos

Chin Scratching Short-eared Owl

Making A Splash

Chouette épervière -  Northern hawk owl - Surnia ulula

Trillium Lake Alpine Glow

Pierless

A Candlelight Dinner

friend and foe

Ice Age Arrows.

More Photos

%d bloggers like this: