18
Apr
08

jurus si bule merangkul kelas dua

Pasar keuangan dunia boleh saja guncang, dan ekonomi global terancam resesi, namun bisnis harus jalan terus.

Makanya, selain rajin membanjiri nasabah individual dengan sejumlah produk, bank juga terus menggeber layanan buat nasabah bisnis. Khususnya, mereka yang tergabung dalam barisan pengusaha kecil dan menengah atau small medium enterprises (SME). Salah satu produk paling gres yang digelontorkan bank untuk merengkuh nasabah kelas dua ini adalah rekening usaha.

Rekening usaha adalah rekening koran yang diperuntukkan khusus bagi nasabah bisnis demi meningkatkan kinerja usahanya. Selama ini banyak pengusaha UKM menggunakan rekening individual untuk usahanya. Nah, dengan adanya produk baru ini, si pengusaha bisa menggunakan rekening atas nama usahanya.

Adalah HSBC yang awal April ini meluncurkan rekening usaha yang dia beri nama Business Vantage. “Kami ingin mendukung usaha kecil dan menengah dengan memberikan produk yang efektif dan efisien bagi pengusaha,” ujar Andre S. Sudjono, Senior VP Business Banking HSBC berpromosi. Bukan HSBC saja yang melirik ceruk pasar ini. Jauh sebelumnya, Standard Chartered Bank (Stanchart) dan Citibank NA sudah menawarkan produk serupa.

Tujuan mereka jelas, yaitu membidik nasabah eksis yang memiliki unit usaha kecil untuk memindahkan rekeningnya ke rekening khusus bisnis. Lebih dari itu, juga untuk menggaet pebisnis anyar menggudangkan duitnya di rekening ini. Untuk pengusaha kecil dan menengah Citibank punya layanan bernama CitiBusiness.

 “CitiBusiness ini juga masih baru, umurnya belum genap setahun,” papar Wati Tatang, Director Head of CitiBusiness, Head of Consumer Finance Citibank NA. Adapun Standard Chartered menjagokan Business Saver untuk pengusaha kecil dan menengahnya sejak tahun 2003. Produk lain yang menjawab kebutuhan SME adalah International Trade yang menggabungkan rekening koran dengan fasilitas perdagangan internasional.

Tentu saja, baik HSBC, Citibank, maupun Stanchart beramai-ramai masuk ke ceruk ini bukanlah tanpa sebab. Apalagi ketiganya adalah bank global yang daya jangkaunya melebihi bank lokal. “Asal tahu saja, SME ini merupakan tulang punggung ekonomi Indonesia,” kata Tonny Timor Basry, GM SME Banking Standard Chartered Bank. Hitungan Wati, jumlah SME yang ada di Indonesia cukup besar, sekitar 45 juta. Sudah bisa dipastikan, ini adalah ceruk yang gurih bagi perbankan untuk meraup dana pihak ketiga dan menggelontorkan kredit usaha.

Selain ceruk yang masih potensial untuk digarap, alasan lain bank kian memantapkan bisnis SME adalah ukuran bisnis milik pengusaha kecil dan menengah yang terbatas. Ciutnya skala bisnis inilah yang membikin mereka sulit mendapatkan akses untuk menikmati layanan terbaik. “Karenanya, kami berupaya mendorong pertumbuhan para pengusaha kecil dan menengah,” kata Steven K. Miller, Head of SME HSBC Indonesia.

Dengan potensi pasar yang sebagus itu, tak perlu heran bila bank-bank asing ini tidak hanya memanjakan nasabah premiumnya doang. Nasabah kelas dua pun tetap mereka suguhi berbagai fasilitas dan kemudahan. Untuk itu, mereka serius berinvestasi mulai dari sistem yang mapan, menyokong nasabah dengan menghadirkan relationship manager (RM), hingga meluncurkan produk yang sesuai dengan kebutuhan nasabah.

Yang paling menarik adalah hadirnya layanan RM. Relationship manager ini tidak sekadar memberikan pinjaman, tapi mereka juga memberikan konsultasi untuk membantu dan menyelesaikan persoalan perusahaan nasabah, terutama dalam hal keuangan. Melalui RM pula bank-bank berkelas global ini akan memberi informasi tentang pasar ekspor dan prosedurnya.

Jika perusahaan sudah dianggap mampu melakukan ekspor, bank bule ini berharap transaksi yang mereka lakukan akan menggelembung. Kalau sudah membesar, maka transaksi lintas negara pun tak lagi sulit dilakukan pengusaha UKM ini. Apalagi salah satu kelebihan bank asing adalah jaringan mereka yang tersebar di seluruh dunia. “Di Stanchart, konsep kami adalah menjadi mitra yang tepat, sehingga Stanchart dan pengusaha bisa bertumbuh bersama sebagai partner,” kata Tonny.

Meskipun bank-bank lokal sudah lebih dulu berebutan menggarap pasar UKM ini, namun lantaran yakin pasarnya masih begitu besar, maka bank-bank asing ini tak gentar. Mereka terus menjaring nasabah agar volumenya semakin besar.

Sayang, ketiga bank itu enggan membeberkan jumlah nasabah yang mereka kantongi. Ketiganya cuma memberi sinyal, jumlah nasabah SME yang berhasil mereka rangkul saat ini lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya. Meningkatnya nasabah SME ini rupanya tak lepas dari promosi dari mulut ke mulut oleh nasabah lama. Melihat perkembangan positif itu, mulai tahun ini Stanchart akan lebih agresif memburu pengusaha UKM. “Kami akan bikin tim khusus mengakuisisi nasabah baru,” kata Tonny, optimistis.

Tapi, bank juga tak asal menjaring pelanggan. Yang mereka cari adalah nasabah yang aktif bertransaksi. “Volume nasabah yang besar tak akan ada artinya kalau nasabahnya adalah nasabah yang transaksinya pasif,” kata Tonny. Di balik agresifnya bank-bank asing ini menjaring nasabah rekening usaha itu, ada tujuan lain yang ingin mereka gapai.

Bagi bank, rekening usaha merupakan batu loncatan produk SME lainnya seperti kredit usaha. Singkatnya, semakin banyak nasabah rekening usahanya, semakin besar pula peluang meraka mengucurkan kredit usaha di segmen itu. Itu sebabnya, untuk memikat pengusaha UKM menjadi nasabah rekening usaha, bank-bank berlomba-lomba meramu berbagai layanan dan iming-iming.

Contohnya, Business Vantage milik HSBC memberikan tarif spesial untuk beragam transaksi perbankan, diskon untuk produk asuransi, gratis buku cek, hingga fasilitas pemesanan perjalanan. Business Vantage ini merupakan rekening dengan nilai minimal Rp 100 juta. Dana ini bukan rupiah semuanya, lo, tapi lima mata uang dunia dengan nilai masing-masing Rp 20 juta per rekening.

“Kami juga memberikan fasilitas transfer gratis untuk mata uang rupiah,” kata Andre. Lain lagi Business Saver. Produk milik Stanchart ini menjanjikan biaya transaksi yang lebih ringan. Saldo pembukaan minimumnya hanya sebesar Rp 50 juta. Bahkan, Stancart juga menjanjikan imbal hasil hingga 5% jika dana yang diendapkan mencapai Rp 2,5 miliar.

Berbeda dari kedua produk itu, CitiBusiness dari Citibank tak menjanjikan apa pun bagi nasabahnya. Hanya saja, aplikasi nasabah dijamin melewati proses lebih cepat ketimbang di bank lain. Setidaknya, omzet bisnis nasabah sebesar Rp 100 miliar. “Tidak ada iming-iming di Citibank soalnya bisnis ini adalah bisnis relationship,” kata Wati.

Dengan berbagai layanan dan kemudahan itu, bank-bank asing ini berharap nasabah rekening usaha sudi pula menjumput kredit usaha yang mereka tawarkan. Namun, bicara soal penyaluran kredit bank tetap menyeleksi nasabah yang layak mendapat kucuran dana. Walau tak menjadikannya sebagai persyaratan, umumnya bank lebih menyukai pengusaha UKM yang bergerak di bidang trading dan manufaktur.

Bank memang tak bisa sembarangan memutarkan duitnya. Tetap ada risiko yang harus mereka perhitungkan. Meskipun sebetulnya para bankir menilai risiko kredit UKM ini terbilang kecil. “Nasabah SME itu beda dengan nasabah individual. Karena penggunaan pinjaman itu untuk usaha, biasanya pengusaha jauh lebih berhati-hati dan sangat perhitungan jika ingin mengambil pinjaman,” ujar Wati.

Dia mencatat, kucuran kredit untuk SME saat krisis ekonomi sepuluh tahun silam hingga saat ini tetap mencatatkan kredit macet atau non performing loan (NPL) yang paling rendah. Sayangnya, semua bank asing itu enggan bicara blak-blakan soal perolehan dana simpanan dan gelontoran kredit dari usahanya terus menggaet SME. Namun, mereka kompak bilang, kalau potensi pasar ini sungguh mantap.

Nah, silakan berlomba menggemukkan pasar SME. o


0 Responses to “jurus si bule merangkul kelas dua”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


April 2008
M T W T F S S
« Mar   May »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Archives

Flickr Photos

Chin Scratching Short-eared Owl

Making A Splash

Chouette épervière -  Northern hawk owl - Surnia ulula

Trillium Lake Alpine Glow

Pierless

A Candlelight Dinner

friend and foe

Ice Age Arrows.

More Photos

%d bloggers like this: