11
Apr
08

mulai pasang kuda-kuda hadapi lonjakan inflasi

Bulan Mei 2008, harga mobil bakal naik.

Sejumlah agen tunggal pemegang merek (ATPM) roda empat di Indonesia telah memastikan kenaikan harga jual produknya itu. Sebut saja PT Krama Yudha Tiga Berlian, ATPM Mitsubishi, yang akan menaikkan harga antara 2%–3%. Ini setara dengan Rp 2 juta-Rp 8 juta per unit. Begitu pula PT Toyota Astra Motor. Mereka memang belum mengumumkan persentase kenaikan harga kendaraan mereka. Tapi kenaikan harga jual sekitar Rp 1 juta-Rp 2 juta per unit sudah mencuat sebagai early warning bagi konsumen.

Kenaikan harga ini seharusnya tak mengejutkan lagi. Sebab, sejak akhir tahun 2007 para produsen dan penjual mobil sudah mewanti-wanti kemungkinan kenaikan harga yang tak terelakkan. Pemicunya apa lagi kalau bukan kenaikan harga minyak bumi, yang telah mengerek harga berbagai komoditas lain. Menurut taksiran para produsen mobil, kenaikan harga minyak bumi telah mengerek naik ongkos produksi komponen kendaraan 40%. Dus, ini membuat ongkos produksi kendaraan menggelembung sekitar 15%-20%.

Sudah barang tentu, rencana sejumlah ATPM menaikkan harga bakal menyerempet bisnis pembiayaan atau multifinance. Maklumlah, kuat lemasnya denyut bisnis mereka bergantung pada pasar kendaraan. Maka, kenaikan harga jual kendaraan bermotor itu membikin perusahaan pembiayaan mulai pasang kuda-kuda. Namun, perusahaan pembiayaan tetap optimistis bisa menyalurkan kredit lebih besar tahun ini. Menurut data Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), target kucuran kredit lembaga pembiayaan tahun 2008 ini mencapai Rp 140 triliun.

Salah satu pemicu optimisme ini adalah pesatnya pertumbuhan pasar kendaraan bermotor, khususnya sepeda motor di daerah. Maklum, banyak orang daerah kecipratan rezeki dari melejitnya harga komoditas di pasar dunia. Mereka inilah yang kemudian membeli kendaraan bermotor.

Suhartono, Wakil Presiden Direktur PT Federal International Finance (FIF), bilang bisnis pembiayaan kini banyak bergantung pada pasar luar Jawa. Sebab, setahun belakangan ini, pasar di sana terus meningkat. Di FIF, misalnya, penjualan di luar Pulau Jawa meningkat 20%; sementara penjualan di Jawa hanya naik 5%.

Sebetulnya, harga sepeda motor, misalnya, sudah naik hingga Rp 500.000 per unit. Toh, sejauh ini penjualan motor di daerah tetap tinggi. “Pengaruh kenaikan ini nyatanya tak terlalu signifikan dalam bisnis kami,” ujar Herman Setya Budi, Direktur Finansia multifinance. Tentu saja rencana kenaikan harga mobil bulan depan membuat perusahaan multifinance mengalkulasi ulang bisnis mereka. Tujuannya, mengetahui apakah perlu merevisi target guyuran kredit atau tidak. Hasilnya, mereka tetap pada target kredit semula.

“Kalau sistem pembayarannya diangsur, kenaikan harga kendaraan pasti tidak terasa,” kata Sigit Sembodo. Direktur Busan Auto Finance. Perusahaan ini berencana akan mengucurkan kredit sebesar Rp 7 triliun tahun ini. Pendapat serupa datang dari Adira. “Kalau kenaikan harganya 1%, rasanya masih terjangkau oleh pasar,” ujar Hafid Hadeli, Chief Financial Officer Adira Dinamika multifinance. Makanya, Adira tak merevisi target kreditnya yakni Rp 12,5 triliun, naik 16,19% dari penyaluran kredit tahun lalu yang sebesar Rp 10,8 triliun. Adira membagi kue kredit itu beberapa bagian. Sebesar 65% untuk kredit motor baru, 10% untuk motor bekas, dan sisanya untuk kredit mobil baru dan bekas.

Begitu pula PT Federal International Finance atau FIF juga belum akan melandaikan target bisnisnya. Persis seperti Adira, perusahaan ini menargetkan akan menyalurkan kredit sebesar Rp 12,5 triliun sepanjang tahun ini. Hitungan persisnya, Rp 10 triliun untuk kredit pembelian motor sebanyak 925.000 unit. Sisanya untuk pembiayaan motor bekas sebanyak 280.000 motor bekas dan barang elektronik.

Sedikit lebih kecil, PT Mandala multifinance Tbk berniat menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 2,2 triliun tahun ini. Dibandingkan dengan tahun lalu, target kucuran ini lebih besar 30%. Begitu pula PT Tunas Financindo Sarana yang berencana mengucurkan pembiayaan Rp 2,4 triliun. Dibandingkan dengan pembiayaan kendaraan anyar, perusahaan yang mayoritas sahamnya dimiliki PT Tunas Ridean Tbk ini lebih gemuk di bisnis kendaraan pribadi maupun komersial. Besarannya sekitar 50%. Sisanya masing-masing untuk kredit mobil baru sebesar 40%, dan untuk sepeda motor sebesar 10%.

PT Saseka Gelora Finance, yang kini ganti nama menjadi Niaga Finance, bersiap memberikan kredit sebesar Rp 1,2 triliun tahun ini. Duit sebanyak itu mereka bagi dua. “Untuk pembiayaan konsumen mencapai Rp 1 triliun dan untuk kredit penyewaan peralatan berat sekitar Rp 200 miliar,” papar Direktur Utama Niaga Finance Budi Wasito.

Tak kalah optimistis, PT Wahana Ottomitra Multiartha Finance Tbk alias WOM Finance menargetkan ekspansi kredit baru Rp 5,5 triliun di tahun ini, naik dari tahun lalu yang sebesar Rp 4,82 triliun. Perusahaan pembiayaan yang telah diakuisisi BII ini mendapat sokongan dana sebesar 75% dari BII. Sisanya bakal mereka peroleh dari pinjaman bank lain dan dari dana internal.

Jika kenaikan harga mobil tidak membuat multifinance risau, berbeda jauh dengan angka inflasi yang mulai merangkak naik. Seperti kita tahu, bulan Maret lalu inflasi bulanan meroket 0,85%. Sementara itu, inflasi tahunan naik menjadi 8,17%. Tak urung ini membikin perusahaan pembiayaan memasang mata lebih tajam. “Ini bisa menjadi early warning,” seru Suhartono.

Bank Indonesia memang masih menahan BI rate tetap di angka 8%. Tapi, bila inflasi terus menggila, bukan mustahil bagi bank sentral mengerek suku bunga. Makanya, multifinance memilih untuk bersiap menghadapi tekanan-tekanan yang tengah terjadi saat ini. Termasuk, untuk menaikkan suku bunga kreditnya.

Kini, perusahaan pembiayaan tengah wait and see alias menunggu perkembangan inflasi dan respons pasar atas kenaikan inflasi. “Tiga bulan pertama ini untuk penjajakanlah,” timpal Budi. Namun, sejauh ini, mereka merasa belum perlu mengubah besaran bunga pinjaman dan target kucuran kreditnya. “Kalau kenaikan inflasi mencapai 10%, itu baru berpengaruh,” hitung Hafid. Menurut hitungan Herman, pada semester pertama ini, dampak kenaikan inflasi belum terasa bagi bisnis mereka. “Kalau penjualan secara nasional turun, baru kami akan koreksi,” tegasnya.

Begitu pula Busan yang sumber dananya dari pinjaman bank juga masih menunggu pasar untuk merevisi pembiayaannya. “Sampai saat ini belum ada rencana revisi, kami berupaya hati-hati dan tetap optimis,” kata Sigit. Makanya, Busan juga belum akan mengotak-atik bunga pinjaman 18%-21%. Saat ini, bunga pinjaman di multifinance masih tinggi. Untuk kredit motor rata-rata 30% per tahun, dan untuk kredit mobil sekitar 18% per tahun. Bunga segitu sudah mencerminkan antisipasi multifinance menangkis serangan kredit macet. Apalagi, mereka memprediksi, bank yang selama ini memberikan pinjaman pada mereka juga akan menahan laju turunnya bunga kredit.

Tak ayal, multifinance yang sebelumnya ramai dengan kemungkinan penurunan bunga kini berbalik arah. Ah, mereka kini tengah pasang kuda-kuda menaikkan bunga. o


0 Responses to “mulai pasang kuda-kuda hadapi lonjakan inflasi”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


April 2008
M T W T F S S
« Mar   May »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Archives

Flickr Photos

Chin Scratching Short-eared Owl

Making A Splash

Chouette épervière -  Northern hawk owl - Surnia ulula

Trillium Lake Alpine Glow

Pierless

A Candlelight Dinner

friend and foe

Ice Age Arrows.

More Photos

%d bloggers like this: